Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Markus Sumartomjon
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, pasar produk fesyen muslim di Indonesia seakan tak pernah surut. Peluang ini coba ditangkap oleh Lutfia Nurul Aini saat mengembangkan Qaira Hijab Anak.
Sesuai label, Lutfia sengaja memilih target anak-anak, lantaran persaingan di produk fesyen tersebut belum seketat fesyen muslim dewasa. Alasan lainnya, ia ingin anak-anak bisa belajar memahami identitas agamanya melalui pakaian.
Selain itu, Lutfia terjun di bisnis hijab disebabkan oleh kondisi ekonomi tempat tinggalnya di bilangan Semarang, yang terimbas efek pandemi.
Untuk itulah, ia memberanikan diri membangun Qaira Hijab Anak pada tahun 2020.
"Melihat banyak tetangga di rumah saat pandemi, terbesit keinginan untuk berkolaborasi bersama, antara saya dan tetangga yang memiliki keahlian namun sedang tidak bekerja," ujarnya dikutip dari program Insthink Kementerian UMKM, Jumat (15/5).
Baca Juga: Dari Sampah Plastik Bisa Tercipta Produk Bernilai
Meski operasionalnya berawal dari skala rumahan, Qaira tidak mau main-main dalam mematok kualitas produknya. Lutfia menekankan bahwa kekuatan utama label lokal adalah kerapinan jahitan dan kenyamanan bahan, agar anak betah berhijab seharian.
Standar produksi yang ketat pun diterapkan, mulai dari ketelitian pola hingga jumlah tusukan jahitan per inci atau stitch per inch (SPI). Setelah menjahit, para pekerja dan mitra penjahit juga diharuskan mengecek hasil jahitannya sebelum melakukan tahap finishing.
Komitmen pada kualitas ini dibuktikan dengan kepemilikan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) serta label standardisasi tekstil oeko-tex untuk menjamin keamanan bahan tekstil bagi penggunanya.
Baca Juga: Mencetak Fulus dari Breastmilk Jewerly
Meski sudah menerapkan standar kualitas, perjalanan Qaira tak lepas dari tantangan. Berlokasi di ujung Kabupaten Semarang, produknya sempat dipandang sebelah mata karena bukan berasal dari pusat mode hijab populer seperti di wilayah Jawa lainnya.
Untuk mematahkan stigma tersebut, Qaira mengandalkan keahlian tim produksinya dalam menjaga standar kualitas. Bagi Lutfia, kualitas produk yang konsisten adalah kunci agar Qaira bisa memenangkan persaingan di pasar yang kian kompetitif.
Baca Juga: Memadukan Anyaman dan Limbah Kulit
Sedangkan untuk pemasarannya, Lutfia memilih model bisnis business to consumer (B2C) dengan mengandalkan kekuatan pasar digital. Kanal marketplace, terutama Shopee, menjadi tumpuan utama untuk menjangkau konsumen di seluruh penjuru Indonesia tanpa terhambat batasan geografis.
Strategi ini terbukti efektif bagi label yang lahir dari pinggiran daerah untuk melakukan akselerasi penjualan.
"Dari awal kami memutuskan untuk rantai distribusinya melalui marketplace karena mudah dan aman," tukasnya.
Kini, Qaira sudah memiliki sebanyak 20 orang karyawan. Dan saban harinya sudah mampu mengirimkan sekitar 300 paket hijab ke berbagai wilayah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













