Reporter: Zendy Pradana | Editor: Markus Sumartomjon
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasa bosan dengan gaya yang itu-itu saja, bisa menjadi ide untuk membuat usaha. Seperti yang dilakukan Yoseph Putera Soesanto saat mendirikan Unerd, salah satu label sepatu lokal.
Saat merintis Unerd di 2020, pria asal Pasuruan, Jawa Timur, ini melihat gaya dan model sepatu bagi kaum muda kala itu terkesan monoton dan membosankan, lantaran terkesan seragam.
"Selain itu, Unerd ingin supaya orang-orang nerd atau orang-orang yang kurang percaya diri, bisa tampil lebih PD dan standout dengan produk dari Unerd," ujarnya belum lama ini.
Baca Juga: Menangguk Untung dari Roti Tanpa Pengawet
Untuk itu, Yoseph mulai mempelajari desain model sepatu yang cocok bagi generasi muda yang berada di usia 18 tahun–35 tahun, termasuk juga proses produksinya.
Dus, dengan menggaet empat pekerja, Yoseph akhirnya bisa mendirikan Unerd. Karena masih pandemi Covid-19, ia pun langsung memanfaatkan pemasaran digital, salah satunya lewat media sosial untuk memasarkan produk.
Secara perlahan, model sepatu yang Yoseph produksi mulai bertambah, seiring dengan penerimaan pasar. Apalagi, dia mengusung konsep durable, affordable, dan comfortable, yang membuat produk sepatunya bisa dijual di rentang harga Rp 300.000 hingga Rp 400.000 saja per pasang.
Baca Juga: Usaha Kian Berkembang di Tangan Generasi Kedua
Yoseph pun mulai memperluas platform pemasaran digital. Salah satunya, dengan memanfatkan TikTok.
"Lewat fitur TikTok Ads, kami tidak hanya bisa menjangkau audiens baru yang sebelumnya belum mengenal Unerd, tapi mengonversi mereka menjadi pembeli yang siap bertransaksi," katanya.
Baca Juga: Startup Geospasial Indonesia Tawarkan Solusi Mobilitas Berbasis Data
Strategi inipun akhirnya membuahkan hasil. Seiring dengan lonjakan penjualan, produksi Unerd pun terus bertambah. Ini membuatnya menambah karyawan.
"Saat ini, karyawan kami sudah mencapai 50 orang," ungkap Faisal Hafiz, Head of Marketing Communications Unerd.
Untuk memperluas pasar, Unerd, Faisal bilang, juga sudah membuka toko offline yang ada di tiga lokasi. Yakni, di Surabaya, berlanjut ke Jakarta pada Februari kemarin, serta Bandung yang siap beroperasi di April nanti.
Selain toko offline, Unerd juga mempunyai 68 outlet mitra yang tersebar di Jawa dan Sumatra.
Meski jaringan toko offline sudah tersebar, terutama di Jawa dan Sumatra, Faisal menyebutkan, kontribusi penjualannya masih 20%. Adapun kontribusi terbesar penjualan Unerd masih dari kanal digital yang menjadi tulang punggung.
Melihat hasil yang positif tersebut, manajemen Unerd membidik untuk memperluas pasar di dalam negeri.
"Target ke depannya adalah kami akan membuka satu toko di setiap kota di Indonesia," sebut Faisal.
Maklum, manajemen Unerd rupanya masih melihat potensi pasar domestik yang masih besar. Meski begitu, produk sepatu Unerd juga acap kali dikirim ke pasar regional berkat promosi dari mulut ke mulut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













