kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Perempuan Penyintas di Bisnis Aksesori


Sabtu, 30 Agustus 2025 / 08:00 WIB
Perempuan Penyintas di Bisnis Aksesori
ILUSTRASI. Bisnis busana atau fesyen dan aksesori, aksesoris seperti gelang, kalung yang berhubungan dengan tren K-Pop atau dunia hiburan Korea Selatan Korsel. Foto Dok Korean Holic Shop ; koreanholicshop.com


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - YOGYAKARTA. Terkadang menderita suatu penyakit bisa menjadi batu pijakan untuk terus mengembangkan usaha. Seperti yang dialami Yayuk Soekardan, saat menjalani usaha kerajinan aksesori fesyen dengan label Joglo Ayu Tenan.

Semua itu terjadi pada tahun 2018 yang menjadi titik balik usahanya yang sudah didirikan sejak 2015. Ini terjadi tatkala Yayuk didiagnosa menderita penyakit autoimun guillain-barre syndrome (GBS) di 2018. Dalam benaknya timbul keinginan berhenti berusaha. 

Adapun GBS sendiri adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang saraf. Kondisi ini dapat menyebabkan lesu, mati rasa, atau kelumpuhan. 

Yayuk bercerita, gejala yang kerap ia rasakan setelah menjadi penyintas GBS adalah rasa kesemutan pada tangan dan kaki. Itu menjadi tantangan dirinya untuk memproduksi aksesori kerajinan seperti bros dan produk perhiasan lainya yang dirancang hingga produksi secara hand made.

Gayung bersambut, ketika berkonsultasi dengan dokter, ia mendapatkan saran untuk melanjutkan bisnis tersebut. Pasalnya, aktivitas kerajinan tangan yang dilakukan di Joglo Ayu Tenan bisa menjadi sarana terapi bagi Yayuk.

"Harus dilatih lagi sensorik dan motoriknya, salah satunya dengan tali temali," kata Yayuk di Yogyakarta.

Baca Juga: Mendesain Cuan dari Suvenir dan Fesyen

Kisah itu menjadi secuil pengalaman suka duka yang dirasakan Yayuk dalam menjalankan Joglo Ayu Tenan. Jika ditarik lebih mundur, Yayuk memulai UMKM setelah berhenti menjalankan karir sebagai apoteker.

Untuk mengisi waktu luang, ia mencari beberapa aktivitas mulai dari mengikuti berbagai komunitas hingga mendatangi pameran-pameran. Hingga akhirnya tercetus ide membuat kerajinan fesyen, salah satunya bros.

Bermodal Rp 1 juta, ia membuat 10 bros. Untungnya, produknya langsung mendapat perhatian koleganya. Tak disangka, ia langsung mendapat tawaran ikut pameran Inacraft di Jakarta. Bersama dengan koleganya, ia menyewa satu booth di pameran tersebut.

Hasilnya pun positif. Produk aksesori bros dan perhiasan lainnya seperti kalung mulai diminati. Yayuk pun menjadi keranjingan mengikuti pameran-pameran untuk mempromosikan produk usahanya 

Bahkan dirinya sempat mendapat beasiswa ke Brisbane, Australia untuk memperdalam perhiasan di sana.

Berbekal pengalaman tersebut, Joglo Ayu Tenan mulai berkembang. Kini dirinya sudah mempekerjakan 30 kaum ibu-ibu. Lantaran mengincar segmen menengah atas dengan harga produk Rp 100.000 sampai Rp 2,5 juta, produksi Joglo Tenan sekitar 500 buah saja dengan omzet puluhan juta rupiah per bulannya. 

Melihat hasil itu, Yayuk berencana memperluas pasar ke luar negeri lainnya. Saat ini, produk Yayuk sudah menjelajah ekspor ke Singapura dan Jepang

Selanjutnya: Link Live Streaming Persijap vs Arema FC di Super League Hari Ini Pukul 15.30 WIB

Menarik Dibaca: Pejuang Diet Merapat, Ini Cara Konsisten Diet agar Berhasil Turunkan Berat Badan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×