kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Mencari peluang dari jajanan jadul generasi 90-an (2)


Sabtu, 18 Januari 2020 / 10:05 WIB
Mencari peluang dari jajanan jadul generasi 90-an (2)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Jajanan dan mainan jadul yang ada di era 80-an dan 90-an, memang ada pasarnya. Terutama dari generasi yang seusia dengan produk nostalgia tersebut.  

Kondisi ini tidak terlepas dari upaya para pebisnis penyedia produk jadul. Seperti Mbok Jajan atau Cah90anYk yang memposting beragam produk dan jajanan zaman dulu atau jadul di masing-masing media sosial maupun marketplace. Bahkan mereka mendirikan gerai toko terutama di kota Yogyakarta, yang menjadi basis dua usaha ini mengembangkan bisnisnya.
Dinda Aneswari, pemilik Mbok Jajan mengklaim saban hari, dirinya bisa mendapat pesanan hingga 50 pesanan produk jadul, kebanyakan jajanan dan mainan jadul. Sedangkan Hery Subakri, pemilik Cah90anYK baru bisa mencapai kisaran 100 pesanan per bulan.
 
Hasil penjualan ini mereka dapatkan dengan penuh perjuangan. Selain tak gampang menjual, untuk bisa mendapatkan produk kuno juga rumit. Ambil contoh Dinda yang sampai harus blusukan untuk mencari para perajin mainan jadul. "Saya minta perajin memproduksi lagi," katanya.
Ia pastikan produk yang dibuat langsung dipasarkan di Mbok Jajan. Kini, Dinda sudah merangkul 100 perajin mainan jadul untuk menyuplai barang digerainya.
 
Sedangkan untuk jajanan lawas ia mengakui rada susah. Perusahaan pembuat jajanan lawas membatasi jumlah produksinya. Dan dirinya pun tidak bisa berbuat apa-apa jika mendapati ada produk jajanan yang belum bisa diproduksi. "Memang sulit mencari jajanan tersebut," tuturnya.
 
Tantangan tersebut justru menjadi pemecut para pebisnis jajanan jadul ini untuk terus bisa eksis. "Peminatnya (produk dan jajanan jadul) amat banyak dan kompetitornya masih sedikit," ucap Hery kepada KONTAN.
 
Sebaga catatan agar lebih fokus mengembangkan usaha, Hery maupun Dinda sudah meninggalkan pekerjaan rutin di kantoran. 
 
Dinda misalnya, ia berencana memperluas segmen pasar jajanan jadul tersebut tidak cuma disukai oleh generasi 80-an atau 90-an saja, tapi juga oleh generasi Z. Sebab ia melihat generasi yang lebih muda tersebut mulai banyak yang tertarik dengan produk unik tersebut. 
 
Caranya adalah dengan membuat kampung wisata yang menyajikan ragam jajanan dan mainan jadul di era tersebut. Nanti, di kampung tersebut, selain menjajakan ragam jajanan dan mainan lawas, ia ingin menyajikan proses pembuatan produk jadul tersebut sebagai wahana pengetahuan. 
 
Saat ini ia tengah menyiapkan lokasi kampung tematik. Ia ingin nantinya kampung tematik tersebut bisa menjadi sarana kunjungan tak cuma bagi penggemar jajanan jadul tapi juga sekolah dan lainnya. "Sekaligus sebagai wadah melestarikan budaya dan edukasi," harapnya.
 
Ia juga mulai menawarkan kemitraan Mbok Jajan. Bagi yang berminat bisa mengajukan tawaran via surat digital karena ia tidak ingin berbagi informasi secara publik. 
 
Tak hanya itu guna menciptakan pasar lebih luas Hery berencana membuat konten video atau teks membahas permainan tradisional di eranya. Konten tersebut juga akan dilengkapi tutorial cara bermain mainan di era 80-an dan 90-an.
 
(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×