Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Markus Sumartomjon
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah meningkatnya minat terhadap produk fesyen bernilai budaya, Karatungga hadir sebagai jenama batik tulis peranakan Indonesia. Label ini dirintis oleh Puteri Widia, yang merupakan pendiri sekaligus direktur kreatif Karatungga.
Puteri menjelaskan, Karatungga mengeksplorasi batik tulis peranakan, yakni batik hasil pertemuan lintas budaya yang memadukan pengaruh Jepang, China dan Belanda.
Melalui palet warna pastel dan pendekatan desain yang lebih modern, Karatungga berupaya menghidupkan kembali warisan batik peranakan agar relevan bagi generasi muda.
Padahal Karatungga tidak lahir dari latar belakang industri fesyen. Selama hampir 10 tahun, Puteri berkarier sebagai awak kabin di maskapai penerbangan AirAsia.
Namun di balik rutinitas terbang, ia kerap merasa miris melihat bagaimana produk fesyen bermerek luar negeri mendapat apresiasi tinggi, sementara batik tulis kerap dipandang sebelah mata.
Baca Juga: Mengayam Tradisi Jadi Kreasi Bambu Bernilai Tinggi
Ketertarikan pada sejarah yang telah tumbuh sejak kecil mendorong Puteri untuk menggali lebih dalam dunia batik. Ia mulai belajar secara informal, sambil tetap bekerja sebagai awak kabin.
Pada periode 2014-2015, Puteri sempat merintis usaha batik. Namun karena fokusnya terbagi, upaya itu belum membuahkan hasil.
Momentum perubahan datang pada 2021, setelah Puteri menikah dan berhenti terbang. Dari situ, ia kembali menekuni riset batik secara serius, menyusuri sentra-sentra batik di Yogyakarta, Solo, Lasem, Cirebon, Pekalongan, hingga akhirnya menjalin kolaborasi dengan pengrajin batik tulis di Pekalongan.
Baca Juga: Rasa Cinta Berbuah Menjadi Cuan
Karatungga resmi berjalan sekitar tiga setengah tahun lalu. Pada fase awal, merek ini bekerja sama dengan pengrajin untuk mengembangkan motif dan warna yang lebih spesifik.
Seiring pertumbuhan bisnis, Karatungga kini telah memiliki dapur produksi sendiri, yang melibatkan ibu-ibu pembatik dan bapak-bapak pewarna khusus untuk Karatungga.
Alhasil, dalam tiga tahun terakhir, Karatungga mencatat pertumbuhan yang signifikan. Puteri menyebut, brand ini telah menembus pasar nasional hingga regional. Seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Thailand, hingga Eropa seperti Italia dan Jerman.
Baca Juga: Merancang Fulus dari Fesyen Batik Modern
Untuk terus menjaga pasarnya, Karatungga punya dua titik penjualan dengan sistem konsinyasi. Lokasinya di Alun-Alun Indonesia, Grand Indonesia, serta Sarinah, Thamrin.
Kerja keras Puteri pun membuahkan hasil. Dari sisi kinerja, Karatungga membukukan omzet bulanan di kisaran Rp 200 juta hingga Rp 400 juta, dengan rata-rata sekitar Rp 250 juta per bulan. Sepanjang 2025 saja, total omzet perusahaan sudah mencapai Rp 2,5 miliar.
Melihat hasil itu, Puteri optimistis peluang pasar masih terbuka lebar bagi Karantungga. Apalagi konsumen saat ini semakin menghargai karya fesyen yang punyai nilai.
Selanjutnya: Promo HokBen dan Yup Januari, Nikmati Menu Baru Irodori Platter Cuma Rp 9.000
Menarik Dibaca: Ramalan 12 Zodiak Keuangan dan Karier Hari Ini Sabtu 10 Januari 2026, Cek Yuk
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













