kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.669.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Mencecap Fulus dari Produk Mentega Ala Eropa


Sabtu, 17 Januari 2026 / 07:10 WIB
Mencecap Fulus dari Produk Mentega Ala Eropa
ILUSTRASI. Dieng Valley Creamery (Dok/Dieng Valley)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasa resah ternyata bisa menjadi pemicu ide usaha. Hal ini yang terjadi pada Novia Kusumawati saat mendirikan Dieng Valley Creamery, sebuah usaha pembuatan mentega (butter) di Wonosobo, Jawa Tengah. 

Perjalanan usaha Novia dimulai pada 2008 sebagai peternak di Wonosobo. Saat itu, ia merasakan pahitnya menjadi produsen susu mentah.

Lantaran volume produksi susu di Wonosobo tidak sebesar daerah lain, para peternak sapi perah terpaksa menitipkan susu ke koperasi luar daerah dengan potongan biaya transportasi dan operasional yang tinggi. 

"Dulu saya sempat terima harga Rp 1.800 per liter, padahal standarnya Rp 2.500-Rp 3.000 per liter. Sebagai peternak, saya tahu itu tidak cukup untuk menutupi biaya pakan dan gaji karyawan," ungkap Novi kepada KONTAN, Kamis (15/1). 

Baca Juga: Sukses Bidik Peluang Lewat Wedangan

Keresahan itulah yang mendorongnya mulai mengolah susu secara mandiri sejak 2015. Novia mulai membuat es susu untuk anak sekolah.

Hasilnya, dia pernah memproduksi susu hingga 1 ton per hari, sebelum akhirnya dihantam pandemi Covid-19 yang menutup akses ke pasar 
sekolah. 

Setelah sempat "oleng" akibat pandemi, Novia melakukan pivot (perubahan strategi) besar-besaran pada Agustus 2025.

Ia belajar teknik pembuatan mentega dan keju secara tradisional dari seorang mentor asal Jerman. Produk utamanya adalah artisan butter. Ini adalah mentega yang diproses melalui fermentasi alami, serupa dengan tradisi pembuatan mentega di pedesaan Eropa. 

Baca Juga: Berangkat dari Pengalaman, Fulus pun Mengalir

"Selling point kami adalah rasa. Kami membuat traditional butter yang berbeda dengan mentega pabrikan di Indonesia yang umumnya tipe sweet butter. Banyak konsumen yang pernah tinggal di Eropa bilang rasanya sangat autentik," tutur Novia. 

Meski begitu, tantangan usahanya tetap ada, yakni dari sisi logistik cold chain. Untuk itu, Novia menyiasatinya dengan pengemasan mentega yang kokoh menggunakan jar kaca dan kaleng timah.

Baca Juga: Asin Garam Bali yang Bisa Berujung Manis

Inovasi ini memungkinkannya mengirim produk ke seluruh Indonesia melalui jalur ekspedisi reguler tanpa merusak kualitas produk.

Alhasil, dalam waktu lima bulan sejak rilis, permintaan atas produk menteganya melonjak, dari semula hanya  10 kilogram (kg) per bulan menjadi 150-200 kg per bulan.

Konsumennya pun beragam, mulai dari ibu rumah tangga, pengusaha kue menjelang Lebaran, hingga hotel premium seperti Amanjiwo. 

Novia juga berbangga diri karena usahanya bisa berdampak kepada para peternak di lingkungannya. Jika biasanya susu harus melewati pengepul dan koperasi sebelum ke pabrik, Novia langsung mengambil susu dari para peternak lokal dengan harga layak, Rp8.000 hingga Rp 9.000 per liter. 

Tahun ini, Novia berencana meningkatkan produksi dan beralih ke teknologi sterilisasi untuk produknya agar aman didistribusikan di suhu ruang.

Selanjutnya: Kekuatan Bergeser: Raksasa AI Kini Lebih Penting dari iPhone Bagi Pemasok

Menarik Dibaca: Trik Makan Daging Sapi Tanpa Takut Asam Urat, Turunkan Purin Hingga 35%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×