Reporter: Merlina M. Barbara | Editor: Tri Adi
Layaknya sebuah bisnis, para perajin topeng di Desa Singapadu, Gianyar, Bali harus menerapkan strategi bisnis. Contohnya, untuk pembelian dengan jumlah tertentu, pelanggan akan mendapatkan bonus tambahan produk topeng. Para perajin juga harus membuat topeng dari bahan berkualitas untuk menjaring pelanggan.
Kendati kekerabatan para perajin topeng di Desa Singapadu, Bali sangat kental, namun mereka tetap harus berkompetisi dalam menjaring konsumen. Itu sebabnya, para perajin harus menerapkan strategi bisnis.
Contohnya seperti yang dilakukan I Kadek Juliana, salah satu perajin topeng di desa Singapadu. Untuk menjaring pelanggan, I Kadek memberikan potongan harga (diskon) atau bonus produk untuk pembelian topeng di tokonya yang bernama Kubu Topeng. Bagi pelanggan yang membeli paket 13 topeng, I Kadek akan memberikan bonus dua buah topeng.
Strategi serupa dijalankan Ni Made, perajin topeng sekaligus pemilik Toko Suastika di Desa Singapadu. Di tokonya tersebut, jika pelanggan membeli 10 topeng, Ni Made akan memberi bonus satu topeng.
Di luar itu, I Kadek dan Ni Made mengaku tidak memiliki strategi khusus dalam menjaring pelanggan. Mereka hanya mengandalkan ketrampilan dan keunggulan masing-masing karya topeng yang baik. Dengan begitu, promosi usaha bisa mengalir dari mulut ke mulut.
Untuk membuat sebuah topeng yang bagus, para perajin juga harus mencari bahan baku berkualitas. Bahkan, sebagian bahan baku topeng harus dipasok perajin dari luar Bali. Misal, untuk rambut palsu atau wig topeng barong berwarna putih, I Kadek harus mendatangkan dari para perajin di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur.
Harga wig topeng barong yang terbuat dari helaian ekor kuda tersebut dibeli I Kadek mulai dari Rp 125.000 hingga Rp 6 juta per unit.
I Kadek berdalih, wig topeng barong harus dipasok dari Sumbawa lantaran di daerah tersebut banyak peternakan kuda. Selain dari bulu ekor kuda, janggut pada topeng barong juga terbuat dari rambut manusia.
Ni Made Ranti, seniman topeng lainnya di Desa Singapadu menambahkan, dalam proses pembuatannya, semua ornamen yang ada di topeng barong dipahat di atas kulit sapi yang telah dihaluskan dengan motif khas Bali dan dilapisi prada emas.
Nah, menurut Ni Made, ia biasa mendatangkan pasokan bahan baku berupa kulit sapi dari Bandung, Jawa Barat, dan Yogyakarta. Alasannya, harga kulit sapi Bali terbilang mahal, yakni Rp 1 juta per lembar. Sementara kulit sapi dari Bandung dan Yogyakarta hanya Rp 120.000. Begitupun dengan ekor kuda putih yang harga per kg mencapai Rp 600.000. “Ekor kuda putih ini mahal karena sangat susah carinya,” jelas Ni Made.
Selain memakai ekor kuda, Ni Made juga menggunakan bulu sintetis yang berasal dari Jawa Timur. Untuk satu karung bulu sintetis, Ni Made harus membayar Rp 6 juta.
Untuk menambah keindahan kepala topeng barong, perajin juga menambahkan hiasan mahkota. Selain itu, agar topeng tampak sempurna menyerupai singa, di bagian wajah dilukis guratan kulit singa. “Kalau menari barong, penari seperti fitnes, karena bobotnya berat,” kata Ni Made tersenyum.
(Selesai)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













