kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45770,66   0,00   0.00%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

Mencetak untung dari piring pelepah pinang (1)


Sabtu, 07 Maret 2020 / 11:20 WIB
Mencetak untung dari piring pelepah pinang (1)

Reporter: Ratih Waseso | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mengganti produk plastik yang lebih ramah lingkungan kini tengah menjadi tren. Salah satu produk yang kerap memakai bahan plastik kini sudah bisa didapat dengan bahan ramah lingkungan, yakni piring yang memakai pelepah pohon pinang. 

Salah satu perintisnya adalah Plepah.id. Start up yang fokus di produk piring dari pelepah pinang ini sudah berjalan sejak November 2018. Plepah.id terbentuk karena kepedulian para pendiri terhadap sampah plastik yang ada saat ini, yakni Fadhan Makarim, Rengkuh Banyu Mahandaru, Almira Zulfikar.
 
Kebetulan, salah satu pendiri yaitu Rengkuh Banyu Mahandaru melihat produk piring yang terbuat dari pelepah pinang saat berkunjung ke India. Di negera tersebut, pasokan pelepah pinang tergolong melimpah. 
 
"Jadi ide dari India dan setelah diriset ternyata pelepah pinang di Indonesia berlimpah," tutur Fadhan Makarim, Co Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Plepah.
Untuk mendapatkan pelepah pinang, mereka bermitra dengan koperasi di Desa Mendis, Banyu Lencir Musi Banyuasin Sumatra Selatan. Ada sekitar 15 anggota koperasi yang berkolaborasi dengan Plepah untuk memproduksi piring pelepah pinang.  Untuk pengurusan izin, riset dan pemasaran  dialokasikan di Jakarta dan Bandung.
Saat ini produksi Plepah baru sekitar 300 - 400 piring per hari. Fadhan pun ingin menambah produksi lantaran permintaan dari piring pelepah pinang bisa mencapai 250.000 piring per hari. Caranya dengan mengoptimalkan produksi saat proses pencetakan yang butuh waktu satu menit untuk satu piring, menjadi dua menit untuk empat piring.
 
Saban hari, Plepah bisa menerima pesanan antara 500 piring sampai 1.000 piring. Pesanan datang dari Kabupaten Musi Banyuasin di Sumatra Selatan. Lalu ada juga dari Jakarta, Bandung dan Bali. Harga per piring sekitar Rp 2.000 per buah. "Sejauh ini sudah ada delapan klien," tuturnya.
Untuk bahan baku, Fadhan mendapatkan dengan harga Rp 300 per lembar pelepah pinang. Saat awal usaha, ia belanja sebanyak 1.500 lembar pelepah pinang. Tapi kini sekali membeli sudah mencapai 10.000 lembar sampai 20.000 lembar perlepah pinang.
 
Pemain lainnya adalah start up Rumah Jambe-e yang didirikan para alumni Universitas Jambi dengan berdasar pada penelitian tim investor piring pelepah pinang. Pembina sekaligus inventor piring pelepah pinang di Rumah Jambe-e Sahrial Hafids menceritakan awalnya ia dan tim melakukan penelitian mengenai komoditas yang ada di Jambi.
 
Hasilnya pelepah pinang bisa diolah menjadi tempat makan. Rumah Jambe-e mulai riset pembuatan piring pelepah pinang pada 2018 dan mulai merancang mesinnya di 2019. Pemasarannya baru mulai pada Januari 2020. "Kami kerjasama dengan  petani pinang di Kecamatan Betara, Tanjung Jabung Barat, Jambi," jelas Sahrial yang juga Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jambi.
 
Saat ini Rumah Jambe-e memiliki lima mesin pembuat piring pelepah pinang dengan kapasitas 5.000 piring. Hasilnya, Sahrial sudah menjual hingga 2.000 piring di akhir Februari.  
 
(Bersambung)



TERBARU

[X]
×