kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Melirik keberuntungan dari jam tangan antik dan unik (2)


Sabtu, 22 Februari 2020 / 11:05 WIB
Melirik keberuntungan dari jam tangan antik dan unik (2)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu kendala yang pebisnis hadapi adalah soal pasokan bahan baku. Persoalan ini rupanya juga menghampiri para pebisnis jam tangan eksotis yang membuat tali jam tangan terbuat dari bahan-bahan non logam dan karet. Ada yang terbuat dari kayu, kulit sapi hingga yang rada unik adalah jamur.  

Tapi, para pebisnis jam tangan unik tersebut tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan baku atau kulit sapi hingga jamur. Untuk pasokan kayu didapat dari daerah Jawa Timur, begitu pula kulit sapi. Sedangkan untuk jamur, sang pembuat yakni Ilham Pinastiko, pendiri dan pemilik Pala Nusantara asal Bandung bermitra dengan Mycotech, sebuah perusahaan pembuat bahan material dari jamur.
 
Justru persoalan timbul untuk bahan baku lainnya, yakni komponen jam. Mulai dari jarum jam, buckle jam  atau kuncian jam dan mesin jam movement yang seluruhnya masih impor dari Negeri Tirai Bambu. 
"Masih tergantung beberapa material dari China dan secara kualitas memang sudah bagus. Dan Indonesia belum bisa membuat beberapa komponen tersebut karena belum ada infrastrukturnya," kata Ilham kepada KONTAN.
Ini masih ditambah dengan adanya wabah virus Covid-19 alias korona yang makin menyebar luas ke pasar global. Ia pun terkena imbas negatif. Hingga saat ini, pesanan sejumlah komponen jam dari China tertunda. Padahal komponen yang dipesan tersebut sangat dibutuhkan untuk membuat jam tangan unik. 
Supaya dapur produksi tetap berjalan, Ilham mulai membuat produk kerajinan lainnya, terutama fesyen seperti tas, sambil menunggu pesanan komponen jam tangan tiba di Tanah Air. "Mau tidak mau harus mulai substitusi dengan produk lain seperti tas supaya proses produksi terus berjalan," tuturnya.
 
Situasi tersebut juga Rizki Febriani rasakan. Pemilik usaha jam tangan kayu merek Kay ini juga mengalami kendala soal komponen jam tangan yang pasokannya terbatas saat ini.  
 
"Ketersediaan spare part jam tangan di pasar domestik memang terbatas karena masih impor dari China. Dan proses produksi terkendala karena ada komponen yang tidak ada misalnya saja komponen jarum jam," ucap Rizki yang biasa disapa Kiki ke KONTAN.
 
Meski bahan baku jam tangan unik, tidak seutuhnya berasal dari dalam negeri, seperti komponen jam dari China, para perajin jam tangan unik mengklaim bahwa hasil produksi jam tangan rakitannya secara kualitas tidak mengecewakan. Sebagai bukti, Pala Nusantara menceritakan bahwa selama setahun usahanya berjalan, sejauh ini belum ada satu pun keluhan dari para konsumen.
 
Kondisi tersebut terjadi lantaran dirinya, dalam proses pembuatan jam tangan antik tersebut, selalu menerapkan kontrol produksi setiap tahap pembuatan jam tangan. Seperti memastikan kulit jam tangan dari jamur bisa awet saat dipadukan menjadi jam tangan. "Tapi tetap harus ada perhatian dalam memakai jam tangan tersebut, karena ini  bukan jam tangan biasa," sarannya.
 
Sedangkan Kiki sendiri berani memberikan garansi terhadap produk jam tangan Kay yakni satu tahun untuk mesin jam. Selain itu ia juga menerima peremajaan jam tangan unik jika ada permintaan dari konsumen. Seperti ada permintaan untuk mengganti kayu dengan yang baru. "Kami amplas lagi, coating, dan itu memang butuh waktu," tutur Kiki.
 
Semua proses produksi Kiki kerjakan bersama lima orang pegawainya.  Sedangkan Ilham sudah miliki 18 karyawan di Pala Nusantara.
Sejauh ini, para pemain memasarkan jam antik tersebut melalui jalur online lewat media sosial. Dan sejauh ini sudah memberi hasil yang positif dan sudah tembus pasar luar negeri.
 
Melihat hal tersebut, Ilham berencana membuat inovasi jam tangan unik lainnya. Adapun Kiki masih fokus dari sisi branding Kay.   
 
(Selesai)




TERBARU

Close [X]
×