kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,66   21,15   2.82%
  • EMAS904.000 -1,74%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Menakar potensi bisnis dari lukisan kayu (1)


Sabtu, 07 Maret 2020 / 12:15 WIB
Menakar potensi bisnis dari lukisan kayu (1)

Reporter: Venny Suryanto | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjadikan sebuah karya seni sebagai usaha bukan hal yang haram bagi seniman. Bahkan apabila pekerjaan ini bisa melibatkan orang banyak justru karya seni mendatangkan manfaat banyak bagi khalayak.

Seperti dilakukan oleh Sepiahara yang menekuni usaha melukis menggunakan media kayu jenis jati belanda serta kayu pinus. Ia menjalani bisnis ini sejak awal 2015 di Ciawi, Bogor Jawa Barat. 
 
Berawal dari hobinya, ia menuangkan lukisan di atas media kayu dan merasakan hasilnya menjadi karya seni yang unik. Kemudian, ia pun mulai melukis wajah teman-temannya di atas kayu. "Kami awalnya hanya jualan dari mulut ke mulut," katanya, Kamis (20/2). 
Seiring berjalannya waktu permintaan terhadap lukisan kayu meningkat. Lalu, ia pun berinisiatif memasarkan hasil karyanya secara online lewat media sosial. Ia menerima order melukis apapun, termasuk wajah, benda. Konsumen yang rminat bisa pesan melalui akun Instagram Atoel Project. 
Saat ini, ia mengembangkan bisnisnya bukan hanya dari lukisan kayu, tapi juga produk lain seperti gantungan kunci, kotak tisu, jam dinding, lampu tidur, buku, tas kayu dan lainnya. 
 
Agar orderan bisa mengalir rutin, ia tak memasang harga tinggi untuk karya seni yang dijajakan. Tarifnya mulai dari Rp 70.000 sampai dengan Rp 400.000 per produk sesuai dengan ukurannya. 
 
Bahan baku yang ia butuhkan untuk proses produksi selain kayu meliputi cat air, kulit sintetis dan akrilik sebagai pendukung untuk variasi produk lukisannya. "Kami mendapatkan bahan baku jenis kayu jati belanda dan kayu pinus dari palet peti kemas," jelasnya.
 
Proses produksi hanya 2 hari  dan akan dikirim ke pemesan. Saat ini ia dibantu dengan 5 pengrajin untuk menjalankan bisnis ini. Mereka membagi kerja mulai dari proses memahat, melukis, hingga pengiriman. 
 
Sepiahara mengklaim, saban bulan bisa menerima orderan hingga 300 pcs. Pesanan datang dari berbagai daerah seperti Jabodetabek, Yogyakarta, Bandung, Surabaya dan sebagainya. 
 
Ia mengklaim, produknya sudah merambah ke pasar luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Brunei. 
 
Sebelumnya Sepiahara pernah memiliki toko yang menjual hasil karya seninya. Namun semenjak ada platform media sosial  penjualan lebih banyak lewat online. "Jadi tokonya, di tutup," jelasnya. 
 
Soal berapa besar omzet yang dikantongi, Ia mengklaim saban bisa mendapat penghasilan sekitar Rp 20 juta. Pesanan usaha ini cukup stabil bahkan dalam tren meningkat. Untuk memperluas pasar, ia menargetkan untuk memproduksi aneka produk furnitur. "Dari kayu-kayu," katanya.
 
(Bersambung)



TERBARU

[X]
×