kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   -25.000   -0,88%
  • USD/IDR 17.310   97,00   0,56%
  • IDX 7.379   -163,01   -2,16%
  • KOMPAS100 1.004   -27,06   -2,62%
  • LQ45 716   -20,09   -2,73%
  • ISSI 267   -5,87   -2,15%
  • IDX30 393   -8,15   -2,03%
  • IDXHIDIV20 483   -9,27   -1,88%
  • IDX80 112   -3,07   -2,66%
  • IDXV30 140   -1,20   -0,85%
  • IDXQ30 126   -2,76   -2,14%

Terkendala pencemaran air & hama pemangsa (3)


Selasa, 03 Juni 2014 / 14:07 WIB
ILUSTRASI. Jadwal La Liga Spanyol 2022/2023 Almeria vs Real Sociedad.


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Havid Vebri

Sentra budidaya ikan nila di Dusun Nayan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta sudah semakin berkembang. Namun demikian, para pembudidaya masih menghadapi beberapa kendala dalam mengembangkan usahanya.

Heri Santoso, salah seorang pembudidaya ikan nila di sentra ini, sekaligus ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mino Ngudi Lestari, bilang, saat ini ada dua kendala utama yang mereka hadapi, yakni pencemaran air dan hama.

Menurut Heri, budidaya ikan nila di sentra ini masih mengandalkan pasokan air dari Selokan Mataram. Meski pasokan air mencukupi, namun sejak beberapa tahun terakhir, kualitas air sudah menurun.

Air di sungai ini banyak tercemar limbah dari tempat–tempat usaha laundry. Kebetulan di daerah hulu sungai ini, banyak sekali pelaku usaha laundry yang memanfaatkan sungai ini sebagai tempat pembuangan limbah.

Kondisi air yang sudah tercemar membuat budidaya ikan nila terganggu. Banyak ikan yang mati, terutama saat air berwarna keruh. Agus Mintolip, anggota KPI Mino Ngudi Lestari membenarkan kondisi tersebut.

Ia bilang, jika air tercemar dan berwarna keruh, ikan tidak akan mau makan. “Kami tentu rugi, pakan yang kita kami beli jadi sayang terbuang,” ujarnya.

Untungnya, menurut pria yang akrab disapa Minto ini, sudah ada upaya untuk mengatasi kendala itu. Sebagai binaan PT Pertamina, mereka kerap mendapat penyuluhan. Salah satunya cara mengatasi air yang tercemar.

Dari penyuluhan itu, mereka tahu bahwa saat air dalam kondisi sangat keruh dan tercemar, ikan tidak boleh diberi makan. “Ikan baru boleh dikasih makan saat air sudah mulai jernih,” ujarnya.

Di samping itu, untuk mengurangi dampak negatif pencemaran air, saat panen usai, kolam tidak boleh langsung ditebar dengan benih ikan yang baru. Kolam harus terlebih dulu dikeringkan dan setelah kering diberikan pembersih kuman.

Selain itu, mereka juga diajari teknik mengolah air dari Selokan Mataram agar bisa lebih bersih. “Setidaknya dengan cara-cara tersebut, tingkat kematian ikan sudah sedikit berkurang,” ujar Minto.

Selain air, persoalan hama juga kerap menghambat perkembangan usaha mereka. Ada beberapa binatang pemangsa ikan yang mereka sebut hama, seperti hewan regul dan burung.

Heri bilang, kolam-kolam ikan nila di sentra ini banyak diganggu binatang tersebut. Regul merupakan binatang yang hidup di pinggiran sungai yang bisa masuk ke dalam air.

Saat malam hari, regul itu bisa datang sampai ratusan ekor untuk memangsa ikan. Untuk mengatasi binatang pemangsa itu, harusnya setiap kolam perlu dipagari.

Namun, lantaran terkendala biaya, akhirnya pembudidaya ikan nila hanya memasang lampu di pinggiran kolam.            

(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×