kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45790,50   -3,71   -0.47%
  • EMAS1.007.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.22%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.23%

Peach gum, camilan imunitas dari China yang lagi hits selama pandemi


Sabtu, 22 Agustus 2020 / 09:10 WIB
Peach gum, camilan imunitas dari China yang lagi hits selama pandemi

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selain jahe dan empon-empon jenis lainnya, ada satu bahan makanan yang hits saat pandemi virus korona baru mulai menyerang negeri ini. Panganan itu ialah peach gum alias tao jiao.  

Ini adalah bahan makanan asal China yang berasal dari getah pohon persik yang dipercaya bisa mengatasi infeksi saluran kencing, menghilangkan dahaga, dan stres. Peach gum juga kaya asam amino yang memungkinkan kolagen cepat terserap oleh tubuh.

Pamor peach gum cepat melonjak karena diklaim juga punya khasiat meningkatkan daya tahan tubuh. Bahkan, di negara asalnya digunakan untuk proses penyembuhan pasien virus korona.

Baca Juga: Resmi buka di Indonesia, Sip Tea targetkan jual minimum 200 cup tiap hari

Melihat tren yang ada, Lina Chandra, pemilik Happy Peach Gum, memberanikan diri untuk mulai berjualan peach gum racikannya. Mulai Maret lalu, ia memproduksi dan memasarkannya. "Saat PSBB saya coba masak sendiri dari resep dan teknik dari almarhum ibu saya," katanya ke KONTAN.

Awalnya, Lina membuat  peach gum rasa original, kemudian langsung membuat varian lainnya. Mulai peach gum rasa cinnamon, double collagen, hingga honey lemon, dengan harga Rp 50.000 per botol.

Baca Juga: Manisnya laba dari kreasi aneka puding unik

Laiknya usaha rumahan lainnya, ia memasarkan peach gum tersebut secara online. Hasilnya tergolong lumayan. Dalam sebulan, dia sudah mendapat pesanan sekitar 1.000 botol ke sejumlah daerah, yakni Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Bandung.

Baca Juga: Bogasari beri pelatihan bagi ribuan calon UKM di Jakarta

Untuk bahan baku, Lina mengatakan, sebagian besar berasal dari impor, terutama peach gum yang ia impor dari Hong Kong dan China. Produk lokal satu-satunya yang ia pakai hanya madu.

Lantaran produk yang ia buat diklaim tanpa bahan pengawet, jadi cuma bertahan tujuh hari di lemari pendingin, maka Lina untuk sementara tidak berani ekspansi ke daerah yang lebih jauh. Tapi, untuk ekspansi ke daerah, dia berencana menggunakan skema kemitraan. 

Pemain lainnya Felicia Elizabeth sudah terjun membuat peach gum sejak Agustus 2019, dengan label Oriental Peach Gum Jakarta. Malah, ia telah membuka cabang di Semarang.

Saat pandemi, penjualan peach gum racikannya bahkan meroket. "Awal korona penjualan sempat melambung hingga 200%," katanya ke KONTAN.

Sama seperti Lina, Felicia memasarkan peach gum lewat pemasaran online dan layanan pesan antar. Jangkauan pasarnya sudah meluas ke daerah-daerah. 

Saban hari, rata-rata ia memproduksi antara 50 cup hingga 100 cup peach gum, dengan rentang harga Rp 50.000 sampai ratusan ribu rupiah. Target bisnisnya adalah membuka outlet khusus dan menambah varian peach gum.

Erwin Halim, konsultan bisnis dari Proverb Consulting, menilai peach gum  tergolong niche market. Artinya, hanya orang tertentu saja yang tahu khasiat dari produk tersebut. Meski begitu, produk ini tetap akan laku pasca pandemi.



TERBARU
Terpopuler

[X]
×