kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45883,06   -37,05   -4.03%
  • EMAS942.000 0,00%
  • RD.SAHAM -1.82%
  • RD.CAMPURAN -0.92%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Rusdi menyelamatkan kerajaan kupu-Kupu Bantimurung


Jumat, 26 November 2010 / 16:18 WIB
Rusdi menyelamatkan kerajaan kupu-Kupu Bantimurung
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Tri Adi


Untuk menekan penyusutan populasi kupu-kupu akibat penangkapan secara liar untuk keperluan komersial, Rusdi Idrus menggandeng warga Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan, menangkarkan hewan bersayap cantik ini. Tujuannya, agar populasi kupu-kupu, terutama di sana tetap terjaga dan masyarakat bisa mendapat penghasilan tambahan.

Bantimurung yang terletak di Kabupaten Maros merupakan salah satu tujuan wisata di Provinsi Sulawesi Selatan. Daya tarik tempat wisata ini, salah satunya adalah, keberadaan kupu-kupu dalam jumlah besar.

Saking banyaknya kupu-kupu di Bantimurung, Pakar Zoologi asal Inggris Alfred Russel Wallace sampai menjuluki daerah tersebut: the kingdom of butterfly alias kerajaan kupu-kupu.

Setidaknya, Wallace menemukan 270 jenis kupu-kupu di Bantimurung. Jumlah itu mewakili sekitar 10,8% jenis kupu-kupu yang ada Indonesia. Ada juga yang menyebut, dari 250 jenis kupu-kupu yang ada di dunia tidak termasuk negara kita, 150 di antaranya dapat ditemukan di tempat ini. Karena itu, tak heran, Bantimurung sering disebut sebagai taman kupu-kupu terlengkap di dunia.

Namun, populasi kupu-kupu yang ada di wilayah itu kini sudah jauh berkurang. Penurunan itu akibat penangkapan liar. Hasil penelitian Universitas Hasanuddin, Makassar mengungkap, dari sekitar 270 jenis kupu-kupu yang ada di Bantimurung pada 1997, sekarang hanya tinggal sekitar 103 jenis saja. Bisa dibilang, lebih dari setengah jenis kupu-kupu di kawasan tersebut telah punah.

Rusdi Idrus, pecinta lingkungan dari Institut Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (IPPM), mengatakan, berkurangnya populasi kupu-kupu di Bantimurung lantaran hewan bersayap cantik ini sudah menjadi komoditas komersial oleh masyarakat sekitar. "Mereka menjadikannya suvenir untuk dijual kepada para wisatawan," katanya.

Banyak kupu-kupu diburu untuk kemudian diawetkan. Serangga itu dijadikan suvenir dalam bentuk gantungan kunci, kalung, atau dibingkai. Suvenir insektorium kupu-kupu itu dijual mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 500.000.

Aktivitas penangkapan dilakukan setiap hari oleh penduduk setempat maupun pemburu liar dari pelbagai daerah. "Satu orang bisa menangkap kupu-kupu sebanyak 30 ekor setiap hari," ungkap Rusdi.

Perburuan tidak hanya mengurangi jumlah kupu-kupu, tapi juga larvanya. Calon kupu-kupu itu ikut rusak sehingga tidak bisa muncul kupu-kupu baru.

Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, sejak 2004 lalu, Rusdi dan teman-temannya di IPPM lantas menawarkan program konservasi kupu-kupu. Pelaksanaan program tersebut mengikutsertakan masyarakat sekitar yang selama ini menjadi pemburu liar kupu-kupu. "Jika mereka menjadi penangkap liar, program ini akan menjadikan mereka penangkap profesional," ujar Rusdi.

Program konservasi itu dengan mengembangkan budidaya kupu-kupu dalam suatu penangkaran. Melalui upaya ini, penangkapan bisa dilakukan lebih teratur dan berkelanjutan. Kupu-kupu yang ditangkarkan dibiarkan bertelur terlebih dulu. Setelah induknya mati, baru bisa dijadikan suvenir. "Kupu-kupu itu umurnya cuma dua sampai tiga minggu, jadi bisa dipanen setiap bulan," katanya.

Sampai saat ini, sudah ada dua kelompok masyarakat yang ikut program penangkaran kupu-kupu. Masing-masing kelompok terdiri dari 30 orang. Walau baru melibatkan 60 orang, Rusdi mengklaim dampak terhadap pengurangan populasi kupu-kupu di kawasan Bantimurung sudah cukup terasa.

Menurut Rusdi, setiap kelompok masyarakat yang melakukan penangkaran, setiap bulan mereka bisa "memanen" sekitar 70 ekor kupu-kupu. "Memang, cara ini tidak bisa menghilangkan penangkapan liar sekaligus, tetapi dengan begini bisa mengurangi penyusutan populasi kupu-kupu," kata pria berusia 30 tahun itu.

Aksi yang dilakukan oleh Rusdi dan teman-temannya di bawah bendera IPPM itu tidak hanya pada penangkaran kupu-kupu semata. Tetapi juga, dia membantu masyarakat dalam memasarkan hasil suvenir yang mereka buat dari hasil penangkaran kupu-kupu tersebut.

Setiap bulan, Rusdi bisa memasarkan sekitar 200 suvenir berupa insektorium kupu-kupu yang dibingkai. Sedangkan untuk suvenir yang bentuknya lebih kecil bisa mencapai 500 buah. Sekitar 40% suvenir tersebut dijual ke pembeli yang ada di Pulau Jawa, dan 35% produk lainnya ditawarkan ke wisatawan yang datang ke Bantimurung atau pembeli dari wilayah Sulawesi. Adapun sisanya diekspor ke sejumlah negara, seperti Jepang dan Kanada. "Biasanya, pembeli dari luar negeri untuk melakukan penelitian," tutur alumnus Universitas Islam Makassar itu.

Rusdi tidak hanya menampung hasil produksi dari dua kelompok binaan IPPM, tetapi juga suvenir kupu-kupu dari para penangkap liar yang juga warga Bantimurung. Tujuan menampung suvenir kupu-kupu dari para pemburu liar adalah, supaya mereka juga tergerak dan ikut serta dalam kelompok program penangkaran.

Hanya masalahnya, Rusdi mengungkapkan, jika jumlah kelompok terus bertambah, IPPM akan kesulitan menyediakan tempat penangkaran kupu-kupu. Sebab, saat ini, IPPM baru memiliki dua lokasi penangkaran. Kedua tempat itu hanya bisa menampung sekitar 150 ekor kupu-kupu penangkaran.

Untuk itu, Rusdi meminta peran pemerintah daerah ataupun lembaga lainnya dalam pembuatan tempat penangkaran kupu-kupu bagi masyarakat sekitar Bantimurung. Sebab, pembuatan satu tempat penangkaran dengan ukuran 105 meter persegi, paling tidak butuh biaya sekitar Rp 17 juta.





TERBARU
Terpopuler
Corporate Valuation Model Presentasi Bisnis yang Persuasif

[X]
×