Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Tri Adi
Untuk bersaing meraih pelanggan, para perajin ikan pindang di Jalan Cijaura, Buah Batu, Bandung, memiliki resep bumbu masing-masing. Mereka juga jemput bola menjual ikan pindang ke rumah warga dan promosi dari mulut ke mulut.
Menjalankan sebuah usaha tanpa strategi pemasaran, niscaya akan sulit menghadapi persaingan bisnis. Karena itu pula, para perajin ikan pindang di Jalan Cijaura, Kecamatan Buah Batu, Bandung, menerapkan berbagai strategi bisnis untuk meraih pelanggan setianya.
Contohnya yang dilakukan oleh Nenden, salah satu perajin ikan pindang di sentra ini. Agar ikan pindang produksinya memiliki cita rasa khas, Nenden menggunakan bumbu jadi yang banyak dijual di pasar tradisional sekitar Bandung.
Nenden membeli bumbu itu Rp 8.000 per bungkus. Selain bumbu kuning yang berisi kunyit, bawang merah, dan bawang putih, dia juga menggunakan gula dan penyedap rasa. Bumbu olahan itu bertujuan menghasilkan rasa dan aroma ikan pindang lebih sedap.
Selain memberikan kualitas pelayanan rasa, para penjual ikan pindang juga bersaing dalam memasarkan produknya. Misalnya Dayat, pedagang lainnya di sentra ikan pindang Buah Batu menggunakan strategi jemput bola dengan menawarkan langsung secara door to door ke rumah para pelanggannya.
Setiap Senin, Rabu dan Kamis, Dayat menjual ikan pindang produksinya dengan berkeliling ke perumahan warga di sekitar Cijaura dan Kiaracondong, Bandung. Sementara pada Selasa dan Jumat, Dayat menjual ikan pindang ke beberapa pasar malam, seperti di Cicaheum, Cidurian, dan sekitar Cijaura.
Strategi serupa dilakukan Danda Suganda, penjual ikan pindang di sentra ini. Ia justru mengolah sendiri bumbu racikan untuk ikan pindangnya. Danda mengaku, dalam sekali belanja bumbu, dia bisa merogoh kocek hingga sebesar Rp 750.000.
Untuk memasarkan produknya, Danda juga menjual ke beberapa perumahan warga di Rancabolang dan pasar Cicaheum. Strategi pemasaran dari mulut ke mulut juga dilakukan Danda.
Hasilnya, pelanggan Danda bukan hanya berasal dari kalangan warga perumahan, tapi juga sejumlah instansi pemerintah di Bandung. Sebut saja kantor kecamatan setempat, lembaga pemasyarakatan Sukamiskin (Lapas), kantor operator telekomunikasi, dan rumahsakit. “Kalau Lapas setiap Jumat pesan ikan 30 kilogram (kg), Telkom 40 kg, dan untuk acara pernikahan bisa 30 kg per pekan,” kata Danda.
Meski memiliki pelanggan loyal masing-masing, bukan berarti para perajin di sentra produksi ikan pindang Buah Batu tak mengalami musim sepi. Biasanya, musim ini terjadi justru menjelang hari raya seperti Lebaran. Untuk menyiasati musim sepi penjualan, kata Danda, dia lebih memilih stop produksi.
Untuk menggenjot penjualan, Danda berencana memproduksi berbagai jenis ikan pindang. Selama ini, ia hanya memproduksi ikan pindang jenis nila dan bandeng putih jika ada pesanan. "Sekarang saya menunggu, kalau yang pesan banyak, baru saya jual ikan pindang jenis lain,” katanya.
(Selesai)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News