kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Membungkus fulus dari suvenir tanaman


Kamis, 17 April 2014 / 13:04 WIB
Membungkus fulus dari suvenir tanaman

Reporter: Marantina, J. Ani Kristanti | Editor: Tri Adi

Maraknya kegiatan bercocok tanam yang dilakukan di rumah ini mengundang ide pemberian suvenir tanaman. Tak heran, di beberapa perhelatan, baik event yang diselenggarakan perusahaan atau sebuah pesta keluarga, memakai tanaman sebagai suvenir. Jenis tanaman yang dibagikan pun sangat beragam, mulai dari tanaman hias, sayur hingga bibit-bibit tanaman buah atau tanaman pelindung.

Minat yang semakin besar untuk memilih tanaman sebagai suvenir, menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Maklum, seiring dengan kondisi perekonomian yang bertumbuh, kian banyak acara yang digelar, baik yang bersifat korporasi atau pun perseorangan.

Tengok saja usaha Fathul Maki, pemilik Istana Alam Dewi Tara di Depok, Jawa Barat. Fathul yang sebelumnya terjun dalam usaha tanaman hias, melihat peluang berbisnis suvenir tanaman setelah mendapat pesanan Adenium berukuran mini dalam jumlah besar dari sebuah perusahaan. “Ternyata, mereka memesan Adenium itu untuk suvenir,” kata dia.

Padahal, pria yang merintis usaha tanaman hias sejak 2010 ini, mengemas Adenium mini ke dalam sebuah wadah mika secara tak sengaja. Lantaran terpuruk akibat harga Adenium  dan Anthurium merosot drastis, dia mengemas tanaman itu dalam tabung mika supaya terlihat menarik saat dijual. Ukuran pohon pun dibuat  kecil, hanya setinggi 15 cm.

Order pertama datang dengan jumlah 7.000 tanaman. Dia menjualnya dengan harga Rp 15.000 per pot. Alhasil, dari order itu, Fathul meraup omzet Rp 105 juta. Dia pun mengaku, order itu bisa mendatangkan laba lebih dari 50%, karena kemasan yang dipakai hanya plastik mika dan tali kur sebagai pita.

Tergiur dengan laba yang besar, Fathul pun fokus menggarap bisnis tanaman untuk suvenir. Dia menambahkan sejumlah tanaman lainnya, seperti sansiviera, pucuk merah, dan Melati. Kini, ada 13 jenis tanaman yang bisa menjadi pilihan suvenir. Harganya pun lebih beragam, mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per pot.

Demikian juga dengan kemasan. Jika dulu, dia hanya membungkus tanaman dengan plastik mika, kini Fathul sampai mengimpor pot keramik dari China sebagai kemasan. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 3.000 – Rp 4.000 per pot. “Di sini jarang yang jual dalam jumlah banyak, sementara saya bisa pesan hingga ribuan tiap bulan,” ujar dia.

Maklum, pesanan suvenir semakin kian ramai menghampiri Istana Alam. Kini, dalam sebulan, Fathul bisa mendapatkan order pembuatan suvenir tanaman hingga belasan ribu unit. Tak heran, dia bisa mendulang omzet berkisar Rp 300 juta sampai Rp 350 juta per bulan.

Setali tiga uang dengan Fathul, Janet Ulung Mandiri juga mengawali usaha suvenir tanaman setelah bergelut dalam bisnis tanaman hias. Dia pun berpendapat,usaha suvenir tanaman ini cukup potensial, karena tiap bulan, selalu ada orang atau institusi yang menggelar acara. “Jadi, tinggal bagaimana membuat suvenir tanaman menjadi pilihan bagi mereka yang punya acara,” ujar dia.

Pesanan pertama yang diterima Janet, berasal dari seorang temannya yang membutuhkan suvenir untuk pernikahan. “Saya langsung terpikir untuk membuat suvenir dari tanaman yang ada di kebun ayah,” kata anak pertama Rizal Djafareer, pemilik Rumah Bunga Rizal di Lembang, Bandung ini.

Dari situlah, lantas Janet membentuk divisi baru dalam bisnis keluarganya, yaitu menggarap suvenir tanaman. Pesanan pertama Janet berjumlah 600 tanaman kaktur. Dengan dibungkus plastik mika, setiap tanaman dibanderol dengan harga Rp 8.000.

Namun berbeda dengan Fathul yang membeli plastik mika dalam bentuk lembaran, Janet sudah membeli mika dalam bentuk tabung dengan diameter 8 cm dan tinggi 14 cm. Dia juga  menambah variasi kemasan, yang terbuat dari limbah kayu dan anyaman bambu. Ukurannya sama dengan kemasan dari plastik mika.

Sebelum diisi dengan tanaman, kemasan dilubangi dulu untuk saluran udara. Lalu, kemasan ditambahkan pita agar suvenir bisa dijinjing. Janet mengeluarkan biaya sekitar Rp 4.000 untuk tiap kemasan. Adapun modal untuk tanaman berkisar Rp 3.500 per pot.

Saat ini, Rumah Bunga Rizal menyediakan lebih dari 30 varian tanaman hias untuk suvenir. Jenisnya adalah kaktus, sansiviera dan succulent. Pemesanan harus disesuaikan dengan ketersediaan tanaman. Pasalnya, beberapa tanaman butuh waktu pengembangan cukup lama. Ambil contoh, kaktus tertentu baru bisa dijual setelah budi daya selama dua tahun.

Karena itu, Janet berpesan kepada pembeli untuk order suvenir dari jauh-jauh hari. Biasanya, pemesanan dilakukan dua hingga empat minggu sebelum acara berlangsung. Dari bisnis ini, Janet bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta saban bulan.


Tanaman harus siap

Apakah Anda tertarik menggeluti usaha ini? Satu modal yang harus dimiliki untuk menjadi pengusaha suvenir tanaman adalah kepedulian pada tanaman itu sendiri. Sebab, bukan hanya mendatangkan profit, pengusaha yang menggeluti bisnis ini juga punya misi untuk memberikan sumbangsih dalam menjaga lingkungan.

Setidaknya, misi inilah yang mendorong Astuti Rusmawarati dan I.G.A. NGR. Novianti Suryakasih terjun di bisnis suvenir tanaman. Kedua perempuan ini merintis usahanya sejak 2009 dengan brand Rumah Teduh.

Astuti bilang, suvenir tanaman mendatangkan banyak manfaat, baik bagi pembeli maupun penerima. Jika produk yang dibagikan berkualitas bagus, otomatis penyelenggara acara akan mendapat kesan baik. Selain menjadi kenangan, tanaman juga bisa dirawat dan menjadi penghias sudut-sudut rumah dan kantor.

Karena fungsinya untuk menghias, sebisa mungkin kemasan suvenir tanaman dibuat menarik. Astuti sengaja memilih tanaman hias mini sebagai suvenir. Ada beberapa kriteria yang ia tetapkan. Dari segi ukuran, tanaman harus berdiameter sekitar 9 cm dengan tinggi 10 cm. “Tanaman tidak harus lebar, tapi terlihat rimbun,” jelas dia.

Untuk kemasan, Astuti memakai pot tanah liat, pot keramik dan plastik mika.  Berbagai kemasan itu kemudian masih mendapat sentuhan hiasan. Misalnya pot plastik, ditempeli ornamen dari pasir halus atau kasar. Plastik mika pun ditambah pita atau tali serat bambu sebagai pegangan.

Di samping kemasan, menurut Astuti, kesediaan tanaman pun harus diperhatikan. Berbeda dengan Fathul dan Janet yang sudah punya kebun sendiri, Astuti memasok tanaman dari para petani. Ia membina petani yang ada di Lembang, Parung, Bogor, dan kawasan puncak di Cisarua untuk memproduksi tanaman sesuai dengan kriterianya.

Lantas, jika ada pesanan, Astuti akan memberi panjar 50% pada para petani untuk menyiapkan tanaman. Selanjutnya, tanaman itu dikirimkan ke workshop di Pamulang yang memiliki luas 45 m2. Tempat itu bisa menampung sekitar 5.000 pot tanaman. Supaya tetap rapi, ia meletakkan tanaman itu dalam keranjang. Selanjutnya, karyawan akan mengemas tanaman sebelum dikirimkan.

Untuk mengurangi risiko, minimal seminggu sebelum pengiriman, tanaman sudah ada di workshop. Rumah Teduh memasarkan suvenir tanaman hias mini dengan kisaran harga Rp 13.000 – Rp 20.000 per pot. Selain itu, mereka menjual parsel tanaman. Produk ini mirip parcel biasa, tapi diisi dengan beberapa suvenir tanaman dengan kisaran harga Rp 60.000 – Rp 650.000 per pot.

Sama seperti pengusaha suvenir tanaman yang lain, pesanan yang datang ke Rumah Teduh bisa mencapai ribuan. Astuti bilang, bisa mengirim sekitar 6.900 pot dalam sebulan. Dari bisnis ini, dia bisa mengantongi laba hingga 30%.

Jika Anda tertarik menjajal bisnis serupa, Fathul punya beberapa tips. Yang paling penting, menurut Fathul, ketersediaan tanaman. Makanya, lebih baik jika pengusaha suvenir tanaman juga membudidayakan sendiri tanaman. Dengan demikian, ia bisa lebih mudah menyediakan tanaman untuk dijadikan suvenir.

Seluruh tanaman yang dijadikan suvenir di Istana Alam merupakan hasil budi daya sendiri. Meski tidak semua dijadikan suvenir, Fathul memisahkan tanaman suvenir dari tanaman lain. Lantaran, tanaman untuk suvenir harus dikondisikan sedemikian rupa, terutama penampilan maksimal. Pembeli akan senang jika melihat tanaman yang segar dan berwarna cerah sebagai suvenir.

Ukuran tanaman yang menjadi suvenir harus seragam. Ini tidak mudah. Pasalnya, setiap saat tanaman bertumbuh. Agar tinggi atau lebarnya seragam, pengusaha harus rajin-rajin memangkas (pruning) tanaman. “Seluruh tanaman dibuat tetap prima dengan ukuran yang sama,” tuturnya.

Selain pruning, Fathul pun menggunakan zat khusus untuk mengerdilkan tanaman. Ketika sudah mencapai tinggi yang diinginkan, yakni 15 cm–20 cm, ia menyebar zat tersebut pada tanaman. Bila hanya mengandalkan pemangkasan, akan butuh waktu lama. Sementara, tanaman harus siap sedia kalau-kalau ada yang pesan sebagai suvenir. Dengan zat tersebut, pertumbuhan tinggi tanaman akan terkontrol dan berlangsung lebih lama dari biasanya.

Siap menjajal usaha ini?    





TERBARU

×