Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Markus Sumartomjon
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasa peka, biasanya dapat menjadi gagasan membangun usaha. Contohnya, Benny Wijaya dan Diswandy saat merintis usaha pembuatan sandal khusus pria dengan usung label Kingman.
Kala itu, Benny dan Diswandy melihat sandal menjadi pilihan utama bagi kaum adam di Indonesia. Namun persoalannya, keduanya belum menemukan sandal yang nyaman, fungsional, dan rapi, yang bisa dipakai dalam suasana santai maupun semiformal.
Melihat peluang tersebut, Benny dan Diswandy nekat banting setir. Maklum, sebelum melakoni usaha pembuatan sandal, kedua pria ini awalnya adalah karyawan. Benny berkarier di bank, sementara Diswandy bekerja di industri logistik dan ekspor impor.
Baca Juga: Fulus dari Solusi Keuangan UMKM
Sebelum memulai usaha pembuatan sandal, mereka melakukan studi pasar. Lantas, mengembangkan rantai pasok dan memproduksi seluruh sandal secara mandiri di Jakarta Barat.
Setelah itu, keduanya bagi-bagi tugas. Benny bertanggungjawab atas sistem operasional dan keuangan. Sementara Diswandy menangani logistik serta pemasaran digital.
Dua tahun pertama usaha bergulir, mereka menjalankan semua proses secara mandiri, mulai dari memotret produk, memproses pesanan, hingga membalas pesan pelanggan. Semua mereka jalani sembari masih bekerja penuh waktu di kantor.
Baca Juga: Merancang Fulus dari Sepatu Bot Artisan
"Dengan waktu dan sumber daya terbatas, kami mengelola bisnis dari malam hingga dini hari, menyusun sistem kerja secara bertahap lewat proses trial and error," ungkap Benny.
Pelan tapi pasti, usaha Kingman pun membuahkan hasil. Dengan beragam produk sandal yang mereka hasilkan, Benny dan Diswandy berhasil membuat usahanya terus berkembang.
Baca Juga: Mencecap Fulus dari Produk Mentega Ala Eropa
Hingga akhirnya, mereka bisa mempekerjakan hingga 60 karyawan di berbagai bidang, menggarap produk yang ditawarkan mulai harga Rp 80 ribuan itu.
Kingman pun sudah menjangkau sejumlah daerah di Indonesia.
"Produk kami juga sudah dinikmati oleh beragam pengguna lintas generasi," tambah Diswandy.
Memang, Kingman menyasar segmen pasar sandal untuk beragam generasi.
Untuk tetap menjaga roda bisnisnya, Diswandy dan Benny terus berupaya membuat sandal yang fungsional dan nyaman. Sandal jenis ini, menurut Diswandy, yang jadi perhatian alias tren tahun lalu dan bisa berlanjut di tahun ini. Misalnya clog sandal, tipe alas kaki yang lebih tertutup tapi ringan dan nyaman.
Selain memperluas koleksi sandal, Kingman kini mulai mendiversifikasi produk ke ranah fesyen. Misalnya, memproduksi polo shirt.
Langkah pengembangan ini penting. Tahapan ini, kata Benny, merupakan upaya belajar tanpa henti karena dunia usaha terus berubah dan berkembang.
Lewat hal itu, mereka berharap, bulan puasa dan Lebaran jadi momen Kingman untuk meraup lonjakan pesanan hingga enam kali lipat dari biasanya.
Selanjutnya: Harga Minyak Ditutup Menguat, Disokong Kekhawatiran Akan Kemungkinan Konflik Iran-AS
Menarik Dibaca: Batas Normal Asam Urat Pria: Ini 10 Cara Ampuh Turunkan Asam Urat Berlebih
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













