PELUANG USAHA
Berita
Sentra ikan hias Parung: Terbesar di Indonesia (1)

SENTRA IKAN HIAS PARUNG

Sentra ikan hias Parung: Terbesar di Indonesia (1)


Telah dibaca sebanyak 26827 kali
Sentra ikan hias Parung: Terbesar di Indonesia (1)

Barangkali sentra ikan hias di Pasar Parung, Bogor, termasuk sentra ikan hias terbesar di Indonesia. Sekali buka, sekitar 1.000 orang pembeli datang dari berbagai daerah. Mayoritas pembeli adalah para pedagang ikan hias. Tak heran jika perputaran uang di sana bisa mencapai Rp 500 juta sekali jualan.

Bisnis ikan hias memang tidak ada matinya lantaran jumlah penggemar ikan terus berjibun. Salah tempat favorit berbelanja ikan hias adalah sentra ikan hias Pasar Parung, Bogor, Jawa Barat. Dengan luas 800 m², sentra ini menjadi tempat berkumpul sekitar 250 pedagang ikan hias dalam menjajakan dagangannya.

Tak sulit menemukan sentra ini. Dari arah Ciputat, Anda tinggal lurus saja ke arah Parung. Setibanya di pertigaan Masjid Raya Parung, Anda tinggal belok ke kanan. Di sana, Anda akan menjumpai perempatan, setelah itu lurus saja ke arah Pasar Parung.

Dari perempatan, sentra ini berjarak kira-kira hanya 100 meter saja. Namun, Anda harap mencatat baik jadwal buka sentra ini. Dalam sepekan, sentra ini hanya buka tiga kali yakni tiap hari Senin, Rabu dan Jumat, mulai pukul 01.00-09.00 pagi.

Tahun 1990-an, para pedagang ikan hias ini berjualan persis di kompleks Pasar Parung. Namun, karena jumlah pedagang bertambah, tahun 2000 mereka direlokasi ke tempat yang sekarang.

Sentra ini sudah tersohor bagi para penggemar maupun pebisnis ikan hias. Salah satu pedagang ikan hias, Bobi asal Sukabumi bilang, mayoritas pelanggan sentra ini adalah para pedagang ikan hias dari Jakarta, Cilegon, Bandung, Lampung, dan Bengkulu. "Pembeli ikan hias di sini 90% adalah pedagang," imbuh Bobi yang sudah lima tahun membuka lapak di sentra ini.

Setiap sentra ini akan buka, Bobi dan karyawannya sudah membungkus ikan koi dan ikan mas ke plastik ukuran besar dengan isi oksigen sejak pukul 21.00. Satu plastik berisi 50 ekor ikan hias. Dia membawa ikan-ikan ini dengan mobil pikap ke Pasar Parung. "Saya buka lapak pukul 01.00 dini hari. Biasanya sudah ada pelanggan menunggu," ujar dia.

Sekali berjualan, Bobi bisa membawa sekitar 200 ekor hingga 400 ekor ikan koi dan ikan mas dengan beragam ukuran. Dia menjual ikan itu rata-rata Rp 5.000 per ekor sampai Rp 125.000 per ekor. "Omzet saya per sekali jualan sekitar Rp 4 juta dengan laba 50%," ungkapnya.

Bobi bilang, pasar ikan hias di Parung adalah yang terbesar di Indonesia. Sekali buka, hampir 1.000 orang datang. Bobi memprediksi perputaran uang hasil berjualan 250 pedagang bisa mencapai Rp 500 juta per sekali jualan.

Muhaimin, pedagang lain asal Ciseeng, Bogor menambahkan, jumlah pedagang ikan hias di sentra ini terus bertambah. Apalagi sewa lapak juga tak terlalu mahal. Ia sendiri menempati lapak ukuran 2 meter x 4 meter dengan ongkos sewa Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per tahun.

Muhaimin menjual berbagai macam jenis ikan hias mulai dari cupang, koki, koi, komet, siklid, tetra, moli, gupi, predator, arwana, dan platis. Dengan menjual lebih banyak jenis ikan, keuntungan yang diperoleh juga besar. "Omzet saya per sekali jualan bisa Rp 15 juta," kata Muhaimin yang mengaku ikan yang dijualnya merupakan ikan pesanan pelanggan.

(Bersambung)

Telah dibaca sebanyak 26827 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Bisnis properti tiarap dulu

    +

    Industri properti menyambut 2014 dengan pesimistis.

    Baca lebih detail..

  • Mobil baru bermunculan kendati pasar stagnan

    +

    Pelemahan ekonomi membuat pasar otomotif tak melaju cepat.

    Baca lebih detail..