kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Fulus dari Inovasi dan Pemberian Label


Sabtu, 04 Juli 2026 / 07:05 WIB
Fulus dari Inovasi dan Pemberian Label
ILUSTRASI. Produk kerajinan Wasana Bali (Dok/Wasana Bali)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inovasi menjadi salah satu langkah untuk bisa melanjutkan usaha. Inilah yang Putu Evan lakoni saat meneruskan warisan usaha keluarga berupa produk kerajinan ukiran di Gianyar, Bali.

Langkah tersebut harus Putu Evan lakukan setelah melihat para perajin di tempat tinggalnya di daerah Gianyar semakin berkurang. Ini setelah ada larangan penggunaan gading untuk bahan produk ukiran serta hantaman pandemi.

Sebagai generasi ketiga di usaha keluarganya, dia mencari cara agar warisan keluarga ini tetap bertahan. Selepas kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, ia  pun kembali ke kampung halaman pada 2020.

Baca Juga: Ubah Kebutuhan Berpakaian Jadi Cuan

Putu Evan langsung mengubah cara kerja produksi usaha kerajinan ukiran keluarganya. Jika sebelumnya produk ukiran termasuk yang lainnya banyak menerima order tanpa merek, sekarang ia langsung membuat kerajinan ini dengan mencantumkan label Wasana Bali. 

"Ini untuk bisa menghasilkan value (nilai tambah) lebih," tuturnya kepada KONTAN, Jumat (3/7).

Langkah krusial lainnya, dia langsung mencari bahan baku pengganti gading untuk produk ukiran. Pilihannya jatuh ke tulang sapi dan kerbau.

Baca Juga: Cuan nan Renyah dari Aneka Camilan dan Abon

Kedua material ini memiliki tingkat kekerasan yang cukup baik, sehingga tetap bisa diukir layaknya gading. Cara ini sekaligus memanfaatkan limbah yang selama ini kurang memiliki nilai ekonomi.

Sedangkan untuk tenaga kerja, Putu Evan memanfaatkan para perajin ukiran di sekitar tempat tinggalnya. Untuk bisa menyamakan tahapan produksi, dia melakukan workshop hingga akhirnya Wasana Bali mulai berproduksi secara perdana pada 2024 lalu.

Baca Juga: Fulus Legit dari Usaha Gula Aren Cair

Untuk tahap awal, Putu Evan membuat gelang dari tulang sapi dan kerbau. Produk ini, ia menilai, lebih simpel pembuatannya sehingga bisa melibatkan banyak perajin.

Dari sinilah, ia memperkuat identitas Wasana Bali sebagai produk fesyen berkonsep ramah lingkungan.

Limbah tulang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, dia olah menjadi gelang dengan sentuhan desain minimalis serta dikemas menggunakan kemasan premium agar berbeda dari produk suvenir pada umumnya.

Tak lupa, Putu Evan kerap membawa contoh tulang yang sudah dibersihkan kala mengikuti pameran maupun pop up market. Tujuannya, untuk mengenalkan bahan baku Wasana Bali biar konsumen tidak ragu.

Baca Juga: Cuan Menjajakan Batik Khas Jakarta

Walhasil, kini produk Wasana Bali punya identitas.  Misalnya, gelang bermotif gunung diposisikan sebagai pengingat pengalaman mendaki. Sementara motif biota laut ditujukan bagi penyelam atau pencinta laut. 

Pelan namun pasti, produk Wasana Bali pun mulai dilirik konsumen.

Dengan mengandalkan gerai mitra di Bali serta pemasaran online, produk Wasana Bali bisa terbang ke mancanegara dan omzetnya kini melambung 80% dari awal usaha.

Putu Evan pun berencana menambah varian produknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×