kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bunga bisa layu, bisnis bunga kering tetap segar (bagian 1)


Sabtu, 15 Juni 2019 / 11:00 WIB
Bunga bisa layu, bisnis bunga kering tetap segar (bagian 1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bunga identik dengan keindahan dan rasa sayang. Tak jarang orang akan memberi bunga kepada orang yang dikasihi. Tapi, kesegaran bunga ada batasnya. Kala sudah kering, acapkali orang langsung membuang bunga dan tangkainya yang sudah berubah tekstur menjadi kecoklatan dan lusuh.

Tapi siapa sangka justru dengan tekstur bunga kering itulah bisa menjadi peluang bisnis. Yakni dengan membuat rangkaian bunga dari bahan bunga kering. Malah, kreasi dari bunga kering ini tidak cuma melulu soal buket kembang saja atau standing flower. Pelaku usaha juga bisa mengemas bunga kering menjadi produk aksesori lainnya, seperti pembungkus ponsel, produk perhiasan dan masih banyak lagi yang lain.


Bisnis inilah yang digeluti Kartika Puspasari Kusnadi, melalui Magnolia Dried Flower. Ia merintis usaha ini sejak April 2015. Usaha ini berawal dari rasa sayang Kartika jika harus membuang rangkaian bunga yang ia miliki. Hingga suatu saat ia membuat satu kenang-kenangan bagi sang kakak ipar yaitu buket bunga pengantin kering dan dibingkai. "Suami saya bilang, kenapa tidak dibuat bisnis saja," kenangnya.

Akhirnya ia mendirikan Magnolia Dried Flower dan bertindak sebagai kreator dan pembuat bunga kering. Sedangkan sang suami sebagai pemasar bunga kering racikanya. Saat ini, produk bunga kering garapannya sudah dikemas dalam ragam bentuk. Ada di dalam bingkai, kaca, tetarium (wadah tembus pandang) hingga standing flowers.

Ia sendiri membuat bunga kering dengan dua metode. Ada cara modern menggunakan mesin pengering serta cara konvensional yakni pengiringan dengan memanfaatkan udara dan silika.

Sedangkan fungsi dari bingkai dan pembungkus bunga kering lainnya adalah untuk mempertahankan tekstur dan bentuk dari bunga kering tersebut.

Produk yang sudah jadi ia jajakan dengan harga mulai dari Rp 150.000 atau berbentuk paket bunga kering pernikahan dan suvenirnya hingga mencapai Rp 8,5 juta. Dengan rancangan tersebut, Kartika saban bulan dapat orderan dari 85 klien dengan omzet sekitar Rp 200 juta.

Pemain lainnya adalah Nikita Nathani, pemilik Pretty Preserves. Ia memulai bisnis bunga kering pada awal 2017 setelah menyelesaikan studi di Australia. "Awal mula promosi di Instagram dan banyak yang naksir," katanya.

Ia pun mulai perbanyak membuat produk bunga kering. Yang terbaru, pada Juli ini ia meluncurkan perhiasan gelang dan kalung dari bunga kering. Hasilnya, tak mau kalah dengan Magnolia Dried Flower, Nikita saban bulang bisa mendapat orderan ratusan aksesori dari bunga kering. Seperti 200 casing ponsel, ratusan gelang dan kalung.

(Bersambung)




TERBARU

Close [X]
×