PELUANG USAHA
Berita
Bisnis benderang dari lampu benang

PELUANG BISNIS LAMPU BENANG

Bisnis benderang dari lampu benang


Telah dibaca sebanyak 18949 kali
Bisnis benderang dari lampu benang

Membuat kreasi yang menghasilkan laba dan laku dijual ke pasar tidak harus rumit. Dengan hanya berbahan benang pun, oleh tangan kreatif bisa disulap menjadi lampu hias nan unik. Dengan modal murah, kreasi lampu dari benang bisa mencetak laba berlimpah.

Membuat kerajinan lampu mungkin sudah biasa. Tapi kerajinan lampu dengan bahan baku utama benang jahit merupakan kreasi yang unik dan menuntut kreativitas yang tinggi.

Kreasi hiasan dari bahan dasar benang ini bisa digunakan sebagai kreasi misalnya  untuk cangkang lampu hias, baik yang ditempel di dinding, digantung menyerupai lampion, maupun lampu duduk yang biasanya menjadi interior di samping peraduan.

Dengan desain yang kreatif plus mengikuti tren model yang lagi hot, bisnis kreatif ini bisa laris manis. Dalam kondisi normal, para perajin cangkang lampu kreatif berbahan baku benang ini bisa mencetak omzet usaha mulai dari Rp 10 juta per bulan hingga Rp 60 juta sebulan.

Bisnis ini juga diyakini masih bisa moncer di masa depan. Asal perajin tetap tidak berhenti berkreasi dengan menciptakan model-model baru yang bisa terserap oleh selera pasar.

Seperti yang dilakukan oleh Ega C. Raymandha, salah seorang perajin lampu dekorasi di bawah bendera usaha ThreadBall asal Bekasi, Jawa Barat. Ia bilang, modal utama usaha yang ia miliki adalah keahlian dan ketrampilan mengolah benang jahit.

Benang jahit digulung menyerupai bola atau mengikuti kerangka kotak lalu diberi lem untuk  mengeraskan. Setelah keras, baru proses pembuatan motif dari lampu yang diinginkan.

Ega memulai bisnis ini bersama dengan teman-temannya mulai sejak tahun 2011 lalu. Dengan menggunakan bahan dasar benang jahit berbagai warna, mereka bisa menciptakan aneka kerajinan lampu dekorasi dengan berbagai karakter.

Saat ini, ThreadBall menghasilkan beberapa kreasi, seperti aksesori pembungkus parfum mobil, suvenir, juga lampu duduk untuk kamar tidur yang berbentuk segi empat memanjang.

Bagi Ega, proses produksi yang paling sulit adalah saat mendapat pesananan cangkang lampu berkarakter menyerupai wajah manusia. Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Soalnya harus menyesuaikan karakter yang menyerupai wajah manusia seperti membuat mata, kumis, topi yang biasanya melekat pada karakter tokoh tertentu.

Dalam sebulan, Ega bersama teman-temannya dibantu sekitar delapan orang karyawan bisa memproduksi sekitar 400 item. Lampu dekorasi dari benang ini dijual dengan harga Rp 100.000 - Rp 120.000 per buah. Ia mengklaim, kalau lagi laris, omzet usahanya bisa mencapai Rp 60 juta sebulan. "Harga tergantung kerumitan pembuatan setiap produk," paparnya.

Cornelia Trisiana Lila juga terinspirasi untuk memproduksi produk serupa di Yogyakarta. Perempuan usia 30 tahun yang akrab dipanggil Lila ini memulai usaha pada 2008 dengan merek Bolah Bundhet.  "Waktu itu lampu hias dari benang jahit hanya terkenal di Jakarta, jadi saya punya terinspirasi memasarkan di Yogyakarta," kata dia.

Dalam sebulan, ia bisa memproduksi hingga 200 buah lampu hias. Harga produknya berkisar Rp 40.000-Rp 55.000 per buah. Jadi, dalam sebulan ia bisa mengantongi omzet sekitar Rp 10 juta.

Gilang Wilastra, juga  ikut terjun ke bisnis ini. Pria asal Yogyakarta ini baru mulai menjual lampu benang dalam sebulan terakhir. Ia mengajak seorang rekan yang memiliki keterampilan membuat kerajinan tangan.

"Karena kami lihat sedang tren kami ikut jual. Kami mengikuti cara pembuatannya di Google saja," tutur Gilang. Dalam sebulan, penjualan Gilang sebanyak 60 buah lampu dengan omzet Rp 6 juta.


Ikut karakter kartun

Agar permintaan pasar tetap lancar, Ega, Lila maupun Gilang memilih cara praktis meniru karakter tokoh yang sedang digrandrungi pasar. Misalnya, Angry Bird. Ega memiliki produk artistik lampu yang telah dibuat seperti wayang light on, Bali dancer light on. Ia juga mengandalkan tokoh kartun Angry Bird red, Helly Kitty, Monkey, Garfield, Smilery, Pinguin, King Pig, Piggy white-pink, juga Chiky.

Ega merasa permintaan terhadap produk ini tergolong tinggi. Meskipun baru membuka usaha ini kurang dari dua tahun, tapi permintaannya sudah banyak. Sebab, Ega melayani permintaan pembuatan dekorasi lampu berdasarkan pesanan pelanggan. Saat ini, produk ini dijual di Jabodetabek, Makasar, Medan, Aceh, Kalimantan. Dalam sebulan, rata-rata Ega bersama teman-temannya bisa meraup profit sekitar 30% hingga 40% dari omzet.

Trik yang sama dilakukan oleh Lila. Ia juga memproduksi lampu hias dari benang berbentuk karakter kartun, seperti Angry Birds, Doraemon, Hello Kitty, Elmo, dan Micky Mouse. Sedangkan fokus pasar dia ada di Jakarta, Bandung, Makassar, Lampung, dan Medan.

Adapun Gilang mengandalkan produk lampu hias dari benang dengan karakter tokoh kartun Tazmania dan Nemo. Produk  Gilang saat ini menyasar pasar di Palembang, Madiun, Yogyakarta, dan Jakarta.                  


Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 18949 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..