Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Markus Sumartomjon
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transisi kepemimpinan dari orang tua ke anak seringkali menjadi tantangan tersendiri.
Namun bagi Hesty Dwi Wulandari, pemilik Hestyna, produk camilan rengginang, estafet bisnis menjadi momentum bertransformasi menuju pengelolaan usaha yang modern.
Adapun Hestyna memulai perjalanannya di Jombang, Jawa Timur, pada 2006. Usaha ini berawal dari keisengan sang ibu yang bosan bekerja di pabrik dan mencoba peruntungan dengan bikin rengginang.
"Awalnya belajar sendiri, berkali-kali gagal sampai menemukan formula yang pas karena membuat rengginang itu ternyata sangat tricky," katanya ke KONTAN, Kamis (5/3).
Baca Juga: Momentum Ramadan Perkuat Permintaan Jasa Pengelolaan Berat Badan
Meski sudah berproduksi sejak 2006, Hestyna baru mendapatkan legalitas merek pada tahun 2010. Selama satu dekade pertama, bisnis ini berjalan dengan pola konvensional; mengandalkan tenaga sales dan menyasar pasar kelas bawah (tradisional).
Namun, ketergantungan pada sistem titip jual tanpa kontrak yang kuat sempat membuat bisnis ini limbung, akibat ulah oknum nakal yang tidak membayar tagihan.
Titik balik terjadi pada 2024 ketika Hesty memutuskan pulang ke Jombang, setelah empat tahun bekerja di Jember. Sebagai penerus, ia menyadari bahwa meski merek Hestyna sudah dikenal, namun sistem internalnya masih rapuh.
Baca Juga: Mencetak Fulus dari Produk Handmade
Langkah pertama yang diambilnya adalah pembenahan manajemen stok, pencatatan keuangan, hingga kendali mutu yang ketat. Ia tak segan terjun langsung ke dapur untuk memahami proses produksi dari hulu ke hilir guna memastikan konsistensi rasa.
Tak hanya itu, Hesty melakukan rebranding pada sisi kemasan. Ia mengubah desain lama yang penuh warna menjadi desain standing pouch yang lebih minimalis dan modern.
Baca Juga: Mencecap Manisnya Tren Gaya Hidup Sehat dari Madu
Hasilnya instan, penjualan di satu gerai di Surabaya melonjak hingga tiga kali lipat, dari 100 kemasan menjadi 250 kemasan per bulannya.
Melihat hasil itu, Hesty berupaya mendongkrak kapasitas produksi untuk bisa merambah pasar ritel modern. Maklum, ritel modern butuh kepastian produksi. Seperti upaya merealisasikan pesanan 1.000 kemasan dalam tiga hari.
Hasilnya, kini produk Hestyna sudah merambah ke 133 toko yang tersebar di Jawa Timur, Yogyakarta, hingga Bali. Produk unggulannya pun berkembang, tak lagi hanya rengginang, tapi juga keripik tempe sagu, madumongso, usus, hingga pastel.
Dalam sebulan, Hestyna mampu memproduksi sekitar 6.000 hingga 7.000 bungkus. untuk produk unggulan, belum termasuk produk pendukung lainnya.
Dus, rata-rata dalam sebulan Hesty mengantongi omzet Rp 75 juta dan bisa naik tiga kali lipat saat libur hari raya. Langkah berikutnya adalah menyasar pasar global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













