kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45834,96   4,26   0.51%
  • EMAS945.000 0,53%
  • RD.SAHAM -0.46%
  • RD.CAMPURAN -0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Node merajut rezeki dari sepatu bahan alami


Sabtu, 19 Juni 2021 / 10:40 WIB
Node merajut rezeki dari sepatu bahan alami

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Makin banyak produk UMKM lokal yang punya ciri khas tersendiri. Malah, tidak sedikit yang mengutamakan pemakaian bahan baku ramah lingkungan. Salah satunya adalah Node.

Node ini merek sepatu lokal asal Sukabumi, Jawa Barat, yang merupakan kependekan dari no deforestation (tidak ada penebangan hutan). Usaha yang David Chrisnaldi dirikan ini sudah berjalan sejak 2019. 

Sesuai labelnya, bahan baku sepatu Node berasal dari komponen alami atau bio commponent. Ada 13 komponen alam yang Node pakai, misalnya, sekam padi, karet alam, kain goni, serat kenaf, dan perekat sepatu yang menggunakan bahan berbasis eucalyptus. "Yang dimaksud 100% komponen bio adalah tidak ada unsur plastik atau logam," kata David, pendiri Node, kepada KONTAN belum lama ini. 

Sebelum bergelut di sepatu   berkomponen alam, David terjun sebagai perajin sepatu dengan bahan baku sintetis. Namun, karena gempuran kuat dari produk impor sejenis, terutama dari China, akhirnya dia mulai mengalihkan perhatian ke produk sepatu berbahan alami.

Baca Juga: Herbal Borneo meracik cuan dari produk herbal teh bajakah

Kebetulan, sebelumnya David mengikuti ajang learning by earning join reseach hasil kerjasama dengan Balai Besar Pascapanen Kementerian Pertanian. Dari sinilah ia belajar membuat sepatu dari bahan alami non-plastik dan logam. Hingga akhirnya lahir sepatu dengan label Node.

Dia memberanikan diri menjual sepatu dengan komponen alam setelah melihat daya tahan produk buatannya yang pemakaiannya bisa sampai hampir satu tahun sekalipun menggunakan bahan-bahan alami. 

Rupanya, daya tahan tersebut karena David memakai bahan pengawet. Tapi, setelah pemakaian lebih dari tiga tahun, ia bilang, penggunaan bahan pengawet akan membuat sepatu menjadi kaku dan cepat rapuh, kemudian terurai dengan sendirinya.

Itu adalah hasil ujicoba yang David lakukan dengan menggunakan mesin khusus untuk menguji daya tahan sepatu buatannya.

Meski begitu, respons pasar cukup positif terhadap sepatu Node. David memanfaatkan sarana digital seperti media sosial untuk pemasaran, termasuk mempromosikan ke komunitas yang peduli lingkungan.  

Hasilnya, selama usaha ini berjalan, rata-rata David sanggup menjual sekitar 100 pasang sepatu per bulan. Ia membanderol harga sepatu mulai Rp 428.000 sampai Rp 1,2 juta per pasang. 

Tak cuma sepatu, David juga menjual komponen sepatu ramah lingkungan. Rata-rata ada 1.000 komponen sepatu yang berhasil dia jual saban bulan, kebanyakan ke Selandia Baru.

Melihat hasil tersebut, ia optimistis terhadap prospek bisnis sepatu berbahan alami. Untuk itu, Agustus nanti, David bakal mengeluarkan model terbaru. Kemudian, pada Oktober, akan mengeluarkan produk sandal ramah lingkungan. Selain itu, dia tengah bernegosiasi dengan investor untuk pengembangan bisnis Node ke depan.

Selanjutnya: Berkat pemasaran digital, pemasaran loyang bisa tembus pasar regional

 




TERBARU
Kontan Academy
Excel Master Class: Data Analysis & Visualisation Certified Supply Chain Analyst (CSCA) Batch 10

[X]
×