kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menyisir kampung tas Bojong Rangkas, Bogor (bagian 2)


Jumat, 29 Maret 2019 / 11:10 WIB
Menyisir kampung tas Bojong Rangkas, Bogor (bagian 2)

Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - BOGOR. Siang itu, sentra produksi tas di desa Bojong Rangkas, kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor nampak sepi. Seperti kampung pada umumnya yang relatif jauh dari pusat kota, hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang. Sesekali ada beberapa penduduk yang keluar rumah untuk melakukan kegiatan.

Jika dilihat dari luar, kampung Bojong Rangkas tersebut tidak terlihat laiknya kampung sebagai tempat penghasil tas dan produk fashion lainnya. Namun apabila Anda lebih jeli melihat lebih jauh, ternyata ada beberapa gerai sederhana yang menjual tas dan aneka aksesori fashion di deretan rumah.


Dan tidak jauh dari gerai tersebut terdapat bengkel produksi aneka tas yang dipajang di gerai-gerai tersebut.

Nuraini, pemilik gerai Artha Cahaya Karatuan di desa tersebut menyatakan, letak bengkel untuk membuat tas dan produk fashion lainnya dengan gerai untuk display produk berdekatan.

"Biasanya malah bersebelahan. Kalau pembeli datang, saya biasanya langsung membawa ke bengkel untuk bisa melihat proses pembuatan di bengkel," katanya kepada KONTAN.

Ia sendiri saat ini mempekerjakan sebanyak 30 perajin sampai 50 perajin dengan sistem borongan per harinya. Jumlah perajin sendiri tergantung dari pesanan yang datang.

Dari gerai tas milik Nuraini inilah ribuan bahkan belasan ribu pesanan tas bisa diproduksi saban bulannya. Ia mengatakan para pelanggan dari produknya banyak datang dari dinas pemerintahan dan perusahaan. Selebihnya baru datang dari perorangan untuk dijual kembali.

Ia sendiri lebih condong membuat produk aksesori bagi perusahaan atau kantor pemerintahan hingga perguruan tinggi. Lantaran jumlah pesanan yang bisa didapat pasti lebih banyak ketimbang pesanan orang perorangan. Produknya kebanyakan berupa tas, dompet, hingga tempat kartu nama. "Saya tidak banyak bermain untuk pasar perorangan seperti untuk tas wanita, karena fokus untuk suvenir acara," tuturnya.

Adapun produk buatannya sudah merambah pasar lokal di seluruh Indonesia. Tak hanya pasar dalam negeri, produk tas buatan Artha Cahaya Karatuan juga beberapa kali diekspor ke negara Timur Tengah, Jerman, dan kawasan Asia.

Bahkan, Nuraini mendapat pesanan tetap dari langganannya yang ada di Timur Tengah. "Saya ada kenalan punya bisnis tas di Timur Tengah. Lalu dia pesan untuk dijual lagi di sana dengan brand sendiri," terangnya.

Jika Nuraini lebih banyak melayani pesanan untuk pasar produk suvenir dari pemerintah atau perusahaan, lain halnya dengan Deni Mulyadi, pelopor perajin tas di Bojong Rangkas. Ia lebih fokus untuk melayani pesanan dari penjual eceran di beberapa kota. Seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Makasar dan sebagainya.

Ia mengambil contoh pesanan yang datang dari Jakarta. Kebanyakan berasal dari penjual tas di pasar Tanah Abang, Blok M, hingga Mangga Dua. Bisa saja, salah satu tas yang misalnya Anda beli di tiga daerah itu buatan Bojong Rangkas. "Sekarang, justru banyak pesanan dari shop online," katanya.

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×