kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sapto: Ide dari klien adalah kunci sukses (2)


Senin, 01 Agustus 2011 / 12:31 WIB
Sapto: Ide dari klien adalah kunci sukses (2)
ILUSTRASI. Sejumlah pesertaBPJS Ketenagakerjaan atau BPJAMSOSTEK memanfaatkan Layanan Tanpa Kontak Fisik (Lapak Asik) di Kantor Cabang Bogor Kota, Jawa Barat, Jumat (18/9/2020). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/pras.


Reporter: Fahriyadi | Editor: Tri Adi

Sebagai bekal untuk memulai usaha, Sapto Sardiyanto hanya menggarap maket pesanan mahasiswa dan rumah tinggal. Namun setelah merasa terampil menggarap dua macam pesanan itu, Sapto pun mulai mengikuti tender pembuatan maket proyek besar. Sejak saat itu, hasil karya Sapto mulai dikenal luas.

Bekerja "ikut orang" atau pun berbisnis sendiri memang harus penuh ketekunan dan kesungguhan. Itu pula yang dilakukan Sapto Sardiyanto. Pemilik CV Anindya Cipta Mandiri yang berdiri sejak 2001 ini pun sungguh-sungguh menekuni usaha pembuatan maket ini.

Bagi alumnus SMK Negeri 2 Wonosari bukan masalah meski harus memulai usaha dari bawah. Tak perlu gengsi meski order-order di awal usaha datang dari mahasiswa yang ingin dibuatkan maket sebagai kelengkapan tugas akhir. Atau sekadar mengerjakan maket pesanan dari pengembang-pengembang kelas gurem.

Bagi Sapto, semua order itu adalah pengalaman yang harus dia lalui. Pesanan maket dari para mahasiswa itulah yang mengembangkan ketrampilan Sapto. Maklum, maket sebagai salah satu kelengkapan presentasi bagi mahasiswa teknik arsitektur tak kalah rumit dengan maket-maket milik proyek-proyek swasta kelas kakap maupun maket pesanan pemerintah.

Selain maket mahasiswa, pelan-pelan Sapto juga mulai menerima maket rumah tinggal. "Saat itu, saya fokus menambah pengalaman dan ketrampilan saja," tuturnya.

Namun, berkat usaha dan pengalaman itu pula, perlahan tapi pasti, usaha yang dikembangkan pria kelahiran 1983 ini menunjukkan kemajuan. Memasuki 2004, Sapto mulai memberanikan diri mengikuti tender untuk pembuatan maket dari pengembang besar, baik milik pemerintah maupun milik swasta, dan menang.

Kemenangan tender perdana itu seperti jalan mulus bagi bisnis Sapto. Karena sejak itu, Sapto mulai ramai mendapat pesanan maket kawasan industri, apartemen, bandara, kawasan pertambangan, hingga maket biorama.

"Order untuk membuat maket rumah tinggal justru berkurang, hanya datang dari pelanggan-pelanggan tertentu saja," ujar pria yang sejak kecil senang membuat miniatur dari plastik ini.

Setelah usaha pembuatan maket semakin berkibar, Sapto mulai berani pameran. Bagi Sapto, ajang pameran selain sebagai arena unjuk keahlian, di situ dia bisa berpromosi secara gratis. "Di pameran tersebut, kami bisa mempromosikan produk kami dengan menampilkan logo Anindya lengkap dengan nomor telepon," jelas Sapto.

Menurut Sapto, seperti halnya berjualan via dunia maya, ajang pameran bisa menjadi arena marketing yang efektif karena pengunjung pameran biasanya adalah target pasar maket juga. Terbukti, usaha Sapto banyak mendapat respons setelah pameran itu. "Bahkan, beberapa klien justru mendapatkan rekomendasi dari kliennya yang lain," ucapnya.

Untuk mempertahankan pangsa pasar maketnya, Sapto tak berhenti mencari inovasi baru. Ia selalu memperkaya pengetahuannya tentang teknik pembuatan maket melalui buku. Ia juga sering mendapat banyak masukan dari kliennya.

Lelaki yang juga memiliki bisnis aksesori mobil ini menuturkan, kunci suksesnya menjalankan bisnis ini adalah setia mendengarkan setiap ide dan permintaan dari klien.

Sapto mengungkapkan, ide dan pemikiran kliennya justru kerap menjadi referensi baginya untuk lebih kreatif dalam membuat maket. "Kami menampung semua permintaan dari klien dan mencoba untuk merealisasikan keinginan klien itu demi kepuasan klien juga," ujarnya.

Sampai kini, dalam pengerjaan maket, Sapto masih mengandalkan ketrampilan tangan. Namun ia yakin, kualitas produknya tak kalah dengan produsen maket di Jepang dan China yang mulai menggunakan mesin untuk memproduksi maket. Apalagi, tambah Sapto, dengan polesan tangan, maketnya memiliki sentuhan seni. "Jadi penggunaan mesin dalam pembuatan maket hanya seperlunya saja," terangnya.

Sapto kini mulai memetik buah kerja keras dan kreativitasnya ini. Ia juga telah memiliki studio workshop sendiri sebagai tempat pembuatan maket. Padahal, sebelumnya, Sapto hanya menyewa rumah petak untuk bengkel maketnya.

Alhasil, ia acap mengalami kesulitan ketika harus membuat maket berukuran besar karena ukuran pintu rumah petaknya lebih kecil ketimbang ukuran maket.

(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×