kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Memanfaatkan konsultasi kesehatan via aplikasi


Sabtu, 30 November 2019 / 10:10 WIB
Memanfaatkan konsultasi kesehatan via aplikasi

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. pemeriksaan kesehatan adalah langkah penting untuk mengetahui gejala penyakit yang diderita seseorang. Tapi ada kalanya orang rada-rada malas untuk bertandang ke layanan kesehatan meskipun kondisi badan sedang tidak fit. Alasan lain, karena petugas kesehatan di suatu daerah tidak memadai.

Melihat kondisi tersebut, James Roring mengeluarkan aplikasi pemeriksaan kesehatan bernama Prixa tahun ini. Rorong melihat kebutuhan petugas kesehatan atau dokter di Indonesia masih terbilang  kurang. Karena satu dokter harus melayani 4.000 penduduk. Padahal standar dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO adalah setiap satu dokter maksimal untuk 1.000 penduduk.

Baca Juga: Anak usaha baru Kalbe Farma (KLBF) mengembangkan aplikasi distribusi produk kesehatan

Sementara ini, Prixa masih menampilkan layanan kesehatan di situsnya. Adapun sistem pemeriksaan kesehatan yang dilakukan aplikasi ini diklaim mirip dengan apa yang dilakukan oleh dokter. Dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelllegent (AI), Prixa bisa mengetahui gejala penyakit yang diderita oleh pengguna aplikasi ini.

Baca Juga: Mempertemukan saudara satu susu lewat aplikasi Lactashare

Dan fitur layanan pertama dari aplikasi ini adalah diagnosis pertama yang dirasakan oleh pasien atau pengguna. Misalnya saja pengguna mengalami sakit kepala. Maka Prixa akan meminta si pengguna untuk memasukkan identitas terlebih dahulu, seperti usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, keluhan hingga kurun waktu keluhan kesehatan yang dirasakan. Setelah itu ada sekitar 15 pertanyaan atau lebih yang mucul untuk mengetahui potensi diagnosa penyakit.

Dari gejala yang dimasukkan oleh pengguna, akan muncul empat kemungkinan penyakit yang terbagi lagi ke dalam kemungkinan tertinggi dan kemungkinan medium dari penyakit yang diderita.

Baca Juga: Mr. Jeff berencana hadirkan layanan gaya hidup lain di aplikasinya

Apabila setelah diagnosa tersebut ternyata gejala penyakitnya adalah ringan, maka diberi saran perawatan cukup di rumah saja.  Namun jika dirasa penyakit memerlukan pengobatan mendesak, sistem akan langsung menyarankan membeli obat-obatan yang aman yang dapat dibeli tanpa resep dokter.

Adapun pertanyaan yang diajukan Priza merupakan pertanyaan standar yang diajukan dokter kepada para pasien ketika memeriksanya.  
"Jadi Prixa ini membantu dokter dan memberikan diagnosa awal dari kemungkinan gejala yang dirasakan," kata Roring yang merangkap sebagai Chief Executive Officer Prixa kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Dengan kata lain Prixa membantu pasien menentukan apakah ia perlu dibawa ke rumah sakit atau tidak. Sejauh ini sudah ada kombinasi 600 penyakit dan 600 gejala yang ada di sistem Prixa. Nantinya, data-data terkait penyakit bakal terus dikembangkan di aplikasi tersebut. Tujuannya adalah untuk meminimalkan risiko diagnosa dan pengguna bisa memutuskan dengan tepat pilihannya.

Adapun target pengguna dari Prixa adalah pengguna dengan rentang usia 25 tahun sampai 45 tahun. Sayang, James tidak memprinci apakah nantinya Prixa bakal ada bentuk aplikasi mobile atau tidak. Yang jelas, dirinya ingin masyarakat gampang mendapatkan diagnosa penyakit lewat Prixa.

Apalagi start up ini masih terus berbenah diri. Sebab layanan yang ada tidak cuma soal mendeteksi penyakit saja, tapi juga pengguna bisa melakukan klaim digital ketika melakukan pengobatan di layanan kesehatan.

Menurut  Medical Advisor Prixa, Kafi Khaibar Lubis paling tidak dalam waktu dekat atau akhir tahun ini sistem tersebut dapat berjalan. Dan saat ini sudah ada 13 dokter yang tergabung dalam Prixa.

Terkait monetisasi, Prixa bakal bermitra dengan perusahaan asuransi dan penyedia jasa kesehatan. Nanti, pengguna bakal mendapat kemudahan dalam mengajukan klaim asuransi secara online. Saat ini ada tiga perusahaan asuransi yang bekerjasama dengan Prixa. Sayang, ia tidak bersedia menyebut identitas dari perusahaan tersebut.

Yang pasti, Prixa ini memakai konsep bisnis mulai dari business to business, hingga ke consumer. Untuk sementara James tidak merinci soal target bisnis yang dipatok dari start up layanan kesehatan ini.

Ia berdalih, aplikasi ini diciptakan tidak semata-mata untuk menciptakan monetisasi saja, tapi juga bisa dipakai oleh masyarakat banyak. "Kami ingin memberi dampak signifikan ke dunia kesehatan," ujarnya.   




TERBARU

×