kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Omzet besar dari merangkai miniatur


Selasa, 26 Oktober 2010 / 10:38 WIB
Omzet besar dari merangkai miniatur
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia


Reporter: Raymond Reynaldi, Fahriyadi | Editor: Tri Adi

Untung yang besar selalu berbuah dari hasil kreativitas dan inovasi. Termasuk pula dalam usaha pembuatan maket. Kreativitas memadukan bahan dan teknologi untuk memudahkan pembuatan maket, menjadi modal para pelaku usahanya meraup untung besar.

Meski pemainnya terus bertambah, bisnis pembuatan maket tak pernah sepi dari order. Maklum, berbagai proyek baru, seperti perumahan, perkantoran, apartemen, pabrik, jembatan hingga kilang minyak, terus bermunculan.

Tak heran, bisnis ini tetap dibutuhkan. Setiap kali ada rancangan proyek, misalnya perumahan, kehadiran maket, baik sebagai materi pendukung promosi atau representasi wujud nyata desain sebuah proyek, selalu melengkapi kehadiran proyek yang sesungguhnya.

"Ceruk bisnis ini sangat dalam bagi para pemainnya," kata Sapto Sardiyanto, manajemen CV Anindya Cipta Mandiri, perusahaan pembuat maket.

Fungsi dari maket ini penting. Selain bisa memperlihatkan miniatur sebuah proyek, maket juga harus bisa mewujudkan bentuk sebenarnya. Sehingga, calon pembeli atau pemilik proyek bisa membayangkannya.

Lewat maket, pengembang berusaha berkomunikasi dengan calon pembeli. Yakni, menyampaikan gambaran imajinatif atas produk yang akan dijual. Contohnya, rumah. Biasanya, satu set maket rumah standar terdiri dari dua unit rumah. "Satu bangunan rumah utuh, yang satu lagi rumah tanpa atap supaya gambaran ruang bagian dalam terlihat jelas," papar Dana Sutisna, pemilik Studio Tiga Dimensi.

Dia telah menekuni bisnis ini sejak tahun 1980. Saat itu, Dana bekerja di salah satu perusahaan pembuatan maket. Setelah 10 tahun di sana, dia memutuskan mundur dan membuka usaha pembuatan maket sendiri.

Studio Tiga Dimensi merupakan penyedia jasa perakitan maket untuk berbagai proyek. Misalkan perumahan, perkantoran, apartemen, serta kilang minyak. Pelanggan pertama yang dilayani oleh Studio Tiga Dimensi adalah pengembang perumahan Bumi Serpong Damai atau BSD. "Itu sekitar tahun 1990, saat studio baru beroperasi," kata Dana.

Portofolio pelanggan yang memesan maket pun beragam. Seperti, PT Freeport, pengelola kilang minyak Pulau Selayar, Makassar, Depo Elnusa di Plumpang, Jakarta, New Kuta Condotel, Bali, serta pabrik Samsung Electronic di Cikarang.

Sementara CV Anindya Cipta Mandiri kerap melayani permintaan pembuatan maket dari para pengembang lokal dan asing, serta perusahaan pelat merah atau BUMN. Tak hanya perumahan, perkantoran, atau apartemen, Sapto menjelaskan, perusahaannya juga membuat maket untuk proyek bandara.

Berdasarkan pengalamannya, Dana menilai, tingkat persaingan dalam bisnis pembuatan maket ini cukup ketat. Sebab, setiap perajin maket telah mempunyai pelanggan setia.

"Karena tiap perajin memiliki karakter dan cara kerja yang berbeda. Ini berpengaruh pada kualitas maket dan kecepatan waktu pengerjaan," paparnya.

Pemain lama, lanjut Dana, tentu menjadi pilihan favorit para pelanggan yang telah mengenal dan mengetahui produk maket yang dihasilkan. Sapto menimpali, persaingan yang ketat menuntut setiap perajin mengandalkan kualitas produk dalam bersaing.

Alhasil, lanjut dia, penggunaan bahan baku atau material maket menjadi faktor kunci. Ada beberapa faktor lainnya, seperti skala, tingkat kesulitan serta waktu pengerjaan. "Skalanya makin kecil, berarti ukuran bertambah besar. Nah, biayanya juga makin besar," kata Dana. Semua faktor ini akan mempengaruhi harga.

Di sisi lain, umumnya bahan yang digunakan untuk pembuatan maket ini adalah acrylic dan PVC. Bahan lainnya, seperti resin untuk mencetak ornamen pendukung dan cat duco untuk proses penyelesaian. "Seperti untuk membuat orang atau mobil ini dari resin. Kadang ada yang beli, ada juga yang kita cetak sendiri," tuturnya.

Dalam sebulan, Sapto dapat melayani tiga hingga lima pesanan maket dengan harga mulai dari Rp 10 juta sampai Rp 50 juta.

Sedangkan maket perumahan standar Tipe 21 hingga 45 dengan skala 1:50, Dana menawarkan harga mulai dari Rp 4,5 juta per unit. Tiap unit terdiri dari meja penopang, serta kaca bening pelindung maket.

Lama pengerjaan variatif, tergantung spesifikasi yang diinginkan oleh pelanggan. "Untuk maket rumah Tipe 21 skala 1:50, waktu pengerjaan biasanya sekitar 10 hari," ungkap Dana.

Sapto maupun Dana sanggup mengerjakan maket ukuran tertentu lebih cepat dari waktu normal. Hanya, mereka mengenakan biaya tambahan kepada pelanggan. "Kami mesti lembur. Biaya tambahan sekitar 20% dari harga maket," tutur Dana.

Omzet yang mereka raup dari bisnis maket ini pun tergolong besar. Sapto mengaku, rata-rata omzet bulanan mencapai kisaran Rp 100 juta. Adapun omzet rata-rata Studio Tiga Dimensi sekitar Rp 12 juta hingga Rp 15 juta per bulan. "Skala usaha kami masih rumahan. Tapi, kami bisa mengantongi untung bersih sekitar 40%," ujar Dana.

Seiring perkembangan teknologi dan pola pikir bisnis yang lebih maju, para perajin mesti menyesuaikan dengan permintaan yang datang. Sapto mulai memanfaatkan penggunaan teknologi tiga dimensi melalui komputer untuk pembuatan desain maket.

Dari sisi pasar, Dana menuturkan, permintaan meluas. Ia sering memperoleh pelanggan dari kota-kota di luar Jawa. Seperti Lampung, Batam, dan Tenggarong di Kalimantan Timur, serta Makassar. "Mungkin karena di sana pembangunan proyek infrastruktur tengah giat dikembangkan," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×