kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Sentra burung Sukahaji: Rezeki meluber (2)


Senin, 14 Mei 2012 / 13:45 WIB
ILUSTRASI. IHSG menguat 12,09 poin atau 0,20% ke level 5.975,91.


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Tri Adi


Pasar Burung Sukahaji di Jalan Peta, Bandung, selalu ramai diserbu pembeli. Aktivitas jual beli juga meluber hingga ke trotoar jalan di depan pasar. Maklum, banyak pedagang yang tak kebagian tempat di pasar berjualan di trotoar. Lantaran lebih murah, mereka banyak mendapat penghasilan dari pembeli borongan.

Pasar Burung Sukahaji di Jalan Peta, Bandung, merupakan pasar burung terbesar di wilayah Bandung, Jawa Barat. Namun, pasar seluas 5.800 meter persegi ini sudah tidak sanggup lagi menampung para pedagang yang ada. Akibatnya, banyak pedagang yang membuka lapak hingga ke trotoar jalan di depan pasar.

Bahkan, pedagang sudah menggelar barang dagangannya di trotoar sejak 500 meter sebelum masuk pasar. Aktivitas jual beli di trotoar ini tidak kalah ramainya dibandingkan dengan di dalam pasar.

Ketika KONTAN menyambangi pasar ini, Minggu (22/4), jumlah pengunjung terlihat membeludak dan memenuhi setengah jalan raya. Alhasil, kondisi itu menimbulkan kemacetan, sehingga pengendara harus melambatkan kendaraannya.

Pasar di trotoar ini ramai diserbu pembeli karena harganya lebih murah dibanding di dalam pasar. Pasalnya, burung yang diperdagangkan umumnya belum bisa berkicau atau masih bahan yang baru ditangkap dari hutan.

Selain itu, mereka juga tidak membayar sewa kios. "Kami hanya membayar uang kebersihan Rp 2.000 per hari," ujar Yosef, pedagang yang membuka lapak di trotoar jalan.

Untuk menarik perhatian konsumen, terkadang mereka juga menjual burung yang sudah mulai bisa berkicau dengan harga lebih murah. Tetapi, pembeli harus membeli secara borongan.

Sekali borong, para penjual burung bisa mendapatkan hingga puluhan juta dari si pembeli. Contohnya, Adi Kurniawan, pedagang burung di Pasar Sukahaji ini. Jika ada pembeli borongan, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 8 juta sampai Rp 10 juta hanya pada hari itu juga. "Belum lama ada pembeli dari Lampung yang memborong 12 burung sekaligus," jelas Adi.

Untuk pembeli borongan ini, ia memberikan potongan harga. Contohnya, burung murai. Jika belum lancar berkicau burung ini dibanderol Rp 1,2 juta per ekor. Tapi, jika ada pembeli borongan, harganya diturunkan menjadi Rp 900.000 per ekor.

Yosef juga kerap mendapat pembeli borongan. Jika sedang ada pembeli borongan, ia bisa meraup omzet Rp 2,5 juta dalam sehari. Umumnya, pembeli borongan ini merupakan pedagang atau pehobi burung juga di daerah asalnya. Burung yang mereka beli biasanya masih bakalan. Kalau pun sudah berkicau, paling-paling baru di tahap belajar.

Stanislaus, pedagang lain juga mengaku sering ketiban rezeki dari mereka yang membeli burung secara borongan ini. Jika biasanya meraup omzet rata-rata Rp 600.000 per hari, kalau ada borongan omzetnya naik menjadi Rp 3 juta.

Kendati demikian, pembeli borongan ini tidak setiap hari ada. Dalam sebulan paling hanya ada satu sampai dua kali. Selebihnya, mereka lebih banyak melayani pembeli dari wilayah Bandung dan sekitarnya.

Untuk menarik minat pembeli eceran ini, pedagang biasanya menjual burung plus sangkarnya dengan harga miring. Sebagai contoh, burung kutilang emas yang dibanderol Rp 150.000 per ekor. Agar konsumen tertarik, harga diturunkan sedikit maka pembeli sudah mendapatkan burung dan sangkar. "Biasanya sangkar burung kami jual dengan harga Rp 10.000," ujar Adi.

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×