kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Menakar kegurihan laba dari Lumpia Basah


Jumat, 28 Juni 2019 / 11:55 WIB

Menakar kegurihan laba dari Lumpia Basah

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Camilan tradisional biasanya digemari tidak cuma di daerah asal tapi juga tempat lainnya. Salah satunya adalah lumpia, makanan khas asal Semarang. Makanan ini masih disukai oleh sebagian kalangan, terutama yang ingin mencicipi masakan tradisional yang khas.

Melihat kondisi tersebut, Aretha Sumarli mencoba peruntungan dengan membuat gerai lumpia dengan nama Lumpia Basah Ceu Neneng. Ia membuka usaha tersebut di awal 2018 di kota Bandung dan langsung menawarkan kemitraan usaha. Kini jumlah gerai Lumpia Basah Ceu Neneng sudah punya dua gerai milik mitra di Bandung.


Dalam waktu dekat, ia bakal mengoperasikan satu gerai milik mitra di Depok. Sedangkan satu gerai lagi yang ada di Aceh tengah proses finalisasi. Ia pun optimistis hingga akhir tahun ini bisa menggandeng sebanyak 10 mitra lagi.

Kalau ada yang berminat, Aretha menawarkan tiga paket kemitraan. Yakni paket silver dengan luas gerai 25 m sebesar Rp 125 juta, paket gold (50 m) senilai Rp 15 juta dan paket platinum (75 m) sebesar Rp 175 juta. Program kemitraan selama lima tahun.

Dengan paket tersebut mitra akan mendapatkan ragam fasilitas seperti perlengkapan, peralatan, gerobak, bahan baku awal pembuatan lumpia basah, training dan seragam karyawan, pemasaran, renovasi gerai, survei lokasi dan lainnya. "Kami tidak mengenakan biaya royalti maupun waralaba bagi mitra," kata Aretha kepada KONTAN.

Lumpia Basah Ceu Neneng sendiri menyediakan ragam menu hingga 20 varian lumpia dengan banderol harga Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per porsi. Yakni ada topping batagor, siomay, kerupuk pedas, ceker, tulang ayam, bakso, sosis, keju, ayam dan yang lainnya.

Dengan menu yang tersaji, Aretha memperkirakan pendapatan dari setiap gerai Lumpia Basah ini bisa mencapai Rp 500.000 sampai Rp 750.000 pada hari biasa. Sedangkan saat akhir pekan, proyeksi penjualannya bisa tembus Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per harinya.

Dengan omzet tersebut, setelah dikurangi ragam biaya operasional, Aretha memperkirakan, mitra bisa mendapat keuntungan sekitar Rp 10 juta per bulan. Adapun proyeksi balik modalnya ia harap kurang lebih satu tahun saja.

Erwin Halim, pengamat waralaba dari Proverb Consulting menilai bisnis lumpia masih cukup menjanjikan. Tapi juga tidak terlalu bagus. Meski produk ini terbukti tahan lama, tapi permintaan pasar memang tidak terlalu banyak.

Untuk bisa meminimalisir kelemahan tersebut, ia berharap para pebisnis lumpia perlu mengoptimalkan program pemasaran. Baik itu secara offline maupun online. Tujuannya adalah supaya makanan tersebut bisa dikenal lebih luas lagi. Langkah lain yang tidak boleh ketinggalan adalah membuat inovasi rasa dari produk tersebut.


Reporter: Venny Suryanto
Editor: Markus Sumartomjon

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0449 || diagnostic_web = 0.3077

Close [X]
×