kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Mimpi Menjadi Label Modest Fashion yang Mendunia


Sabtu, 30 Agustus 2025 / 08:05 WIB
Mimpi Menjadi Label Modest Fashion yang Mendunia
ILUSTRASI. Salah satu fashion muslim hasil karya desainer di Muslim Fashion Festival (MUFFSEST) 2025 di JICC Jakarta, Kamis (20/2/2025). KONTAN/Carolus Agus Waluyo/20/02/2025


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memakai busana bergaya sopan yang menyamarkan lekuk badan dan menutupi hampir seluruh tubuh menjadi prinsip penting bagi sebagian besar perempuan di Indonesia. Tren ini dijawab oleh Kayo, yang menghadirkan kebutuhan akan gaya modest fashion tersebut.

Mula-mula, merek Kayo diawali dari keinginan sang pendiri, Yusmilia Febrina untuk menghadirkan busana muslimah yang elegan, nyaman, dan tetap ngetren. Wanita  yang akrab disapa Fey Kayo ini lantas merintis Kayo di 2018, sebagai label modest wear

"Alasan membangun Kayo karena melihat peluang pasar modest fashion di Indonesia yang sangat besar. Namun masih banyak brand yang belum fokus pada kualitas desain yang simpel tapi berkelas," kata Fey ke KONTAN, Jumat (29/8).

Namun tak mudah membangun label untuk produk fesyen muslim berkelas sesuai keinginannya itu. Ia mesti menghadapi persaingan yang sangat ketat. Dus, pekerjaan pertama Fey adalah membangun kepercayaan konsumen dan menjaga konsistensi kualitas produknya.

Baca Juga: Jadi Lokomotif Brand Fesyen Lokal

Wanita kelahiran Jakarta berdarah Minang ini pun terus berinovasi. Mengawali bisnis dengan meluncurkan busana ready-to-wear seperti tunik dan dress modest, Kayo kini memiliki deretan jenis produk. Meliputi dress, blouse, outer, vest, skirt, pants, shirt, scarf, dan aksesoris.

Secara operasional, bahan produksi Kayo diperoleh dari vendor kain dengan komposisi 90% natural fabric, serta bekerja sama dengan pengrajin lokal. Saat ini, tak kurang dari 12 karyawan terlibat langsung dalam operasional Kayo di Kemang, Jakarta Selatan. 

Secara bisnis, Kayo memasarkan produk dengan rentang harga antara Rp 300.000 - Rp 3 juta. Fey memberikan gambaran, saat ini Kayo bisa menembus omzet sekitar Rp 100 juta per bulan.

Adapun, pasar utama Kayo ada di wilayah Jabodetabek. Namun Kayo juga hadir di sejumlah ritel ternama seperti Galeries Lafayette - Pacific Place dan Sarinah hingga Ubud Bali. 

Tak hanya dikenal di pasar lokal, Kayo juga menjangkau panggung global. Label ini hadir di Isetan, Suria KLCC Kuala Lumpur Malaysia, serta di Gallery Seni Wastra Indonesia – EoBang-Dong, Gimhae City, Korea Selatan.

"Ekspor sudah dilakukan ke beberapa negara, antara lain: Korea, China, UK, Kuwait, Malaysia, dan juga Thailand," ujar Fey.

Ke depan, Fey menargetkan Kayo bisa memperluas pasar internasional, terutama ke negara-negara dengan komunitas muslim besar. 

Fey bilang, Kayo ingin mengangkat identitas modest wear Indonesia dengan sentuhan kontemporer sehingga bisa bersaing di pasar global.

Dus, Kayo pun berencana mengembangkan flagship store.

"Harapannya, Kayo dikenal sebagai salah satu brand modest fashion lokal yang bisa bersaing dengan label global," mimpinya.

Selanjutnya: Transfer GoPay ke DANA dan Sebaliknya: Cara Mudah & Cepat

Menarik Dibaca: Pejuang Diet Merapat, Ini Cara Konsisten Diet agar Berhasil Turunkan Berat Badan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×