kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Sepatu trendi dari kulit ayam ceker (bagian 1)


Sabtu, 23 November 2019 / 11:10 WIB
Sepatu trendi dari kulit ayam ceker (bagian 1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu hal terpenting dalam menjalankan usaha adalah adanya inovasi. Langkah inilah yang dilakoni Nurman Farieka Ramdhany, produsen sepatu kulit dengan label Hirka.

Sebagai produsen sepatu kulit, Nurman punya cara unik dalam memasarkan produknya kepada khalayak. Pasti kita pada umumnya mahfum bahwa bahan baku kulit untuk produk sepatu sebagian besar berasal dari kulit sapi. Kalaupun ada yang lebih eksotis lagi  dan lain daripada yang lain adalah yang berasal dari kulit binatang melata. Ambil contoh buaya, biawak, ular atau yang lainnya.

Baca Juga: Lewat sepatu, mantan pengamen ini wujudkan mimpi jadi pengusaha

Namun seiring dengan makin naiknya tren peduli lingkungan termasuk penggunaan produk dari kulit hewan, Nurman memutar otak bagaimana caranya membuat produk sepatu dari kulit hewan yang tidak mengganggu kelestariannya. Hingga akhirnya pilihannya jatuh kepada kulit ayam, terutama dari kulit ceker atau kaki ayam.

Baca Juga: BIsnis alas kaki Kara & Putri beromzet ratusan juta

Pertimbangannya kala itu sederhana saja. Pasokan ceker sangat berlimpah lantaran ayam potong menjadi salah satu kebutuhan pokok banyak orang.

Tapi, persoalan berikutnya timbul. Yakni bagaimana mengaplikasikan kulit ceker ayam tersebut menjadi bahan baku produk sepatu. Ia sendiri harus melakukan penelitian mendalam untuk membuat produk tersebut. Dan butuh waktu dua tahun yang dimulai sejak tahun 2015 sampai tahun 2017.

Kebetulan ilmu pembuatan sepatu dari kulit ia dapatkan dari sang ayah yang pernah mengenyam pendidikan di bidang perkulitan. Ia sebut pada dasarnya, proses pengolahan kulit ayam dengan yang lainnya, seperti saat mengolah kulit sapi  atau buaya dan lainnya.

Prosesnya melalui tahap persiapan bahan, penyamakan kulit hingga finishing. Adapun kulit kaki ayam yang dipakai adalah kulit bagian dalam yang berwarna putih bukan kuning.

Adapun bahan baku kulit ayam sendiri ia dapatkan dari para pemasok. Untuk setiap kali produksi sepatu, biasanya satu minggu, ia biasanya butuh kulit ayam antara 20 kilogram sampai 50 kilogram. Harganya sekitar Rp 30.000 per kilo. Biasanya, sisa atau limbah tulang ayam yang tidak terpakai ia gunakan atau jual untuk keperluan pakan ternak.

Dari bahan baku tersebut, ia minimal bisa  membuat 10 pasang sepatu kulit ayam per minggu. Dalam satu bulan, rata-rata bisa mencapai 40 pasang sepatu.

Saat ini Hirka memiliki dua jenis produk. Yakni sepatu formal dan kasual untuk pria dan wanita. Dengan banderol harga yang termurah
Rp 500.000 per pasang sampai Rp 6 juta per pasang.

Keberadaan produk unik tersebut ternyata bisa menyita perhatian para  penggemar produk fesyen. Toko offline Hirka yang ada di kota kembang Bandung kerap kali dikunjungi penggemar. Tidak cuma dari sekitar Bandung saja, tapi juga dari daerah lainnya.

Hasilnya, dalam sebulan, rata-rata dirinya bisa mengantongi omzet minimal sekitar Rp 40 juta sampai Rp 60 juta. Sebagian besar pembeli kebanyakan berasal dari toko offline. Maklum, para pembeli lebih suka melihat langsung produk khas tersebut, ketimbang harus membelinya secara online yang ia promosikan via media sosial.      

 (Bersambung)




TERBARU

×