Reporter: Leni Wandira | Editor: Markus Sumartomjon
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penggunaan sumber energi yang efisien menjadi perhatian kalangan industri. Termasuk di dalamnya industri pertambangan.
Peluang inilah yang coba diambil PT Abadi Kimia Raya yang mulai mengenalkan Adichem akhir tahun lalu. Adichem adalah zat aditif atau zat tambahan untuk menunjang performa mesin dan efisiensi dalam konsumsi energi di industri.
Menurut Ryan Oktariyadie, Head Sales Adichem PT Abadi Kimia Raya, produk yang sudah ada dari Januari 2024 itu, awalnya ditujukan untuk industri pertambangan.
"Solar salah satu komponen biaya terbesar pertambangan. Kami melihat ruang menghadirkan solusi yang bisa menjaga kualitas bahan bakar, memperpanjang usia mesin dan menekan biaya operasional," kata Ryan, Jumat (30/1).
Baca Juga: Startup Asal Surabaya Luncurkan Karyawan AI di WhatsApp untuk Permudah Bisnis
Klaimnya, produk aditif tersebut bisa memperbaiki lubrikasi, menurunkan filter blocking tendency (FBT), serta berkontribusi pada efisiensi konsumsi bahan bakar. Formula ini menyasar persoalan klasik di lapangan, mulai dari kualitas solar yang tidak seragam hingga masalah deposit karbon pada injektor mesin diesel.
Sejauh ini, Adichem punya tiga jenis produk aditif. Selain aditif untuk industri pertambangan, Adichem punya produk untuk digunakan di kendaraan roda empat maupun roda dua.
Untuk memperluas pasar, Abadi Kimia Raya mulai akhir tahun lalu merilis aditif yang lain, yakni berlabel Adimax F2.
Baca Juga: Sulaman Bali yang Dipakai Taylor Swift
Ini adalah aditif yang memakai bahan baku asal Jerman yang diperuntukkan bagi kebutuhan mesin-mesin industri. Targetnya, kata Ryan adalah untuk bisa menjaga performa mesin tanpa menambah biaya perawatan.
Namun, jalan Adichem tak sepenuhnya mulus. Salah satu tantangan terbesar datang dari rendahnya pemahaman pasar terhadap efektivitas aditif bahan bakar. Banyaknya produk serupa tanpa pembuktian teknis membuat konsumen cenderung skeptis.
Baca Juga: Jangkau Pasar Ekspor, Seed Paper Indonesia Bikin Konten Edukasi
Selain itu, karakter produk aditif yang tergolong dangerous goods juga membatasi opsi distribusi dan menuntut penanganan khusus dalam produksi maupun pengiriman.
"Kami harus ekstra dalam edukasi. Aditif volumenya kecil, tapi dampaknya besar. Itu yang sering tidak terlihat oleh pasar," papar Ryan.
Untuk memperluas jangkauan, Adichem kini memasarkan produknya melalui pemasaran secara korporasi, lantas via marketplace hingga jaringan bengkel di sekitar Jakarta.
Dengan cara pemasaran tersebut, Abadi Kimia Raya, kata Ryan menargetkan ketersediaan produk yang semakin mudah diakses, baik secara online maupun offline.
Ryan optimistis langkah tersebut bisa memberi dampak positif bagi Abadi Kimia Raya.
Langkah berikutnya, perusahaan melalui Adichem tengah fokus mengembangkan produk aditif lainnya yakni aditif untuk mesin bensin yang ditargetkan meluncur Maret 2026 nanti.
Selanjutnya: Pembekuan MSCI, Ujian Transparansi Bursa
Menarik Dibaca: Promo Solaria Habis Hari Ini! Jangan Nyesel Tak Cicip Hematnya Bowl Ayam Teriyaki
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













