PELUANG USAHA
Berita
Wagiran memberantas kemiskinan dengan budi daya ikan

SOCIAL ENTREPRENEUR WAGIRAN

Wagiran memberantas kemiskinan dengan budi daya ikan


Telah dibaca sebanyak 2573 kali
Wagiran memberantas kemiskinan dengan budi daya ikan

Menjadi mantan pecandu narkoba, bukan berarti karier juga berhenti berputar. Dengan modal semangat dan kegigihan, Wagiran memulai usaha budi daya ikan dan membentuk Kelompok Pembudi-daya Ikan Trunojoyo, di Kulonprogo, Yogyakarta. Dengan usaha itu, kini, ia berhasil mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat Kulonprogo.

Kemiskinan sudah jamak di negeri ini. Karena itu, pemberantasan kemiskinan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Namun, mengatasi kemiskinan tentu tak melulu hanya dengan memberi sedekah. Harus ada upaya untuk mendampingi masyarakat pra sejahtera itu untuk mampu hidup mandiri dengan mengembangkan suatu usaha.

Ya, hanya dengan mengembangkan usaha maka kemiskinan bisa terkikis. Konsep itulah yang diyakini Wagiran, warga Wates, Kulonprogo, Yogyakarta. Melihat kemiskinan masih merajalela di desanya, ia mengajak masyarakat di sekitar rumahnya untuk berbudi daya ikan lele dan gurami. "Saya ingin melihat masyarakat lebih makmur dan terpenuhi kebutuhannya," tuturnya.

Di usianya 41 tahun, Wagiran kaya akan pengalaman hidup. Sebelum menjadi pengusaha pembibitan lele dan gurami seperti saat ini, Wagiran telah merantau ke beberapa daerah di Indonesia. Berbekal ijazah SMA, ia pergi ke Kalimantan.

Namun, di Tanah Mandau itu bukan pekerjaan layak yang didapatnya, Wagiran hanya diterima menjadi buruh kasar. "Apa saja saya lakoni, demi menyambung hidup," kenangnya.

Setelah tiga tahun hidup di Kalimantan, Wagiran memutuskan hijrah ke Bandung. Di Kota Kembang ini, Wagiran menemukan bisnis yang lumayan. Ia menjual baju sisa ekspor kepada kalangan mahasiswa.

Dua tahun berdagang baju, Wagiran pun dekat dengan konsumen yang sebagian besar adalah mahasiswa. Namun, kedekatan ini justru menjadi petaka. Ia malah terbawa arus dan terjerumus dalam kebiasaan menggunakan narkoba.

Wagiran baru menemukan titik balik setelah rekannya sesama pemakai narkoba tewas akibat over dosis. "Itu membuat saya sedih luar biasa," tandas Wagiran.

Berangkat dari kejadian itu, ia memutuskan beralih profesi. Pilihan Wagiran jatuh pada sebuah yayasan bernama Al Arif di kota kembang itu. Di tempat itu Wagiran bekerja sebagai tukang bersih-bersih, "Walau gajinya sedikit, namun yang penting berkah," ujarnya.

Ia menjalani pekerjaan itu hanya enam bulan. Wagiran lantas memutuskan kembali ke kampung halamannya di Yogyakarta. Di kota kelahirannya, Wagiran pun kembali bekerja seadanya.

Hingga suatu ketika, Wagiran bertemu dengan anak ketua yayasan Al Arif yang sedang kuliah di Yogyakarta. Untuk membiayai kuliahnya, si anak menjadi pembudi daya ikan. "Dari situlah saya berpikiran bahwa ternyata membudidayakan ikan bisa untuk membiayai kuliah," ingat Wagiran.

Tak butuh waktu lama, Wagiran pun segera memulai usaha perikanan ini. Dengan modal Rp 300.000, sisa gaji saat bekerja di yayasan, Wagiran memutuskan untuk langsung mencoba usaha budi daya lele.

Modal tersebut dipakainya untuk membangun kolam seluas 1,5 x 3 m2 dan membeli bibit ikan lele sebanyak 500 ekor. Setelah menjalani usaha ini selama dua bulan, Wagiran pun bisa memanen hasil usahanya. "Hasilnya cukup bagus," ujarnya.

Karena melihat prospek yang cukup bagus, Wagiran mulai mengajak warga bergabung. Tak lupa, ia memperluas lahan pembibitan dan mengajari warga bagaimana cara membudidayakan ikan.

Karena peminat budi daya lele semakin banyak, pada tahun 1998, Wagiran memutuskan membentuk Kelompok Pembudi-daya Ikan Trunojoyo. Sekarang, menurut hitungan Wagiran, jumlah kelompok yang tergabung dalam kelompok Trunojoyo ini sudah berjumlah sekitar 350 kelompok. Satu kelompok berjumlah 20 orang. Mereka memelihara ikan lele dan gurami di 1.200 petak kolam. Satu petak kolam pemeliharaan ini memiliki ukuran 4x8 m2.

Berkat usaha budi daya ikan ini pula, cita-cita Wagiran untuk meningkatkan kesejahteraan warga Kulonprogo tercapai. Kondisi ekonomi anggota kelompok Trunojoyo boleh dibilang berbalik 180 derajat.

Mereka yang dulu serba-kekurangan, kini mampu memiliki uang lebih untuk membeli berbagai keperluannya. Tak heran, kini mereka juga memiliki rumah sendiri, kendaraan, bahkan mampu memperluas lahan budi daya.

Karena kesuksesan mengangkat kesejahteraan warga lewat budi daya ikan, Wagiran pun mulai dikenal oleh berbagai kalangan. Ketua Kelompok Pembudi-daya Ikan Trunojoyo ini pun kerap menuai permintaan agar memberi pelatihan budi daya ikan lele dan gurami yang benar dari berbagai tempat. Salah satunya, di Lembaga Pemasyarakatan di Yogyakarta.

Tak hanya berbagi ilmu. Bagi warga yang tidak memiliki modal sama sekali. Wagiran juga memberikan bantuan permodalan. Ia memberi pinjaman bergulir.

Para petani yang menerima pinjaman ini untuk usaha pembudidayaan harus membagi keuntungan pada petani lain dan dirinya. Teknis pembagian hasilnya, 1/3 dari keuntungan untuk petani pembudi daya, 1/3 untuk mengembalikan investasi, dan 1/3 sisanya untuk Wagiran. "Namun jika dalam pembudidayaan ini nantinya gagal, yang menanggung kerugian saya," jelas Wagiran.

Selain memberi bantuan dalam pembibitan, perawatan, dan permodalan, Wagiran juga tidak melepaskan para petani begitu saja dalam hal pemasaran. Ia masih ikut membantu petani menjual hasil pembudidayaannya. "Saya punya banyak kenalan pengepul di Yogyakarta," ungkapnya.

Editor: Tri Adi
Telah dibaca sebanyak 2573 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Risiko berbeda, premi tiap daerah seharusnya berbeda juga

    +

    Dalam uji coba pertama, Jasindo mengkover 600 hektare (ha) lahan dengan biaya premi Rp 100 juta.

    Baca lebih detail..

  • Agar sukses, perlu insentif bagi penyuluh lapangan

    +

    Program asuransi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah untuk melindungi petani dari efek perubahan iklim. Hanya saja masih banyak kekurangan yang ditemui, seperti kurangnya sosialisasi dan tidak adanya insentif bagi penyuluh pertanian lapa

    Baca lebih detail..