kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Dari Limbah Menuju Ekspor ke 50 Negara


Sabtu, 07 Maret 2026 / 07:10 WIB
Dari Limbah Menuju Ekspor ke 50 Negara


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis bisa lahir dari keterbatasan dan keterpaksaan. Kondisi inilah yang dialami Aji W Santoso saat membangun Antique Creative Art (ACA) Company, wadah usaha pembuat miniatur kendaraan.

Bagi sebagian orang, limbah kartu perdana, korek api gas, hingga kotak nasi bekas hanyalah sampah. Namun, di tangan Aji W. Santoso, benda-benda tak berharga ini menjelma menjadi miniatur kendaraan bernilai seni tinggi. 

Dengan kondisi butuh uang dan terbebani warisan utang keluarga, Aji berupaya mencari usaha. Kala itu ia melihat banyak limbah seperti kartu perdana, korek api gas hingga kotak nasi bekas teronggok di tempat sampah. Terbersit keinginan untuk memanfaatkan barang limbah tersebut.

Kebetulan, dirinya menyukai hal-hal yang berhubungan dengan transportasi. Terbersitlah keinginan untuk membuat aksesori miniatur kendaraan yang bisa sebagai barang pajangan, mulai dari sepeda hingga kendaraan roda empat. Alhasil pada 2016 lalu, Aji mendirikan ACA Company.

Baca Juga: Sirkular Ekonomi, Menyulap Sampah Elektronik Menjadi Produk Bernilai

Setelah bisa menyelesaikan sejumlah miniatur kendaraan, Aji mulai menjajakan kreasinya. Awal mula berjualan langsung mendapat pengalaman pahit lantaran digusur oleh satuan polisi pamong praja.

Tak patah arang, dirinya kembali berjualan di ajang car free day. Kala itu dirinya menjajakan aksesori miniatur tersebut antara Rp 5.000 sampai Rp 20.000 saja.

Sayang saat pandemi, ia berhenti berjualan miniatur kendaraan. Demi menyambung hidup, ia sempat berjualan telur asin di pasar tradisional di kampung halamannya, Jombang. 

Baca Juga: Mencecap Manisnya Tren Gaya Hidup Sehat dari Madu

Justru saat berjualan telur asin inilah jiwanya terasah sebagai penjual. Dengan memakai topi koboi, Aji jadi punya pengalaman berbisnis dan cara menghadapi konsumen.

"Mentalitas itu kemudian saya bawa kembali saat berusaha miniatur kendaraan," tuturnya ke KONTAN, belum lama ini.

Usai pandemi, dirinya kembali ke Jakarta. Di sana ia kembali menjajakan hasil karyanya. Tak disangka dirinya sempat diliput oleh salah satu jaringan televisi nasional.

Di situ, ia mengaku produk kerajinan sudah tembus ekspor.

Baca Juga: Menghias Fulus dari Batik Khas Bengkulu

"Padahal baru sampai pasar lokal saja," ujarnya.

Ternyata aksi bohong Aji itu rupanya membawa berkah. Pelan namun pasti, ia mulai mendapat pesanan dari pasar luar negeri yang tertarik dengan produknya. Malah, beberapa pesanan yang datang ada yang ingin dibuat secara custom.

"Saya tetap menyanggupinya," katanya.

Untuk menjaga kualitas, Aji mulai memperhatikan barang-barang untuk membuat produk miniatur. Ia mulai mengambil barang bekas yang presisi agar sesuai dengan produk miniatur yang dipesan.

Kini, produk ACA Company mampu menembus pasar global dan menjangkau 50 negara. Produk miniatur yang dijualnya kini berharga jutaan rupiah dan meraup omzet hingga miliaran rupiah per tahunnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×