kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Dinamisnya usaha mainan edukatif


Selasa, 21 September 2010 / 10:14 WIB
Dinamisnya usaha mainan edukatif


Reporter: Hendra Gunawan, Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Tri Adi

Perkembangan zaman menuntut orangtua memberikan pendidikan terbaik buat anak-anaknya. Melalui berbagai lembaga pendidikan, anak dibimbing jadi cerdas dan kreatif. Nah, produsen mainan anak edukatif turut berperan penting dalam proses pendidikan tersebut.

Zaman yang semakin maju menuntut orangtua membekali anak-anaknya dengan pengetahuan dan pendidikan sejak anak berusia dini. Hal ini membuat bisnis pendidikan, khususnya di level Taman Kanak-Kanak (TK) dan playgroup atau taman bermain terus tumbuh.

Bermunculannya sekolah TK dan playgroup baru tersebut ikut mendorong pertumbuhan bisnis mainan bagi anak. Terutama mainan yang bersifat edukatif. Peningkatan permintaan itu diakui para produsen mainan edukatif, seperti Susanto Pratomo, pemilik Enggal Toys di Klaten, Jawa Tengah.

Ia mengatakan, setiap tahun industri mainan edukatif mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Bahkan, penjualan perusahaan miliknya, Enggal Toys, tahun ini mengalami pertumbuhan hingga 30% dibandingkan dengan tahun lalu.

Lelaki yang sudah menekuni usaha ini sejak empat tahun lalu ini mengaku bisa menjual hingga 3.000 unit mainan setiap bulan. Dari penjualan sebanyak itu, Susanto meraup omzet sekitar Rp 60 juta.

Meski peluang bisnis mainan edukatif cukup menggiurkan, tantangan usahanya pun besar. Maklum, para produsen dituntut selalu mengembangkan jenis mainan edukatif buatannya. Pasalnya, setiap tahun kurikulum pendidikan terus berubah dan mengalami peningkatan. "Kami harus mengikuti perkembangan tersebut," katanya.

Produsen mainan edukatif juga harus terus berinovasi agar mainan edukatif buatabn mereka lebih memudahkan anak dalam mencerna dan memicu kreativitas anak. "Biasanya saya menerima masukan dari agen penjual dan sekolah-sekolah, mainan apa yang sedang dimaui," kata Susanto.

Misalnya untuk jenis puzzle. Jika sebelumnya puzzle hanya diberi satu warna, kini dalam satu puzzle bisa dibubuhi lebih dari tiga warna. Selain memudahkan anak merangkai puzzle, itu juga untuk meningkatkan pengetahuan warna pada anak.

Begitu pula dengan permainan geometri yang berbentuk kotak, segitiga, lingkaran, dan prisma. Dengan mengabungkannya menjadi sebuah rangkaian berbentuk kereta api atau bentuk lainnya, si anak diharapkan lebih mengenal beragam benda sejak dini, dan yang tak kalah penting agar anak-anak tidak cepat bosan memainkannya. Setiap anak diajak memilah-milah bentuk geometri berdasarkan urutan gerbong -kereta. "Intinya, setiap mainan yang diproduksi bertujuan agar si anak bisa bermain sambil belajar," ujar Susanto.

Pria kelahiran tahun 1975 ini sudah memproduksi sekitar 200 jenis alat peraga edukatif. Ia mengaku tidak akan meniru produk mainan karya orang lain. Namun, jika memang ada permintaan mainan dengan jenis yang sama, Susanto akan memodifikasi produk tersebut. "Kami tidak mau meniru orang. Tapi kalau gambar itu tidak tahu asal usulnya, akan kami variasikan," katanya.

Kenaikan omzet juga dirasakan CV Omocha di Bogor, Jawa Barat. Menurut pemiliknya, Wahyuni, selain untuk meningkatkan daya kreativitas anak, inovasi produk baru mainannya juga bertujuan agar anak-anak tidak lekas bosan.

Ia menambahkan, sebelum memproduksi secara massal, terlebih dahulu dia akan membuat beragam mainan hasil inovasi baru dengan jumlah terbatas. "Awalnya saya memproduksi sekitar 30 set. Kalau minat anak-anak hasilnya bagus, maka akan terus diproduksi," tuturnya.

Jika respon kurang bagus produksi akan dihentikan. Tapi itu bukan berarti tidak akan diproduksi sama sekali di kemudian hari. Sebab, kadang-kadang ada juga konsumen yang mencari produk tersebut.

Saat ini jenis mainan yang paling banyak diminati pasar adalah mainan puzzle dalam berbagai bentuka dan warna. Mulai dari yang berbentuk buah, binatang, angka, simbol, huruf hingga yang berbentuk jam.

Membludaknya peminat mainan puzzle seiring banyaknya pesanaan dari sekolah-sekolah. Tak hanya itu, biasanya orangtua juga membeli mainan ini untuk diberikan kepada anaknya sebagai hadiah.

Wahyuni, menjual puzzle produksi Omocha dengan harga satuan mulai dari Rp 30.00 hingga Rp 35.000 per set. Karena paling digemari, Wahyuni bisa memproduksi berbagai macam mainan jenis puzzle antara 1.000 hingga 1.500 unit setiap minggunya.

Tawaran laba yang manis dari bisnis mainan edukatif ini menyedot pemain-pemain baru untuk ikut mencicipi.

Misalnya, yang dilakukan Fredi Yudiantoro. Pemilik UD Freny Ape Productions di Bandung ini mengaku baru satu tahun menjadi produsen mainan edukatif. Meski terbilang pemain baru, omzet yang dia raup tidak kalah banyak dibandingkan dengan para pemain yang sudah lama eksia di bisnis ini.

Lonjakan permintaan terutama dirasakan Fredi saat pergantian tahun ajaran di bulan Juni-Juli. Di bulan-bulan ketika anak mulai memasuki tahun ajaran baru itu, dia sukses meraup omzet hingga Rp 30 juta. "Di bulan itu biasanya sekolah membutuhkan alat peraga baru untuk siswa baru," katanya.

Selain memenuhi kebutuhan alat peraga baru dengan jenis baru, pesanan juga untuk mengganti mainan lama yang sudah rusak ataupun yang dibawa pulang oleh para siswa. "Jadi ada sekolah yang ingin melengkapi mainannya, ada juga yang untuk mengganti mainan lama," imbuhnya.

Saat ini, Fredi memasarkan produk mainan buatannya ke sejumlah kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×