Reporter: Noverius Laoli | Editor: Havid Vebri
Sentra produksi sekaligus penjualan tahu lamping di Jalan Veteran Jagabaya yang terletak di Kampung Cikentungan, Kuningan tak pernah sepi pembeli. tempat ini sudah diserbu pelanggan sejak jam lima pagi.
Mulai subuh sampai menjelang malam, pembeli seakan tak henti-hentinya datang silih berganti. Alhasil, tidak banyak waktu bagi produsen tahu lamping untuk beristirahat. "Kami sudah berproduksi sejak pukul satu dini hari," kata Wawan Supendi, salah seorang produsen tahu lamping.
Wawan mengaku, dirinya memiliki banyak pelanggan setia. Saking banyaknya, ia kerap kewalahan melayani pelanggan. Belum lagi kalau ada pesanan dari konsumen di luar kota. "Setiap hari nyaris tidak pernah ada tahu produksi saya yang tersisa," ujar Wawan bangga.
Menurut Wawan, sebagian besar pelangganya berasal dari daerah Kuningan. Tapi, tak sedikit juga pelanggan dari luar kota, terutama para pengguna jalan lintas Tasikmalaya-Cirebon.
Maklum, Jalan Veteran sendiri merupakan jalan lintas provinsi. Wawan bilang, banyak pengguna jalan ini yang membeli tahu lamping.
Para konsumen dari luar Kuningan ini kebanyakan berasal dari Cirebon, Tasikmalaya, Ciamis, dan sejumlah kota di daerah Jawa Barat lainnya.
Selain kota-kota di Jawa Barat, ada juga konsumen yang mampir membeli tahu lamping asal Bandung, Semarang, dan Surabaya. Sebab, tahu buatan sentra ini tahan selama dua hari.
Lantaran tak pernah sepi pembeli, Ujang Suhanda, produsen tahu lamping lainnya, menambahkan, sejak memegang kendali penuh atas usaha produksi tahu milik orang tua, omzetnya tak pernah menurun.
Bahkan, di waktu-waktu tertentu seperti menjelang Hari Raya Idul Fitri, omzet penjualan tahu lamping Ujang melonjak hingga dua kali dari hari biasa.
Pada hari biasa, Ujang mengolah satu kuintal kedelai per hari untuk dibuat menjadi tahu lamping. Namun, menjelang Lebaran, ia bisa menghabiskan sebanyak dua kuintal hingga tiga kuintal kedelai per hari.
"Bahkan, seminggu setelah Lebaran, jumlah produksi masih tinggi," katanya. Bukan hanya pas Lebaran saja, omzetnya juga melonjak tinggi pada akhir pekan, Natal dan Tahun Baru, serta selama musim liburan.
Menurut Ujang, penjualannya meningkat karena banyak perantau yang berasal dari daerah Kuningan dan kota-kota sekitarnya yang pulang kampung. Sebagai perantau, tentu mereka merindukan citarasa tahu lamping yang sudah lama tidak mereka santap.
Kondisi serupa juga Wawan alami. Setiap menjelang Lebaran, misalnya, ia harus menambah jumlah karyawan buat melayani tingginya permintaan.
Bila hari biasa dia hanya memproduksi tahu lamping rata-rata dari satu kuintal keledai, mendekati Idul Fitri volume produksinya bisa mencapai tiga kuintal kedelai sehari. Meskipun sudah menambah jumlah produksi, tahu lamping buatan Wawan tetap habis terjual hari itu juga.
Agusandi, produsen tahu lamping lain di sentra ini, mengatakan, jika memasuki musim libur sekolah atau Lebaran, para produsen tahu lamping sudah harus memesan kedelai dalam jumlah banyak jauh-jauh hari.
Pasokan kedelai mereka dapat dari Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) setempat. Kopti sendiri mengambil keledai dari Jakarta. Bahan baku kedelai selama ini memang berasal dari impor.
Harga kedelai impor di tingkat koperasi saat ini berkisar Rp 7.200 per kilogram (kg). Sebelumnya, harga sempat naik hingga mencapai Rp 8000 per kg.
(Selesai)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












