kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45866,25   0,74   0.09%
  • EMAS918.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.32%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Mengayuh cuan sepeda listrik klasik dan premium dari Largo eBike


Sabtu, 11 September 2021 / 11:00 WIB
Mengayuh cuan sepeda listrik klasik dan premium dari Largo eBike

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelan tapi pasti, kendaraan listrik bakal menjadi kendaraan utama di Indonesia. Ini terlihat dari mulai maraknya kendaraan listrik yang dijajakan di pasar dalam negeri. Ada mobil dan sepeda motor listrik, tak ketinggalan juga sepeda listrik.

Beberapa produsen sepeda lokal pun mulai menjajakan sepeda listrik dengan tetap mengusung pedal untuk mengayuh. Melihat fenomena tersebut, Trias Afiandy, Principal Design Largo eBike, ikut mengambil peluang tersebut dengan membuat sepeda listrik.

Tapi, sepeda listrik yang Trias besut berbeda. Ia membuat sepeda bernuansa jadul, layaknya sepeda motor di era awal 1900-an. Pada Februari 2021, dia meluncurkan sepeda listrik vintage dengan label Largo eBike.

Ada tiga model sepeda listrik yang Trias luncurkan dengan produksi terbatas, yakni Largo L-Series, HXR-Series, dan HXR2-Series. Total, ada 20 sepeda Largo eBike yang ia buat.

Untuk membuat sepeda tersebut, Trias mendapat bantuan dana dari angle investor. Desain Largo eBike dia kerjakan sendiri.

Sedang untuk produksinya, ia menggandeng perajin yang ada di Bandung, Jawa Barat. Mulai dari perajin per, kulit, hingga perajin braket. "Ada empat sampai lima rumah produksi yang kami berdayakan," katanya kepada KONTAN, Jumat (10/9).

Baca Juga: Mau aman gowes, sewa saja jasa pengawal sepeda

Trias mengklaim, komponen lokal dari sepeda listrik Largo eBike sudah mencapai 80%. Sisanya masih impor dalam bentuk rakitan, seperti mesin dan baterai.

Untuk pemasaran, Trias masih mengandalkan saluran digital via media sosial. Harga Largo eBike ia banderol Rp 60 juta per unit. Kecepatannya bisa mencapai 50 kilometer per jam, dengan daya tempuh untuk sekali pengisian baterai hingga sejauh 40 kilometer.

Sejauh ini, dari total produksi yang ia buat, Largo e-Bike sudah terjual kurang dari setengahnya. Namun, Trias mengaku belum puas dengan hasil tersebut.

Menurutnya, salah satu kendala dalam pemasaran sepeda listrik yang masuk kategori premium itu adalah pandemi Covid-19.

Baca Juga: Bisnis cuci motor masih tetap basah

Menjajakan sepeda listrik model klasik, Trias bilang, tidak cukup hanya mengandalkan pemasaran digital saja, sebab konsumen pastinya juga butuh test drive alias uji coba terlebih dahulu.

Hal lain yang bakal Trias lakukan adalah bisa menurunkan harga jual sepeda listriknya supaya bisa menjangkah lebih banyak pasar. Untuk itu, mulai tahun ini ia akan fokus memperbesar kapasitas produksi Largo eBike.

Setiap satu periode produksi yang bisa makan waktu enam bulan, dia targetkan bisa menghasilkan 50-100 unit sepeda listrik.

Sedangkan untuk target penjualan, Trias belum mematoknya untuk tahun ini. "Target kami adalah memperbesar kapasitas produksi dulu," ungkap dia.

Rencana lainnya, Trias akan membuat mobil klasik yang tenaganya sudah dikonversi ke tenaga listrik. Jika tidak ada halangan, prototipe mobil klasik listrik ini kelar awal 2022.      

Selanjutnya: Gowes Lagi Tren, Yuk, Jajal Usaha Toko Sepeda!

 




TERBARU

[X]
×