Reporter: Hervin Jumar | Editor: Sanny Cicilia
Potensi bisnis perikanan tak hanya dari daging ikan yang dikonsumsi masyarakat. Bagian lain yang selama ini kurang dimanfaatkan, seperti kulit ikan patin, ternyata juga bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Banyak yang menganggapnya sebagai produk bernilai rendah, kulit ikan patin ternyata bisa memberi cuan menggiurkan. Inilah yang dilakukan Yulia Delsi, pemilik Melayu Crackers (Melakers), yang mengolah kulit ikan patin menjadi keripik oleh-oleh khas Pekanbaru, Riau.
Yulia, yang akrab disapa Una, merintis usaha tersebut sejak 2018. Ide bisnis berangkat dari besarnya potensi perikanan Riau. Menurut Kementerian Kelautan & Perikanan, produksi ikan patin Riau bisa mencapai 90 ton per hari.
Dalam proses pengolahan ikan patin, sebagian besar tertuju pada filet daging saja. Sementara, kulit belum memiliki nilai ekonomi optimal dan kerap menjadi pakan ternak.
"Orang kalau berkunjung ke Riau biasanya menikmati hidangan asam pedas patin. Kami berpikir bagaimana bagian ikan patin ini bisa menjadi sajian oleh-oleh ketika orang berkunjung ke Pekanbaru," ujar Una kepada KONTAN, Jumat (30/10).
Mengolah kulit ikan patin menjadi keripik bukan perkara mudah. Bau amis dan tekstur ikan yang keras menjadi tantangan dalam menghasilkan produk yang renyah dan konsisten.
Una bilang, Melakers menggunakan bahan baku segar dan memiliki Surat Kelayakan Pengolahan (SKP). Dalam proses pengolahan, perusahaan memanfaatkan jeruk nipis, bawang putih, dan ketumbar untuk mengurangi bau amis.
Takaran bumbu, suhu penggorengan, hingga tahapan produksi juga mengikuti standar operasional prosedur (SOP). Menurut Una, ketepatan proses menjadi kunci agar keripik tidak keras dan tetap renyah.
Agar konsisten, Una melengkapi produknya dengan sertifikasi dan persyaratan, antara lain halal, izin BPOM, SKP, Standar Nasional Indonesia (SNI), serta Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).
Dari sisi pasokan, Melakers bekerja sama dengan pembudidaya ikan di sekitar wilayah usahanya. Keterlibatan pelaku perikanan setempat menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Adapun tantangan mengembangkan keripik patin adalah produknya belum terlalu familiar. Walau patin kaya protein ketimbang karbohidrat, tapi Una belum bisa mengklaimnya.
Seiring perkembangan usaha, pada 2025 Una mengoperasikan dapur yang lebih memadai. Saat ini, kapasitas produksi Melakers mencapai 20.000 kemasan per bulan dan didukung sembilan pekerja.
Namun, kapasitas produksi belum sepenuhnya dimanfaatkan karena perusahaan masih memprioritaskan pengembangan pasar oleh-oleh. Meski begitu, Una punya rencana pengembangan produk maupun rencana perluasan ke ritel modern.
"Untuk saat ini, Melakers masih mengutamakan identitasnya sebagai produk daerah yang mengolah potensi lokal," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














