kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bisnis klinik kecantikan itu relatif


Minggu, 08 September 2013 / 16:56 WIB
Bisnis klinik kecantikan itu relatif
ILUSTRASI. Sebelum Membolehkan Anak Minum Kopi, Pahami Dulu Manfaat dan Efek Buruknya


Reporter: Revi Yohana, Noor Muhammad Falih, Marantina | Editor: Havid Vebri

JAKARTA. Mengunjungi klinik kecantikan sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat di perkotaan. Baik kaum perempuan maupun pria rajin menyambangi tempat-tempat yang menawarkan perawatan kulit dan kecantikan demi mendukung penampilan mereka. Tak ayal, banyak pelaku bisnis yang tertarik menggeluti usaha ini.

Lantaran pemain di bisnis klinik kecantikan terbilang marak, persaingan pun semakin ketat. Alhasil, mereka harus pandai-pandai memasang strategi dan menonjolkan keistimewaan layanan yang ditawarkan bagi pelanggan. Maklun, pelanggan layanan semacam ini cukup selektif dalam memilih klinik kecantikan.

Kali ini, KONTAN mengulas tiga tawaran kemitraan klinik kecantikan, yakni Estetiderma, MNC Clinic, dan House of Ristra. Ada kemitraan yang masih mengalami pertumbuhan jumlah mitra, namun ada pula yang stagnan, bahkan  melorot. Apa saja tantangan yang dihadapi para pemain di bisnis ini? Dan strategi apa yang ditempuh sehingga bisa bertahan? Berikut ulasannya.

Estetiderma

Klinik kecantikan yang berada di bawah naungan PT Estetika Dermanto Center ini berdiri sejak 1997 di Jakarta Selatan. Kemudian, klinik ini resmi menawarkan kemitraan pada 1998. Saat diulas Kontan pada Desember 2012, Estetiderma tercatat sudah memiliki 24 gerai. Tiga gerai milik pusat, dan sisanya gerai kepunyaan pusat.

Kini, sudah ada 27 gerai Estetiderma. Tiga gerai tambahan itu merupakan milik mitra di Depok dan Madura. Marketing Manager Estetiderma Agung Suhardi, menilai, persaingan usaha klinik kecantikan saat ini cukup ketat. Namun, ia masih optimistis dengan usaha tersebut. Pasalnya, kesadaran masyarakat mengenai kesehatan dan kecantikan semakin meningkat.

Menurutnya, persaingan ketat terutama terjadi di daerah perkotaan. "Di dalam kota,  persaingan sudah hiper kompetitif, makanya kami banyak mencari lokasi di daerah pinggir kota, seperti Bekasi dan Bogor," papar Agung.

Pihaknya juga rutin melakukan promosi, baik promosi oleh pihak pusat, promosi in clinic alias di masing-masing klinik, serta promosi gabungan pusat dan seluruh mitra. Dari sisi internal, pihak pusat juga melakukan pengembangan, seperti up grade keahlian dokter dan fisioterapi.

Bahkan, kata Agung, jika sedang ada tren layanan baru dalam dunia kecantikan di masyarakat, pihak pusat pasti melakukan riset untuk  melihat apakah jasa tersebut benar-benar dibutuhkan konsumen, tingkat keamanannya, dan efektivitas  layanan itu. "Jika sudah memenuhi seluruh syarat riset, akan kami kembangkan dan melatih tenaga ahli kami," bebernya.

Sekadar gambaran, Estetiderma menawarkan berbagai jasa perawatan kecantikan wajah, seperti laser, facial, mikroderma terapi, dan perawatan melalui obat-obatan merek Estetiderma. Saat ini, harga paket kemitraan Estetiderma sebesar Rp 275 juta, naik dibanding tahun sebelumnya, senilai Rp 174 juta. "Kenaikan ini seiring  harga perlengkapan yang juga naik," tutur Agung.

Paket kemitraan mencakup masa kerjasama dua tahun, pelatihan dokter dan terapis, alat-alat perawatan wajah, seperti alat microderma terapi, radio frekuensi pengencang  wajah, foto dinamik terapi, dan elektrokauster. Perlengkapan klinik seperti seprei, handuk, dan sarana promosi berupa spanduk, neon boks  dan poster juga termasuk paket kemitraan.

MNC Clinic

Klinik kecantikan asal Bandung, Jawa Barat ini beroperasi sejak 2006. Lalu, pada 2012, MNC Klinik menawarkan peluang kemitraan. Usaha ini berada di bawah naungan PT Best Waralaba.

Pada September tahun lalu, KONTAN mengulas kemitraan ini, di mana baru ada satu gerai milik pusat. Sayang, hingga kini, MNC Klinik belum juga mendapatkan mitra.

Reno Syafruddin, Executive Marketing PT Best Waralaba mengklaim, tidak adanya mitra sampai saat ini, karena harga paket investasi yang ditawarkan terlalu tinggi.

Menurutnya, beberapa waktu lalu, ada calon mitra dari Jakarta dan Papua, yang menyatakan berminat membeli paket investasi. "Nampaknya, karena investasi terlalu mahal, jadi mereka batal membuka usaha ini," ujar Reno.

Makanya, meski harga perlengkapan sekarang merangkak naik, namun pihaknya tidak mengerek besaran paket kemitraan MNC Clinic. Reno bilang, hingga kini MNC Clinic masih menawarkan tiga pilihan paket investasi, yakni senilai Rp 500 juta, Rp 750 juta, dan Rp 1 miliar.

Setiap  paket terdiri dari peralatan lengkap, berupa mesin perawatan wajah dan tubuh, bahan baku obat, tenaga dokter serta pelatihan. Perbedaan ketiga paket ini hanya dari sisi jumlah fasilitas yang didapatkan mitra, varian layanan, dan teknologi peralatan.

Calon mitra harus menyiapkan tempat seluas 80 meter persegi (m2) untuk paket Rp 500 juta. Sementara, untuk paket investasi Rp 750 juta dan paket Rp 1 miliar, calon mitra masing-masing harus menyediakan tempat seluas 120 m2, dan 200 m2.

MNC Clinic menyediakan beragam perawatan tubuh dan kecantikan. Program inject treatment meliputi body whitening, slimming body, mesohoir, botox, filler, dan nano phylosophy.

Sementara non-inject treatment terdiri dari chemical peeling, derma roller, laser therapy, dan radio frequency, dan facial. Tarif setiap perawatan di MNC Clinic mulai dari Rp 150.000 untuk jasa konsultasi dokter, hingga jutaan rupiah untuk tindakan perawatan.

House of Ristra

House of Ristra adalah waralaba yang berada di bawah bendera PT Ristra House. Usaha yang berpusat di Jakarta ini sudah berkecimpung di dunia kesehatan dan kecantikan sejak 1987. Baru pada 2005 silam, Ristra menawarkan waralaba.

Ketika KONTAN mengulas tawaran waralaba ini pada Desember 2012, House of Ristra sudah memiliki 22 cabang. Sayangnya, tahun ini ada beberapa gerai yang tutup.

Jadi saat ini, tersisa 18 cabang yang tersebar di beberapa wilayah seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.  "Dari 18 cabang itu, tiga cabang merupakan milik kami sendiri," ujar Irma Lubis, Corporate Public Relation PT Ristra House.

Irma menjelaskan, tahun lalu, memang ada beberapa gerai yang tutup karena mitra tidak memenuhi standar manajemen Ristra. "Kami ingin selalu memberi layanan maksimal pada pelanggan sehingga selalu melakukan evaluasi demi perbaikan," klaimnya.

Saat ini, House of Ristra sedang membenahi sistem, baik dalam manajemen maupun standardisasi sistem franchise. Hingga proses pembenahan sistem rampung, Ristra tidak membuka peluang untuk mitra baru bergabung.

Selain itu, Irma bilang, House of Ristra menambah beberapa layanan, seperti perawatan rambut. "Selama ini Ristra terkenal dengan perawatan wajah, makanya, kami menambah layanan ini untuk menjawab kebutuhan pelanggan," bebernya. Hal itu juga dilakukan  pihak Ristra untuk mempertahankan eksistensi sebagai one stop body and skin care.

Seiring harga beberapa perlengkapan dan bahan baku perawatan meningkat, pihak  Ristra pun telah mengerek tarif layanan pada tahun ini.
Jika sebelumnya biaya perawatan berkisar Rp 50.000 hingga Rp 350.000, kini tarifnya menjadi Rp 100.000 sampai Rp 390.000 untuk layanan non medis. Sementara, layanan yang membutuhkan penanganan dokter spesialis, tarifnya lebih tinggi dibanding harga layanan non medis .  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×