PELUANG USAHA
Berita
Sentra konfeksi jins Cikijing: Beragam model jins tersedia di sini (1)

SENTRA KONFEKSI CELANA JINS CIKIJING, MAJALENGKA

Sentra konfeksi jins Cikijing: Beragam model jins tersedia di sini (1)


Telah dibaca sebanyak 5130 kali
Sentra konfeksi jins Cikijing: Beragam model jins tersedia di sini (1)

Jika Anda suka memakai celana jins, tak ada salahnya mampir ke Kecamatan Cikijing, Majalengka. Di sana ada 60-an konfeksi celana jins yang membuat beragam model celana jins. Selain melayani pasar di Jawa, mereka juga menjual celana hingga ke Kalimantan dan Sumatra.

Selain terdapat pusat kerajinan tangan, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, juga memiliki pusat industri kecil yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Salah satunya adalah pusat industri celana jins yang berada di Kecamatan Cikijing.

Di kecamatan yang berada di perbatasan Kabupaten Kuningan itu terdapat 60 konfeksi celana jins yang mempekerjakan ratusan penjahit dari warga setempat. Selain melayani pasar celana jins untuk Majalengka, mereka juga melayani permintaan dari kota lain di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Kalimantan dan Sumatra.

Untuk mencapai lokasi, setidaknya butuh waktu 1,5 jam dari pusat kota Majalengka. Jika Anda dari kota Bandung, butuh waktu empat jam untuk sampai di Kecamatan Cikijing.

Pengusaha konfeksi celana jins di Cikijing tidaklah bermukim pada satu desa. Mereka menyebar di lima desa, yakni di Desa Cikijing, Desa Kasturi, Desa Cidulang, Desa Sindangpanji, dan Desa Sukamukti.

Menurut warga, usaha pembuatan celana jins di Kecamatan Cikijing sudah ada sejak 1982 lalu. Adalah Nana Sudiana yang merintis usaha konfeksi celana jin. Usaha konfeksi Nana itu bernama Istana Jeans.

Menurut Fajrheena anak Nana, ayahnya mendirikan konfeksi celana terinspirasi dari usaha konfeksi serupa di Bandung. "Ayah ikutan buka konfeksi, apalagi Ibu saya memang pintar menjahit," terang perempuan yang akrab disapa Debi itu.

Pertama kali produksi, Istana Jeans menjual celana jins itu ke kota Yogyakarta. Waktu itu, ayah Debi berprofesi sebagai sopir yang rutin melakukan perjalanan ke Yogyakarta.

Setelah beberapa tahun, jumlah penjahit di Istana Jeans bertambah banyak. Namun memasuki tahun 1990-an, banyak penjahit di Istana Jeans mulai memisahkan diri dan mereka membuka konfeksi sendiri. "Sejak 1990-an itu jumlah konfeksi kian banyak," terang Debi.

Karena jumlah konfeksi bertambah banyak, pemilik konfeksi pun sepakat mengatur strategi supaya mendapat pembeli. Salah satu caranya adalah mencari pelanggan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan luar Jawa.

Konfeksi Aritona Jeans, misalnya. Usaha pembuatan celana berbahan denim itu berhasil mendapatkan pelanggan di Kalimantan. "Pemasaran kami sampai Banjarmasin," kata Yoyoh, karyawan di Aritona Jeans.

Menurut Yoyoh, untuk mendapat pelanggan celana jins di daerah itu tidak mudah. Ia harus pintar menyesuaikan selera pasar. Caranya dengan memperbanyak pilihan dan ragam model celana.

Saat ini, Aritona Jeans memiliki model celana jins standar, model kargo serta model celana pensil, atau celana yang memiliki ukuran sempit di bagian pergelangan kakinya.

Soal harga jual, pemilik konfeksi celana jins di Cikijing menjual harga rata-rata antara Rp 60.000 sampai Rp 90.000 per potong. "Pasar kami kebanyakan kalangan menengah ke bawah," terang Yoyoh.

Saban bulan Yoyoh mampu menjual 10.000 potong celana jins dengan beragam model. Dari penjualan itu, perusahaannya mampu mengantongi omzet minimal Rp 600 juta per bulan.

Sementara itu, Istana Jeans mampu menjual 5.000 sampai 8.000 potong celana jins per bulan dengan omzet Rp 300 juta per bulan. "Kenaikan drastis penjualan terjadi mendekati Lebaran," kata Debi.

Guna memenuhi pasar celana jins itu, Yoyoh atau Debi menerapkan strategi pesanan borongan kepada penjahit. Mereka meminta penjahit membuat celana jins dalam jumlah banyak. "Cara borongan ini lebih cepat dan lebih efisien," kata Debi.

Selain pengusaha konfeksi, di Kecamatan Cikijing juga terdapat pengusaha aksesori celana. Salah satunya adalah Mamad Muhammad. Dia sukses menjual dua ton ritsleting celana jins per bulan. "Omzet saya bisa mencapai Rp 36 juta per bulan," kata Mamad.


(Bersambung)

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 5130 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..