kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.450
  • EMAS665.000 -0,60%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Penonton ngakak, dompet anti cekak

Rabu, 16 Januari 2013 / 11:07 WIB

Penonton ngakak, dompet anti cekak

Berita Terkait

Belakangan ini, sejumlah media rutin menggelar tayangan lawakan tunggal alias stand up comedy. Jenis semakin menjadi tren di masyarakat. Stand up Comedy merupakan jenis lawakan yang membawakan materi lawakan langsung di hadapan penonton. Pelawaknya disebut comic.

Asep Suaji, salah seorang comic asal Jakarta bilang, di luar negeri, sebetulnya stand up comedy sudah ramai sejak tahun 1990-an. Ia mulai menyukai dunia ini sejak tahun 1998. "Dulu, saya suka nonton comic-comic luar dari Youtube," ujarnya.


Menurut Asep, saat ini, profesi stand up comedy cukup menjanjikan. Salah satunya terlihat dari makin banyak kompetisi stand up comedy. Komunitas lawak jenis ini juga kian banyak.

"Di tingkat nasional, rata-rata tarif sekali tampil Rp 5 juta, bahkan ada juga yang sampai Rp 15 juta," tuturnya. Asep membatasi tarif antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta sekali tampil.

Ia biasa tampil di acara-acara yang diselenggarakan perusahaan dan stasiun televisi, seperti Kompas TV, Indosiar, Metro TV, dan Trans TV.

Di tingkat daerah pun, para comic mulai berjamur. Salah satu comic yang kerap mengisi acara di Bandung adalah Indra Gunawan yang lebih populer disebut Indra Jegel.

Ia menekuni profesi ini sejak delapan bulan terakhir. "Awalnya iseng ikut audisi, lama-lama ketagihan," ujarnya.
Menurut Indra, tingkat kesulitan seorang comic adalah menyiapkan materi untuk dibawakan.

Satu kali tampil berdurasi 10 menit hingga 25 menit, persiapannya bisa membutuhkan waktu seminggu. Materi tak selalu baru, bisa saja materi lama yang dikemas dengan cara baru.

Inspirasi materi umumnya berasal dari keresahan-keresahan yang ada di sekitar comic. "Stand up comedy itu kebanyakan mengangkat materi dari kehidupan sehari-hari," ujar Indra.

Kesulitan lain adalah menampilkan karakter kuat. Ada comic yang memiliki karakter keindia-indiaan atau karakter pemarah yang justru memancing orang tertawa. Indra, misalnya, lebih menggunakan karakter kemelayu-melayuan.

Para comic ini kerap mengadakan open mic, sebutan untuk aksi uji coba para comic. "Materi yang sudah ada kita cobakan di depan pengunjung dalam open mic itu," tutur Indra.

Pada open mic, para comic tidak dibayar lantaran dilakukan di kafe-kafe untuk meningkatkan kemampuan para comic.
Gunawan Nusantara (38 tahun), salah satu comic, dulu adalah seorang pelukis dan master of ceremony (MC).

Pria yang berdomisili di Klaten, Jawa Tengah, ini terinspirasi oleh pelawak lokal bernama Basiyo. Akhirnya, pada awal 2012, ia memutuskan menjadi comic dan mendirikan komunitas stand up comedy di Klaten.

Gunawan belajar menjadi comic secara otodidak, baik dari televisi atau membaca buku. Untuk mengasah kemampuan, ia rutin tampil setiap hari Rabu di Linchak Kafe, Yogyakarta.

Pria yang punya nama panggung Mr. G ini juga sering diundang mengisi acara di hotel atau dari instansi tertentu. Dalam sebulan, ia tampil bisa dua hingga tiga kali dengan honor sekitar Rp 500.000 setiap manggung.

Menurut Gunawan, menjadi comic lebih susah dibandingkan pelawak grup. Pasalnya, comic harus menyiapkan materi sendiri dan menampilkannya tanpa bantuan rekan. Untuk itu, comic harus bisa memperagakan pelbagai karakter.

Misalnya, ketika membawakan materi yang berisi dua karakter, yakni dokter dan pasien sakit jiwa, comic harus bisa menampilkan dua karakter berbeda itu untuk meningkatkan imajinasi dan menghibur penonton.

Kunci sukses seorang comic adalah jam terbang yang tinggi. Dari situ, comic bisa mempelajari kesalahan sehingga bisa tampil semakin baik. Untuk mengawali karier sebagai comic sebaiknya bergabung di komunitas.

Dari situ, sesama comic bisa saling kritik atau memberi masukan untuk memperbaiki penampilan di panggung. Danan DNA, Manajer Kemal Palevi, salah satu comic terkenal, menuturkan bisnis stand up comedy ini masih baru.

Meski begitu, peminatnya semakin banyak. Karena itu, ia mengelola bisnis lawakan ini dengan profesional. Saat ini, ia sudah menghadirkan kliennya di 18 kota di seluruh Indonesia.

Danan mengakui, bisnis stand up comedy masih baru. Pemainnya masih sedikit, padahal permintaan cukup tinggi. Untuk mengembangkan hiburan ini, ia aktif membuat komunitas penggemar stand up comedy lewat media sosial.

Setiap ada kegiatan dan jadwal manggung, ia selalu menginformasikan ke para penggemar. Nama Kemal yang sudah dikenal memudahkannya membangun jaringan. Setiap akhir pekan, ada saja permintaan manggung dari berbagai daerah.

Danan membanderol tarif setiap kali tampil mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per 30 menit. Tarif tersebut tergantung negosiasi dengan pengundangnya. Sayang, ia enggan membeberkan omzet dari bisnis ini.


Sumber : Kontan 14/1/2013
Editor: Havid Vebri

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0579 || diagnostic_web = 0.3827

Close [X]
×