PELUANG USAHA
Berita
Landak mini, bisnisnya masih setajam durinya (1)

BUDIDAYA LANDAK MINI

Landak mini, bisnisnya masih setajam durinya (1)


Telah dibaca sebanyak 5031 kali
Landak mini, bisnisnya masih setajam durinya (1)

Seorang peternak landak mini skala besar di Jakarta kewalahan memenuhi pesanan dan sampai kehabisan stok. Omzetnya Rp 30 juta sebulan.

Bisnis landak mini masih tajam hingga kini. Seorang peternak landak mini skala besar di Jakarta kewalahan memenuhi pesanan para pelanggan dan sampai kehabisan stok landak mini. Omzetnya sampai Rp 30 juta per bulan.

Landak mini atau hedgegog dikenal sebagai mamalia kecil yang memiliki lapisan kaku, yaitu duri runcing menutupi seluruh punggungnya. Saat terancam, landak mini akan menggulung seperti bola.

Dengan ukuran yang mungil, banyak orang kesengsem memelihara landak mini sebagai peliharaan. "Permintaan datang bertubi, dari anakan sampai indukan," tandas Cuncun Setiawan, peternak landak mini di Bintaro, Tangerang. Tak cuma dari Pulau Jawa, permintaan juga datang dari Medan, Palembang, Makassar.

Menjadi tren sejak tahun 2009, kecintaan pehobi landak hingga kini belum memudar, terus menjalar ke seluruh wilayah Tanah Air. Cuncun yang juga memiliki usaha lobster air tawar dengan nama Bintaro Fish Center ini sampai kehabisan stok. "Sekarang tinggal satu pasang anakan saja," ujarnya senang. Para pembeli adalah pehobi landak mini dan calon pengusaha yang mau berbisnis dengan membudidayakan landak mini.

Merintis bisnis landak mini sejak Februari 2008, Cuncun awalnya hanya memiliki sepasang landak mini. Budidaya lantas ia lakukan hingga landak mengembang menjadi 300 induk. Beberapa varian landak mini yang ia kembangkan adalah albino, algerian, salt and pepper, pinto, silver, charcoal, dan silver charcoal.

Lalu, ada juga platinum dasar hitam, platinum dasar cokelat, brown, brown snowflake, cinnamon, dan black eyed cinnicot. "Yang paling banyak dipesan jenis albino, pinto, dan salt and pepper karena murah harganya," ujarnya.

Cuncun membanderol landak mini anakan Rp 1 juta hingga Rp 10 juta per pasang. Adapun, landak mini induk ia jual Rp 1,5 juta sampai Rp 15 juta per pasang.

Saat ini, ia tengah mengimpor induk landak mini dari Thailand. Dua jenis yang diimpornya yakni rubby eyed cinnicot dan algenian. Sesuai dengan namanya, rubby eyed cinnicot bermata rubi dengan duri kuning. Adapun algerian memiliki duri lebih hitam dari jenis salt and pepper yang punya duri abu-abu.

Harga jual anakan ruby eye cinnicot biasanya lebih mahal mencapai Rp 8 juta per pasang. "Ada yang mau beli Rp 12,5 juta per pasang tapi tidak saya lepas karena saya lagi kembangkan induk," kata Cuncun.

Saat ini, Cuncun senang mengembangkan landak mini impor karena landak mini di pasaran Indonesia terlalu banyak yang sedarah. Landak yang sedarah, yakni berasal dari satu bapak dan satu ibu, berpotensi menghasilkan anakan dengan sifat yang lebih jelek dari orang tua atau tidak lebih baik dari induknya. "Tapi, saya menghindari perkawinan sedarah," kata Cuncun yang mengaku bisa mendapat omzet Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per bulan.

Peternak landak mini lain, Yoshi juga mengalami peningkatan permintaan landak mini. "Penjualan saya tahun ini meningkat 20% dibandingkan dengan tahun lalu," kata Yoshi kini punya 100 landak mini yang ia ternakknya di rumahnya.

Pemuda berusia 25 tahun ini melego sepasang landak mini bayi berjenis albino seharga Rp 800.000 per pasang. Untuk landak mini bayi salt and pepper Rp 900.000 per pasang. Jenis platinum, ia patok dengan harga Rp 5 juta per pasang. "Banyak orang mencari landak mini bayi agar lebih jinak kalau besar," tutur Yoshi.

Saban bulan, Yoshi bisa menjual rata-rata 10 pasang landak mini. Penjualannya masih di Pulau Jawa. Ia belum merambah luar Pulau Jawa karena terhambat cara pengiriman.

(Bersambung)

Telah dibaca sebanyak 5031 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Bisnis properti tiarap dulu

    +

    Industri properti menyambut 2014 dengan pesimistis.

    Baca lebih detail..

  • Mobil baru bermunculan kendati pasar stagnan

    +

    Pelemahan ekonomi membuat pasar otomotif tak melaju cepat.

    Baca lebih detail..