kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45788,56   1,37   0.17%
  • EMAS1.011.000 -0,10%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Segar laba dari minuman dingin nerbentuk mi


Rabu, 19 Februari 2014 / 17:07 WIB
Segar laba dari minuman dingin nerbentuk mi

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Havid Vebri

Banyak hal bisa dijadikan sebagai peluang usaha. Purwadi misalnya, ia mendirikan usaha mi di Semarang pada 2011 dengan nama Mie Cool. Sebelumnya ia membuka usaha ini di Jakarta pada 2007 namun tidak berhasil. Tetapi jangan tertipu dengan namanya, ia tidak menjual kuliner mi, melainkan minuman dingin.

Tetapi memang, minuman dingin yang ia jual berbentuk menyerupai mi dan bisa di konsumsi menggunakan sumpit, selayaknya makan mie. Minuman dingin berbentuk mi ini terbuat dari selai atau jelly agar-agar.


Mie Cool buatan Purwadi memiliki aneka warna dan 15 rasa yang berbeda. Misalnya, Mie Cool seperti jelly warna putih rasa leci, hijau rasa melon, ungu rasa anggur, coklat rasa coklat dan pink rasa stroberi.

Mie Cool ini diberi kuah layaknya mi pada umumnya. Namun bedanya, kuah tersebut terbuat dari sirup. Pada tahun 2011 Purwadi menawarkan kemitraan Mie Cool. Hingga saat ini, Mie Cool sudah memiliki 100 mitra yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia.

Paket investasi yang ia tawarkan yakni Rp 15 juta untuk daerah pulau Jawa dan Rp 20 juta-Rp25 juta untuk luar Jawa. Mitra akan mendapatkan booth, kompor, peralatan seperti meja, kursi, topi, seragam, spanduk, perlengkapan jualan, produk awal 200 cup dan pelatihan.

Purwadi mengatakan, perbedaan kedua investasi tersebut ada pada biaya pelatihan. Untuk luar pulau jawa biaya transportasi untuk survei lokasi dan memberikan pelatihan akan lebih mahal.

Dengan estimasi penjualan 25 cup sehari seharga Rp 8.000-Rp 10.000 per cup, mitra bisa mengantongi omzet sekitar Rp 5 juta- Rp 8 juta per bulan. Dengan laba bersih 40%-50%, Purwadi bilang mitra sudah bisa balik modal dalam waktu sekitar 6 bulan.

Purwadi tidak memungut biaya royalti. Namun, setiap perpanjangan kontrak untuk tiap tahunnya, mitra dikenakan biaya sebesar Rp 2,5 juta. "Itu akan kita gunakan untuk ganti spanduk, seragam yang rusak dan lain-lain," kata Purwadi.

Selain itu, mitra juga harus membeli bahan baku jelly dan sirup dari pusat. Ia tahun ini akan fokus mengembangkan gerai yang sudah ada. Oleh sebab itu ia tidak menargetkan jumlah mitra yang akan bertambah di tahun ini.         



TERBARU

[X]
×