kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Mencecap Manisnya Tren Gaya Hidup Sehat dari Madu


Sabtu, 28 Februari 2026 / 07:10 WIB
Mencecap Manisnya Tren Gaya Hidup Sehat dari Madu


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren hidup sehat kini semakin banyak digandrungi di berbagai kalangan beberapa tahun terakhir. Tren ini menjadi inspirasi bagi Monika untuk mendirikan usaha. Di tahun 2019, Monika mendirikan Madu non pasteurisasi alias Madu NP.

Sesuai namanya, Monika membuat madu tanpa tambahan gula serta tanpa pasteurisasi atau proses pemanasan. Dengan begitu, ia mengklaim, kemurnian dan kualitas madu tetap terjaga.

Untuk tetap menjaga mutu, Monika sudah menjalin kerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi tersebut, kata Monika, guna mengoptimalkan pengembangan dan riset produk.

"Ini untuk menghadirkan setiap varian yang tetap berbasis ilmiah, aman, dan berkualitas," kata Monika kepada KONTAN, belum lama ini.

Baca Juga: Cuan Mpok Mumun dari Produk Buah Tangan Khas Betawi

Dari sisi skala, Monika menyebut, usahanya masih tergolong usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM. Namun, bisnis asal Karawang, Jawa Barat ini terus menunjukkan pertumbuhan.

"Kenaikan penjualan kami sekitar 30% sejak awal berdiri," katanya.

Tak cepat puas, Monika terus berupaya mengembangkan usahanya. Salah satu caranya adalah, dengan bergabung dalam komunitas UMKM. Di komunitas tersebut, Monika mendapatkan segudang kesempatan.

Baca Juga: Fulus dari Solusi Keuangan UMKM

Misalnya, berpartisipasi dalam pameran-pameran bergengsi seperti Trade Expo Indonesia (TEI), West Java Expo (WJX), Prabu Expo, hingga ke Thailand melalui ajang World Halal Products Exhibition (Hapex) pada tahun lalu.

Maklum produksi Madu NP dalam kemasan stick sudah mencapai 6.000 boks per bulan, serta madu kemasan mencapai 3.000 botol per bulannya. Produk tersebut dijual dengan rentang harga Rp 35.000 sampai Rp 175.000 per produk.

Sejauh ini, Monika sudah menjajakan produknya secara offline lewat ragam pameran serta lewat situs perusahaan dan marketplace. Untuk tahun ini, Monika berencana untuk membuka gerai Madu NP. 

Baca Juga: Merancang Fulus dari Sepatu Bot Artisan

Tak hanya membuka toko fisik, Madu NP juga tengah memperluas diversifikasi produk yakni Madu Hexadiva. Ini adalah perpaduan madu, sayur, dan buah.

"Ini merupakan inovasi kami yang terbaru, dan saat ini masih dalam proses penelitian dan masa simpan produk," ujar Monika.

Lebih lanjut, Madu NP kata Monika juga akan menambah produk kemasan stick dengan varian-varian yang baru, serta ingin bertransformasi ke usaha lestari nol sampah (zero waste). 

Dengan berbagai strategi tersebut, ia optimistis penjualan tahun ini dapat meningkat hingga 50% dari tahun lalu. Meskipun mengalami tantangan pemasaran, dia bakal menyiasati dengan terus mengikuti ajang pameran yang diadakan oleh kementerian dan lainnya.

"Terutama yang fokus pengembangan UMKM, business matching dan kerja sama B2B lainnya,” pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×