kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Batik Harni, Bertahan Dua Generasi Berawal dari Dua Lembar Batik


Rabu, 07 Oktober 2026 / 06:00 WIB
Batik Harni, Bertahan Dua Generasi Berawal dari Dua Lembar Batik
ILUSTRASI. Kain dan busana produksi Batik Harni (Dok/Batik Harni)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Sanny Cicilia

Menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan bisnis bukan perkara mudah. Batik Harni berhasil masuk ke generasi kedua setelah dirintis Hani Zainoel dari awalnya usaha sederhana menjual dua lembar kain batik.

Ike Harni Juniati, pemilik Batik Harni, mengatakan bisnis tersebut awalnya dibangun sang ibu, Hani Zainoel, dengan tujuan membantu perekonomian keluarga. Modal awalnya pun terbilang sederhana, yakni dua lembar kain batik yang dipinjamkan oleh keluarga. Dari langkah kecil itu, Batik Harni perlahan berkembang hingga mendapatkan tempat usaha di Sarinah.

Perjalanan bisnisnya pun tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar terjadi saat kerusuhan 1998. Saat itu, seluruh barang dagangan dan peralatan kantor Batik Harni habis dijarah. Untungnya, satu pekan sebelum kerusuhan, Batik Harni baru saja mengirimkan pesanan ke luar negeri. Pengiriman tersebut kemudian menjadi penyelamat usaha. Pelemahan nilai tukar rupiah membuat nilai penerimaan dari transaksi ekspor meningkat signifikan ketika dikonversi ke rupiah. "Jadi ketika kurs berubah, selisihnya itu yang akhirnya menyelamatkan Batik Harni," ujar Ike.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Batik Harni. Setelah melewati masa sulit, usaha kembali dibangun dan terus berkembang. Saat ini, Batik Harni memiliki showroom di Jakarta Barat yang juga menjadi toko pertamanya. Selain itu, toko lainnya dengan merek Ibu Negeri berlokasi di Alun-Alun Grand Indonesia.

Basis produksi dan workshop dipertahankan di sentra batik Pekalongan untuk menjaga kualitas sekaligus kapasitas produksi.

Batik Harni memiliki kapasitas produksi 600 potong per bulan. Untuk mendukung kegiatan produksi, perusahaan mempekerjakan sembilan karyawan tetap serta menggandeng belasan perajin batik di Pekalongan.

Produk yang ditawarkan pun beragam, mulai dari pakaian jadi hingga kain batik. Harganya dipatok mulai dari Rp 299.000 untuk hem print pria hingga sekitar Rp 5 juta untuk kain ATBM (alat tenun bukan mesin) Baron. Batik Harni mencatat omzet Rp 150 juta–Rp 250 juta per bulan.

Bagi Ike, menjalankan bisnis batik bukan hanya soal mengejar penjualan. Ada nilai budaya yang ikut dipertahankan melalui setiap produk yang dihasilkan. "Yang membanggakan itu ketika produk kami disukai dan dibeli orang," kata dia.

Karakter produk menjadi salah satu kunci untuk bertahan di tengah persaingan. Ike melihat pasar batik masih terbuka bagi pelaku usaha yang mampu menghadirkan kreasi dengan karakter berbeda. Ia juga melihat perkembangan kanal digital membuka peluang pasar lebih luas. Penjualan secara online membuat produk batik lokal tidak lagi hanya bergantung pada konsumen di Indonesia. "Dengan online, pasar tidak terbatas Indonesia, tapi juga bisa seluruh dunia," kata dia.

Bagi Batik Harni, perjalanan dari dua lembar kain pinjaman hingga menjadi bisnis lintas generasi memperlihatkan bahwa keberlangsungan usaha batik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga tradisi. Kreativitas, kemampuan membaca pasar, serta keberanian beradaptasi menjadi bagian penting.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×