kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,58   -19,63   -1.94%
  • EMAS957.000 -0,42%
  • RD.SAHAM -1.52%
  • RD.CAMPURAN -0.63%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Nafas menjaring sponsor dari layanan informasi kualitas udara


Sabtu, 28 November 2020 / 09:48 WIB
Nafas menjaring sponsor dari layanan informasi kualitas udara


Reporter: Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjaga kesehatan saat ini menjadi hal aktivitas vital selama pandemi berlangsung. Namun, saat berolah raga  di luar ruangan atau outdoor kita juga perlu memperhatikan kualitas udara di luar ruangan apakah sedang tingkat polusi parah atau bisa ditoleransi secara terukur.

Kebutuhan itulah yang coba dipenuhi oleh start up Nafas. Start up ini memberi layanan digital soal informasi  kualitas udara atau polusi udara di suatu wilayah. 
"Aplikasi pemantauan kualitas udara ini memberikan data real time di DKI Jakarta, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi dan Depok," jelas Piotr Jakubowski, Co Founder dan Chief Growth Officer Nafas kepada KONTAN.

Untuk bisa memantau kualitas udara di wilayah Jabodetabek tersebut, start up yang baru beroperasi September 2020 ini sudah memasang sebanyak 46 sensor pendeteksi kualitas udara di wilayah tersebut. Lantas aplikasi ini akan menghubungkan dengan sensor untuk memantau kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya sejak Agustus. 

Hasilnya, saat melakukan pemantauan di areal outdoor yang biasa digunakan untuk berolahraga pada pukul 04.00 WIB - 09.00 WIB, berdasarkan polusi particutate matter (PM 2,5),  sekitar 40% wilayah Jabodetabek punya tingkat kualitas udara lebih dari 100 ug per m³, artinya kualitas udara berpolusi dan tidak aman bagi masyarakat untuk melakukan olahraga.

Baca Juga: Start up BukuWarung catat transaksi industri restoran anjlok 70%

Nah, Piotr pun berharap, sebelum warga sekitar Jakarta berolahraga alangkah baiknya mengecek terlebih dahulu kondisi kualitas udara dengan aplikasi Nafas. 
Cara penggunaan aplikasi ini gampang saja, yakni cukup membuka aplikasi dan tes kadar PM 2.5. Jika belum mencapai angka 100 berarti aman berolahraga di luar ruangan. Namun kalau lebih, ada syarat yang harus diperhatikan. Untuk tanda jingga disarankan berolahraga di bawah 90 menit, tanda merah maksimal 90 menit dan tanda ungu maksimal 30 menit saja. 

Hasilnya, saat ini Nafas sudah punya ribuan pengguna. Adapun pendapatan dari aplikasi berasal dari sponsor Nafas tawarkan kepada para klien mereka. Biasanya dengan perusahaan yang punya komitmen terhadap lingkungan, kehidupan sosial dan penerapan tata laksana usaha yang positif atau  environmental, social and corporate governance (ESG).

Baca Juga: Membuat bugar tubuh dan sehat dari aplikasi olahraga

"Kami sudah bekerjasama dengan Bank Mandiri yang menjadi sponsor andalan untuk beberapa acara yang ada di Jakarta," tandasnya. 

Ke depan, ia berencana menambah sensor pemantauan udara di wilayah Jabodetbek hingga mencapai lebih dari 100 sensor. Namun ia tidak merinci waktu persisnya karena pendanaan masih mengandalkan dari kocek sendiri.

Pengamat usaha Djoko Kurniawan menyarankan supaya Nafas bisa memberi tambahan fitur layanan untuk bisa tetap bertahan. Karena jika hanya andalkan fitur yang ada, takutnya bisa ditiru oleh para pesaing.

Selanjutnya: Di tengah pandemi corona, ini tips berolahraga aman di luar rumah

 


Tag


TERBARU
Sukses Berkomunikasi dengan Berbagai Gaya Kepribadian Managing Procurement Economies of Scale Batch 7

[X]
×