Reporter: J. Ani Kristanti, Melati Amaya Dori | Editor: Tri Adi
Seiring pertumbuhan kesadaran akan hidup sehat, semakin banyak orang tergerak untuk berolahraga. Acara beraroma olahraga pun marak digelar. Bagi pebisnis yang jeli, potensi bisnis dari tren baru ini cukup menarik.
Di sejumlah negara maju, olah raga berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Selain dari kegiatan olah raganya, berbagai komponen pendukung seperti peralatan dan perlengkapan penunjang olahraga, merupakan celah bagi pebisnis.
Tak hanya itu, terselip pula potensi bisnis bagi penyelenggara lomba dan pertandingan yang berkaitan dengan olahraga. Tengok saja liga sepak bola di Inggris dan Italia yang menjelma menjadi bisnis dengan perputaran uang yang besar. Atau, ajang lari maraton yang beberapa tahun belakangan ini semakin marak di dunia.
Menyusul tren yang berkembang di luar negeri, geliat masyarakat Indonesia akan olah raga pun mulai meningkat. Ini terlihat dari minat masyarakat untuk ikut berpartisipasi pada event olah raga, termasuk maraton, yang mulai banyak digelar beberapa waktu terakhir ini.
Dari sini muncul peluang untuk menyelenggarakan event serupa. “Peluangnya cukup bagus, mengingat tingkat kesadaran bergaya hidup sehat makin tinggi di kalangan masyarakat,” kata Andreas Kansil yang tahun lalu mendirikan Dunialari.com, salah satu penyelenggara lomba lari di Indonesia.
Andreas yang berpengalaman menjadi race director maraton yang digelar pemerintah itu, akhirnya membuat race management, setelah menyadari perkembangan komunitas lari, baik di Jakarta dan Bali. “Saya ingin perlombaan lari, maraton maupun triathlon, ini dikemas
dengan bagus,” kata Andreas yang pernah menjadi race director pada Bali Maraton dan Jakarta Maraton.
Peluang bisnis makin besar karena peminatnya terus bertambah. Bertha Gani, pendiri RunID, melihat jumlah peminat lomba lari kian banyak dari tahun ke tahun. “Tahun pertama menggelar lomba lari, jumlah rata-rata peserta hanya 300 orang, tahun berikutnya, berlipat hingga 800 orang,” kata dia.
Tak hanya datang dari dalam negeri, pelari dari luar negeri juga turut mengikuti maraton di Indonesia. Sejak akhir 2011, RunID telah menyelenggarakan lebih dari 12 lomba lari.
Tren lomba lari di kota-kota besar ini juga menular ke beberapa daerah lain. Tak heran, Dunialari.com menghelat acara serupa di Sungai Liat, Bangka, April lalu. “Meski di daerah, peminatnya banyak. Mereka rela bayar mahal demi ikutan lomba lari,” kata Andreas. Karena itulah, dia optimistis peluang usaha ini masih bagus ke depan.
Selain itu, lantaran potensial mendatangkan keramaian (crowded), perhelatan seperti ini banyak dilirik oleh korporasi. Baik untuk kegiatan promosi, maupun corporate social responsibility (CSR). “Permintaan program CSR dalam bentuk lomba lari dari korporasi sedang tren juga,” kata Andreas yang juga hobi lari ini.
Dalam menghelat lomba lari ini, biasanya race management mengutip biaya pendaftaran dari peserta. Dalam event yang pernah dilakukan, dunialari.com mematok biaya mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 400.000 bagi tiap peserta.
Jumlah peserta bergantung pada skala event. Untuk skala kecil, jumlah peserta berkisar antara ratusan. “Tapi, untuk skala besar, seperti Jakarta Maraton yang akan digelar Oktober nanti, pesertanya bisa mencapai 10.000 orang. Itu skala besar,” jelas Andreas.
Peluang akan semakin lebar, karena berbagai varian bisa dibuat. Misalnya, kid run yang menyasar anak-anak dengan jarak tempuh lima kilometer, dan vertikal run yang merupakan lomba menaiki sebuah gedung dengan berlari.
Lari lebih ekstrem yang biasa diminati kalangan menengah atas adalah ultra trail. Jenis lari ini menempuh track di luar jalan raya. Jika maraton berlangsung di jalan-jalan besar kota, lintasan ultra trail adalah alam bebas, seperti jalur pegunungan atau pantai.
Salah satu alasan Nefo Ginting, pendiri Asosiasi Lari Trail Indonesia dan Trail Runners, menghelat ultra trail di Indonesia adalah mempopulerkan jenis lari ini di Indonesia. “Kami tak ingin tertinggal jauh dengan tren yang berkembang di luar. Apalagi, penyelenggaran ultra trail di Indonesia sangat ditunggu pelari ultra,” ujar dia.
Bersama Hendra Wijaya, penggiat ultra trail, Nefo aktif mengikuti ultra trail di luar negeri. Dia melihat, alam Indonesia yang kaya sangat cocok untuk penyelenggaraan ultra trail. “Jangan sampai event organizer asing menguasai penyelenggaraan di sini karena keterlambatan kita,” tutur dia.
Potensi lari di alam bebas ini cukup besar, setelah dia menghelat ultra trail pertama pada 17 Agustus lalu di Gunung Rinjani dengan 142 peserta. Tak cuma pelari lokal, banyak peserta yang berasal dari luar negeri. Selain pelari lokal, Nefo juga melirik peserta dari negeri tetangga, Singapura dan Malaysia, yang memiliki banyak penggemar ultra trail.
Berbeda dengan lari maraton, biaya mendaftar lari ekstrem ini lebih mahal. Maklum, untuk menghelat race ini, berbagai hal mesti disiapkan. Saat menggelar Mount Rinjani Trail lalu, Trail Runners mematok biaya Rp 500.000 untuk peserta dalam negeri dan Rp 1 juta untuk peserta dari luar negeri.
Pemandangan indah
Lantaran belum memosisikan sebagai lahan bisnis, Nefo mengaku belum mengantongi keuntungan dari event ini. “Yang penting kami tidak nombok, karena sejak awal tujuan kami adalah memperkenalkan ultra trail di Indonesia,” kata Nefo. Meski begitu, ia optimistis kelak event ini bisa mendatangkan keuntungan, lantaran banyak orang terpesona dengan keindahan alam Indonesia.
Penyelenggaraan lomba lari ini bisa mendatangkan untung hingga 10% dari total pendapatan yang diperoleh race management. Asal tahu saja, penyelenggara lomba lari ini bisa mendapatkan duit dari biaya registrasi peserta dan dukungan sejumlah sponsor.
Omzet yang diperoleh tergantung dari skala dan tingkat kerumitan. Andreas menghitung, lomba dengan peserta 1.000 hingga 2.000 orang bisa meraih omzet Rp 700 juta hingga Rp 1,5 miliar. Sedangkan pendapatan full maraton dengan peserta lebih dari 10.000 sekitar Rp 5 miliar hingga Rp 10 miliar. Bertha pun menyebut, nilai omzet lomba lari yang ditangani RunID rata-rata lebih dari Rp 500 juta.
Layaknya usaha event organizer, perencanaan matang menjadi kunci sukses penyelenggaraan acara. Agar bisa merencanakan dengan rapi, sebaiknya penyelenggara punya pengalaman ikut lomba lari. Itulah sebabnya, banyak race management yang terjun ke bisnis ini, sebelumnya memang memiliki hobi berlari dan punya pengalaman ikut maraton.
Meski bisa dipelajari, dengan pengalaman sendiri akan memudahkan Anda untuk memahami berbagai aturan dan standar dalam menyelenggarakan lomba lari. Selain itu, race management juga harus memberi kenyamanan untuk peserta. Misalnya, menyediakan air minum dan makanan pada titik-titik tertentu, P3K, proses evakuasi dan lainnya.
Apalagi, jika menyelenggarakan ultra trail, panitia harus paham berbagai aturan mengingat lomba lari ini sangat ekstrem. Mereka harus menguasai medan, karena jarak tempuh lari ini cukup panjang, mulai dari 50 kilometer (km), 102 km, hingga 165 km. Menurut Andreas, hal terpenting yang harus disiapkan dalam lomba lari adalah mencari rute lari dan promosi. “Persiapan ini butuh waktu paling lama,” jelas dia. Waktu persiapan dalam lomba lari bisa berkisar enam bulan-satu tahun.
Dalam menentukan rute, ada beberapa komponen yang harus dipikirkan. Pertama, keamanan dan keselamatan peserta, termasuk kemungkinan mensterilisasi rute tersebut.
Kedua, panitia juga harus mempertimbangkan keindahan pemandangan di sekitar rute yang akan ditempuh. Ini termasuk memperhitungkan objek wisata yang mungkin dilewati.
Maklum, maraknya media sosial seperti, Facebook, Twitter dan Instagram, cukup berperan menggairahkan bisnis ini. Sering, peserta mengambil gambar dirinya atau pemandangan di sekitarnya untuk kemudian diunggah di akun pribadi masing-masing. “Waktu masih menghandel Bali Maraton, saya harus berpikir daerah persawahan yang dilintasi, pura apa yang mungkin dilintasi, dan banyak pertimbangan lain,” terang Andreas.
Pertimbangan pemilihan rute ketiga adalah kemudahan akses menuju lokasi tersebut. Kemudahan akses serta objek wisata ini juga menjadi poin penting untuk menarik minat peserta yang berasal dari luar daerah.
Setelah menentukan rute, Anda harus menentukan proses registrasi. “Biasanya, registrasi ini bersifat online, kecuali ada permintaan khusus dari pihak sponsor,” kata Andreas.
Untuk registrasi secara online, sebaiknya Anda membuat website khusus atau website yang terintegrasi. Dengan website sendiri sangat efektif untuk berpromosi sekaligus menjadi pusat registrasi. “Ingat, jangan membuat materi pendaftaran terlalu berat, agar peserta tak malas membacanya,” pesan Andreas. Berdasarkan pendaftaran inilah, maka panitia akan mempersiapkan kaos, logistik, makanan dan minuman yang dibutuhkan peserta.
Setelah proses rute dan administrasi rampung, maka Anda harus mempersiapkan infrastruktur lomba, termasuk gerbang start dan finish, pembatas jalan dan sponsor atribut. “Biasanya, itu dilakukan semalam sebelum eksekusi, ya,” kata Andreas.
Nah, pada pelaksanaannya atau hari H, panitia harus terlebih dulu memberikan briefing acara untuk peserta, pemantauan jalur, distribusi logistik ke titik-titik minuman, buah-buahan dan minuman isotonik. Saat finish, penyerahan medali dan hadiah dilakukan.
Ingin berlari di bisnis ini? Segera ayunkan langkah!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News