kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,66   0,00   0.00%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Omzet usaha membubung dari jualan layang-layang


Selasa, 26 Juli 2011 / 13:46 WIB
Omzet usaha membubung dari jualan layang-layang

Reporter: Dharmesta | Editor: Tri Adi

Permainan layang-layang hampir disukai semua umur dan kalangan. Itulah sebabnya bisnis pembuatan layang-layang tetap cerah sampai sekarang. Tak hanya layang-layang biasa, permintaan layang-layang hias berbagai bentuk juga sama tingginya.

Bisa dibilang layang-layang adalah mainan semua kalangan, baik anak-anak maupun dewas. Karena itu, layang-layang sampai sekarang masih laris manis di pasaran. Tak percaya, lihatlah omzet jutaan rupiah yang direngkuh Prima Artha Praditya, produsen layang-layang di Pasuruan, Jawa Timur.

Sudah satu tahun ini Prima menjual layang-layang murah secara grosir. Untuk layang-layang polos ukuran panjang 58 cm dan bentang sayap 57 cm, harganya Rp 350.000 per 1.000 item. Adapun layang-layang ukuran sama namun bermotif harganya 380.000. "Bila membeli dalam jumlah lebih banyak harganya bisa turun," kata Prima.

Menurut Prima, motif paling populer adalah motif kartun karena disukai anak-anak. Untuk memproduksi layang-layang tersebut, Prima dibantu 17 karyawan. 10 karyawan bertugas membuat kerangka bambu, lima orang memasang kertas dan dua karyawan bertugas menyablon gambar.

Prima mengaku, penjualan layang-layang sampai saat ini sangat bagus. Bahkan, dia memiliki pelanggan tetap yang membeli dalam jumlah sangat banyak. "Sampai membawa truk," katanya.

Selain menjual langsung, Prima juga melayani pemesanan online. Dengan pemesanan online ini, dia bisa menjangkau pembeli di Jakarta dan Surabaya.

Dengan pasar yang luas, dalam sebulan Prima bisa menjual rata-rata 100.000 layang-layang. Jumlah itu bisa melonjak menjadi 200.000 layang-layang saat musim liburan tiba.

Dari penjualan layang-layang itu, ia bisa mengantongi omzet sebesar Rp 35 juta per bulan. Dengan margin Rp 90 untuk tiap layang-layang yang dijual, Prima bisa mengantongi untung rata-rata Rp 9 juta per bulan. Hanya saja, marginnya akan berkurang jika ada satu pelanggan membeli 50.000 layang-layang sekaligus. "Saya hanya ambil untung Rp 50 per layang-layang," ujar Prima.

Selain Prima, produsen layang-layang lainnya adalah Kasmin. Selain memproduksi layangan biasa, Kasmin juga membuat layang-layang hias di rumahnya di Desa Sampang, Cilacap, Jawa Tengah.

Menurut Kasmin, Desa Sampang memang terkenal sebagai sentra pembuatan layang-layang. "Saya lebih banyak membuat layang-layang hias," katanya.

Satu layang-layang hias berbentuk burung ukuran 1 m x 1 m, dijual dengan harga Rp 25.000 sampai Rp 50.000. Sedangkan layang-layang berbentuk tokoh superhero Batman ukuran 1,5 m x 1 m harganya Rp 45.000. Karena lebih banyak menjual layang-layang hias, pasar Kasmin kebanyakan para remaja dan orang dewasa.

Bahan baku yang dipakai membuat layang-layang hias adalah bambu dan kertas parafin. Layang-layang produksi Kasmin dilengkapi dengan semacam engsel agar sayapnya bisa dilipat agar mudah dibawa.

Dibantu tujuh pekerja, Kasmin mengaku bisa menjual sekitar 500 layang-layang hias tiap bulan. Dengan pangsa pasar yang tersebar di Jakarta, Kalimantan, dan Lampung, omzet Kasmin mencapai Rp 15 juta per bulan. Untuk setiap layang-layang yang dijual, dia mengaku untung sekitar Rp 5.000.

Ayo, siapa mau main layang-layang?




TERBARU

[X]
×