kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.542   42,00   0,24%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Sentra burung Sukahaji: Pasokan berlimpah (3)


Selasa, 15 Mei 2012 / 15:42 WIB
ILUSTRASI. WNA di Indonesia bisa mendapatkan vaksin Covid-19 lewat skema vaksin gotong royong


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Tri Adi

Pasar burung Sukahaji, Bandung, Jawa Barat bukan cuma ramai oleh calon pembeli. Saat akhir pekan, di sentra ini juga kedatangan pemasok burung yang sengaja datang dari daerah untuk menawarkan burung ke pedagang maupun ke pembeli.

Berkunjung ke sentra burung Sukahaji, Bandung, Jawa Barat, Anda bisa mendapatkan aneka jenis burung. Mulai burung murai asal Lampung dan Medan, jalak bali, cucak rawa, gelatik, kenari, kutilang emas, kutilang lumut, cap jenggot dan masih banyak lagi jenis lainnya. Wajar, bila di sana, hampir semua burung populer bisa dijajakan. Pasalnya, banyak pedagang yang mendapat pasokan burung dari berbagai daerah.

Yosef, salah seorang pedagang burung mengaku selalu mendapat pasokan burung dari para pemasok dari luar kota Bandung. Antara lain dari Ciwidey, Pengalengan, Lampung, bahkan hingga Medan. Ia bilang, murai asal Lampung umumnya lebih murah dengan harga sekitar Rp 1,2 juta per burung, sementara burung murai asal Medan, harganya lebih mahal yakni bisa mencapai Rp 2 juta per ekor.

Mahalnya burung Murai asal Medan bukan tanpa sebab. Menurut Yosef, Murai asal Medan memiliki bulu yang lebih indah dan ekor yang lebih panjang. Selain itu, kicauannya juga lebih merdu jika dibandingkan dengan murai asal Lampung.

Demikian juga dengan burung beo yang bisa diajak bicara. "Burung beo di sini ada yang dipasok langsung dari Kalimantan," jelas Yosef.

Yosef bilang, ada banyak pemasok burung dari daerah yang langsung menjual burung dagangan mereka kepada para pedagang di pasar ini. Ini memudahkan pedagang di sentra ini karena mereka tak perlu lagi berburu sendiri burung dari daerah.

Adi Kurniawan pedagang burung lainnya juga mengaku sering memperoleh pasokan burung-burung miliknya dari Ciwidey, Solo, Medan, Kalimantan, Lampung, dan Kalimantan.

Dagangan Adi kebanyakan burung jenis murai asal Medan dari pada asal Lampung. Alasannya, Burung Murai asal Medan lebih mahal tapi bisa mendatangkan laba lebih tinggi. "Biasanya para pemasok dari daerah langsung mengantarnya ke sini lalu kami membelinya dari mereka," jelas Adi.

Sementara burung beo miliknya ia peroleh dari pemasok asal Kalimantan. Ia biasanya membanderol beo yang baru ditangkap dari alam Rp 1 juta per ekor. "Beo yang kami jual di sini, rata-rata sudah bisa menyuarakan beberapa kata," jelasnya.

Perputaran burung di sentra ini juga sangat cepat. Sehingga pedagang tak perlu memelihara burung-burung tersebut dalam waktu lama.

Stanislaus, pedagang lain pilih fokus kepada burung-burung yang berasal dari Bandung dan sekitarnya. Ia membeli dari para pemasok dengan dalam jumlah borongan maupun per jenis burung saja. Dengan cara pembelian itu, ia bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

Biasanya, pemasok burung yang datang ke sentra Sukahaji pada akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu. Pasalnya, selain menawarkan dagangan kepada pedagang di sentra ini, pemasok ini juga sering menawarkan langsung kepada pembeli.

Mereka menyadari, jumlah pengunjung di sentra ini membeludak di akhir pekan ketimbang hari biasa. Bahkan para pedagang mengklaim omzet mereka meningkat dua sampai tiga kali lipat dibandingkan hari biasanya.

(Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×