kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,58   -19,63   -1.94%
  • EMAS957.000 -0,42%
  • RD.SAHAM -1.52%
  • RD.CAMPURAN -0.63%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Mendongkrak panen ikan lele lewat penerapan teknologi tepat guna


Sabtu, 19 Desember 2020 / 12:10 WIB
Mendongkrak panen ikan lele lewat penerapan teknologi tepat guna
ILUSTRASI.


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi UMKM sektor perikanan yang ada di Sangatta, Kalimantan Timur, kini sudah berbeda dari beberapa tahun yang lalu. UMKM yang merupakan para pembudi daya ikan lele sekarang sudah merasakan lonjakan produksi.

Sebelumnya, para pembudi daya butuh waktu tiga bulan untuk bisa panen lele. Kini, cukup 2,5 bulan saja mereka sudah bisa memanen. 

Salah satu pembudi daya lele di Sangatta, Yohanes mengatakan, setiap panen bisa menghasilkan hingga 500 kilogram lele. Dalam setahun, dia dapat memanen lele hasil budi dayanya sebanyak tiga kali. "Awal beternak lele karena hobi. Memberi makan asal saja," katanya.

Sedangkan pembudi daya lele lainnya, Sudirman sekarang sudah bisa memenuhi kebutuhan bibit lele. Sebelumnya, ia harus mendatangkan bibit lele dari wilayah lain di Kalimantan Timur. Malah, kini ia sanggup memasok bibit lele ke wilayah lain di luar Sangatta seperti Tenggarong.

Tak cuma itu, salah satu jenis pakan lele juga sudah bisa Sudirman produksi sendiri, yakni cacing sutera. "Untuk pakan cacing sutera, saya bisa produksi 16 kilogram hingga 20 kilogram sebulan," ujar dia.

Baca Juga: Beromzet Rp 157 juta, binaan Pertamina olah kulit patin jadi kerupuk bergizi

Ternyata, hasil yang kedua pembudi daya lele tersebut hasil dari pelatihan yang mereka ikuti. Yakni, pelatihan yang digelar Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Pama Banua Etam yang berkolaborasi dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan PT Pamapersada Nusantara. Tujuannya, untuk meningkatkan produktivitas hasil perikanan di wilayah Sangatta, termasuk ikan lele.

Menurut Hendra, Koordinator LPB Pama Banua Etam, pihaknya melakukan pembinaan terhadap enam UMKM perikanan lele dari 2017 sampai 2020. Pada awalnya, para pembudi daya lele hanya mengelola tambak seadanya saja. Tapi, dengan penerapan teknologi tepat guna, seperti memanfaatkan kolam sistem bioflok, kemudian red water system serta green water system, dan penggunaan indukan lele yang sudah bersertifikat, serta membuat pakan lele dari cacing sutera, kondisinya langsung berubah.

Hasilnya, bibit lele sudah tidak perlu lagi pembudi daya datangkan dari luar Sangatta. Kemudian, pasokan pakan ikan lele,  yakni cacing sutera, juga sudah bisa mereka produksi sendiri. 

Para pembudi daya pun sudah bisa mempercepat waktu panen, dari sebelumnya sekitar tiga bulan menjadi 2,5 bulan saja. Efeknya, hasil panen melonjak. Tahun lalu, empat kali panen tiap pembudi daya   hanya menghasilkan total 1.072 kg. Tahun ini, sekali panen hasilnya 810 kg. "Sekarang di Sangatta, untuk benih ikan lele dan untuk konsumsi sudah bisa dihasilkan sendiri," kata Hendra.

Dengan hasil tersebut, Hendra menargetkan, di 2021, LPB Banua Etam bakal menambah binaan menjadi 10 UMKM perikanan Sangatta. Harapannya, keberadaan 10 UMKM perikanan ini bisa memenuhi hingga 90% pasokan kebutuhan ikan air tawar di wilayah Sangatta.

Selanjutnya: Antisipasi dampak Covid-19, Kampung ikan asap binaan Pertagas budidayakan Maggot BSF

 




TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×