: WIB    —   
indikator  I  

Menjahit laba dari jualan baju muslim khas India

Menjahit laba dari jualan baju muslim khas India

Bicara soal fesyen memang tak ada habisnya. Setiap saat selalu saja ada tren baru yang muncul di dunia fesyen. Biasanya tren itu tak jauh-jauh dari model dan motif yang lagi digemari. Nah, di Indonesia kini sedang tren pakaian India. Munculnya tren ini tak lepas dari menjamurnya tayangan film-film India di Indonesia.

Munculnya tren ini mendorong banyak orang untuk menjual baju khas India. Salah satu pemainnya adalah Diana. Perempuan 24 tahun ini sudah satu tahun ini berjualan pakaian khas India di kawasan Dubai Street, Thamrin City. "Tren pakaian india ini tidak terlepas dari film-film India. Biasanya pengunjung banyak mencari pakaian yang sering dipakai sama para pemeran film India di televisi," katanya kepada KONTAN.

Ia fokus menjual pakaian muslim corak India. Menurut Diana, pakaian India dimianti karena memiliki warna-warna cerah tapi kesannya tetap elegan. Ditambah lagi banyak border, payet, dan sulaman, sehingga menjadikan pakaian ini terlihat menarik.

Pakaian ini juga identik dengan berbagai macam motif-motif dan hiasan-hiasan bernuansa India. Kesannya yang mewah, membuat pakaian ini biasa dipakai untuk momen-momen tertentu, seperti Hari Raya Idul Fitri atau ke pesta. Bahan baku pakaian ini pun banyak memakai kain sutera, beludru, hingga katun.

Sejak muncul tren pakaian India, ia mengaku omzet yang didapatnya meningkat. Apalagi saat bulan Ramadan dan Lebaran. Dalam sebulan, ia bisa menjual minimal 20 potong lebih pakaian muslim India, dengan omzet sebesarĀ  Rp 30 juta per bulan.

Toko ini menjual berbagai jenis pakaian muslim India, mulai dari kaftan, anarkali, slim feet, tunik, dan dress. Semua pakaian ini berjenis long dress. Pakaian muslim India ini dibanderol mulai Rp 500.000 hingga Rp 1,8 juta per pakaian.

Diana mengaku, pakaian tersebut langsung didatangkan dari Bombay, India. Konsumen pakaian India ini beragam, mulai dari anak muda hingga ibu-ibu. Biasanya untuk kalangan ibu-ibu banyak yang mencari pakaian berjenis kaftan.

Sedangkan anak muda biasanya memilih pakaian jenis dress, anarkali, dan slim fit. "Yang paling laris saat ini adalah anarkali," ujarnya.

Pemain lainnya adalah Irfan. Pria keturunan india ini sudah lama berbisnis pakaian India. Awalnya ia berjualan di India, dan sejak satu tahun lalu ia memutuskan untuk pindah ke Indonesia.

Lewat brand Rawaj, ia menjual berbagai macam pakaian, sepatu, hingga aksesoris khas India. Ia mengaku, penjualannya meningkat seiring dengan pakaian India yang saat ini banyak dipamerkan di stasiun televisi. "Pakaian India sekarang sudah sering masuk televisi, jadi sudah terkenal," tuturnya.

Pakaian di tokonya dihargai mulai Rp 250.000 hingga Rp 1,5 juta. Dalam sebulan ia bisa menjual 100 potongĀ  dengan omzet Rp 50 juta per bulan.


Reporter Silvana Maya Pratiwi
Editor Hendra Gunawan

BISNIS FESYEN

Feedback   ↑ x
Close [X]